"Kalau dikasih cobaan rugi kalau nggak dicobain."
-Anindya Nasywa Ayudisha-
🌺
Ada dari kalian yang mudik? Hati-hati di jalan ya❤️
Yang belum follow, mangga follow dulu sebelum lanjut baca:)
🌺
"Hooaaam...." Entah ini yang keberapa kali Cungkring menguap ketika duduk bersama Areksa di dekat kandang kambing sambil memperhatikan dua teknisi yang memasang CCTV di titik-titik yang telah ditentukan sebelumnya.
"Kopi yah mene cocok iki," [Kopi jam segini cocok nih,] keluh Cungkring sambil bersandar pada tiang kayu.
Areska yang duduk diatas karung isi rumput pun tertawa. "Cuci muka sana. Tapi airnya jangan meleset ke mulut."
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Memang jam-jam seperti ini adalah waktunya rasa mengantuk mulai datang. Jika mengikuti testimoni orang-orang puasa di tahun ini, cobaan paling berat di puasa kali ini adalah rasa kantuk yang jika telah tiba sulit ditepis. Areska sendiri pun mengakui jika beberapa waktu ia sempat tertidur di siang hari.
Cungkring beranjak mendekati kran air. Ia putar kran kecil yang memancarkan air uang cukup deras. Ia melakukan apa yang dikatakan oleh Areksa. Setelahnya, ia mengusap wajah basahnya dengan kaos dan merenggangkan badan ke kanan dan ke kiri sambil menguap.
"Aku tak niliki sapi waelah." [Aku mau ngecek sapi ajalah.] Cungkring menyerah untuk terus duduk diam. Yang ada ia nanti berakhir mengisi kursi panjang tempat istirahat sampai sore nanti.
Tak lama berselang dari kepergian Cungkring, muncullah suara gesekan sapu lidi yang beradu dengan lantai semen. Lonceng sapi pun berbunyi bersama dengan suara satu dua sapi yang melenguh karena menyadari kehadiran seseorang yang datang ke rumah mereka.
Areksa lantas membuka gawainya, ia bertanya pada Nindya apakah di rumah kerepotan dan dengan cepat perempuan itu menjawab tidak. Bahkan, perempuan itu tadi masih sempat-sempatnya mengirim foto selfie dengan kucing pemalas Aneska.
Sejujurnya Areksa terus kepikiran dengan kondisi Nindya yang ia letakkan di kandang ibunya seperti tadi. Takut-takut perempuan yang sudah mulai terbuka hatinya itu tiba-tiba menciut karena serangan dari ibunya yang tak kira-kira.
Padahal yang Areksa tidak tahu, Nindya kini sedang asyik menjadi juri masakan ibunya.
"Gimana, Nin?"
Bu Ningrum bertanya sembari terus memperhatikan raut wajah Nindya yang baru saja mencicipi kuah baceman ayamnya.
"Enak, Bu. Gurih."
"Beneran?" Bu Ningrum memastikan sekali lagi.
"Yakin deh, Bu." Nindya mengacungkan jempolnya.
"Dagingnya coba." Mangkok kecil berbahan plastik yang dipegang oleh Nindya lantas dipenuhi dengan satu potong ayam bagian paha atas.
"Duh, Bu. Ini bukan ngicipi namanya." Nindya sedikit memprotes pilihan Bu Ningrum.
"Udah, dicoba aja."
Nindya mencoba ayam itu dimulai dari kulit juga dagingnya. Ia tekan dan congkel daging itu hingga tampak bagian dalamnya yang telah menguning akibat kunyit yang termasuk dalam bumbu baceman.
"Enak, Bu. Bumbunya meresap kok ke dalam. Udah mateng juga."
Bu Ningrum bertepuk tangan kecil. Ia tampak senang melihat Nindya tak henti-hentinya memakan ayam masakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Roman d'amour[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)