Sumilir 22

43.5K 3.5K 123
                                        

"Jangan ada yang ketawa!"

-Anindya Nasywa Ayudisha-

🌺

Selamat Hari Jumat🥰

Gimana hari ini? Katanya hari kasih sayang atau malah mengasihani diri sendiri?

Areksa-Nindya nya libur dulu, ada yang lebih genting buat Nindya sekarang 🤣

🌺

Belum sempat berganti baju bahkan belum sempat untuk pulang ke rumah, Nindya langsung melajukan motornya dari kantor menuju warung mie ayam Farhan, tepatnya ia mengincar sebuah rumah di belakang rumah Farhan. Seharian ini Nindya tidak tenang dalam bekerja karena pagi tadi Farhan mengiriminya video saat kakek mereka mulai menebang pohon kersen di dekat kolam lele.

"Tongkrongan kuntimu di tegor! Kapok we ora iso pethangkringan meneh!"

Tawa Farhan di video itu begitu renyah sammpai Nindya yang baru bekerja pun keluar dari ruangan dan menelepon Farhan. Tapi itu semua sudah tidak ada gunanya, Kakek mereka telh menacapkan gigi gergajinya ke kulit pohon dan semua pun berakhir tinggal kenangan.

"KAKEK!"

Nindya melajukan motornya di samping rumah Farhan dan berhenti di halaman depan rumah Kakeknya. Helm pun masih terpasang rapi saat Nindya ke halaman samping tempat di mana ranting dan daun pohon kersen terongok tak berdaya dan mulai layu.

"Kok ditebang ta, Kek?!" Nindya merengek. Ia mendekat ke arah Kakeknya yang sedang bersantai di dekat kolam setelah memberi ikan-ikan peliharaannya makan sore.

Suara Nindya semakin menjadi saat ia mendapati begitu banyak buah kersen warna merah yang berserakan dan warna hijau yang masih melekat erat di batangnya. Mereka semua tidak memiliki kesempatan untuk bertumbuh.

"Sayang ta, Kek. Ini buanyak lho!" Nindya menunjuk semua bulatan kecil yang berserakan disekitar kakinya.

"Sesuk tak tandurke ceplukan," balas Kakek dengan tenang.

"Kok cuma ceplukan? Itu mah di sawah banyak," tolak Nindya.

"Kek, aku maunya talok!" Rengek perempuan yang masih mengenakan jaket, menggendong tas, memakai helm, dan mengenakan sepatu bersih itu. Nindya sedikit menghentak, tak peduli jika sepatunya akan terkena tanah.

"Kowe pengen talok?" [Kamu pengen kersen?]
Nindya mengangguk cepat.

Kakek pun berjalan ke teras. Ia membuka sebuah plastik buram di atas pagar terasnya dan membawa satu baskom berukuran besar yang hampir penuh dengan buah kersen yang berwarna oren hingga merah ranum.

"Ini..." Kakek mengangsurkan benda itu kepada cucunya.

"Kakek," Nindya mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Ah, pohon tempat dirinya, Dimas, dan Farhan adu skill memanjat kini sudah menjadi masa lalu.

"Lho kok malah nangis?" Kakek menyingkirkan tangan Nindya dari wajahnya.

"Nek kamu nggak pethangkringan tekan duwur, pohonnya nggak bakal tak pecok. La kamu, cewek kok ya tekan dhuwur. Ora elok ya, Nduk..." [Kalau kamu nggak naik sampai atas, pohonnya nggak akan Kakek tebang. Ya kamu, cewek kok ya naik sampai atas. Nggak baik ya, Nak...]

Nindya meraih baskom penuh kersen itu, ia dekap di antara perut dan dadanya. "Dulu nggak papa ta, Kek..." protesnya.

"Itu dulu ya, Nduk. Sekarang kamu wis gadis. Nggak pantes penekan."

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang