Sumilir 11

44.5K 3.5K 106
                                        

"Semua pilihan baik dalam menentukan arah hidup tidak ada yang salah selama pilihan tersebut dijalani dengan sungguh-sungguh."

-Areksa Mahendra-

🌾

Kalian wajib banyak komen reaksi kalian pas baca episode ini! Harus! Kudu! Wajib!

Apa? jangan lupa apa? Komennn reaksi!

🌾

Sejak awal toko dibuka pada jam setengah delapan pagi, Areksa telah sibuk mengawasi para pegawainya yang mulai membersihkan area gudang yang jarang tersentuh manusia. Pintu rolling yang terletak di ujung toko itu akhirnya dibuka setelah sekian lama selalu tertutup. Mulai dari Bayu, Cahyo, hingga Bapak pun turut membersihkan area tersebut sambil sesekali bergantian melayani pelanggan yang datang.

Sudut toko itu biasanya menjadi tempat menyimpan pupuk atau barang persediaan lain. Namun, karena sejak beberapa minggu lalu Areksa telah berniat menghabiskan persediaan itu, akhirnya barang yang menumpuk di tempat itu berkurang dan dapat ditata ulang.

Sampai pada saat tengah hari pun Areksa memilih menetap di toko karena setelah itu akan ada pakan ikan yang datang. Rupanya kemarin ada sedikit kendala dari tempat distributornya hingga tidak bisa mengantar barang-barang ke berbagai tempat.

Setelah sudut toko telah kembali rapi dan barang persediaan telah aman pada tempatnya, Areksa pun memilih menempati kursi kasir sembari mengecek segala aktivitas keuangan di tokonya. Pelanggan hari ini ramai, seperti biasanya. Kebutuhan pakan ternak, vitamin, dan lain sebagainya telah Areksa perhitungkan ketika akan membangun toko ini. Dengan melihat kehidupan sebagian besar warga desa yang tidak lepas dari bertani dan memelihara hewan membuatnya yakin tokonya akan berjalan.

Dahulu Areksa tentu tidak menyangka akan semaju ini tokonya. Awal tokonya buka belum di tempat yang sekarang. Di usianya yang ke 21 tahun, ia pernah menyewa sebuah ruko kecil di dekat pasar dan karena pelanggannya semakin ramai dan barang yang diperjualbelikan semakin membludak akhirnya Areksa memilih mengalah untuk membeli sebuah tanah dan membangun toko baru.

Dua belas tahun terakhir adalah tahun-tahun penuh liku bagi Areksa. Sejak lulus SMA ia memilih melanjutkan menjalankan gilingan keliling dan membajak sawah ketika masa panen telah berakhir. Hari-hari Areksa dilalui dengan tidak jauh-jauh dari kotor, entah itu lumpur sawah, debu penggilingan padi, atau kotoran lainnya. Semua usahanya akhirnya perlahan mulai maju setelah kakeknya meninggal dan menurunkan sebagian besar hartanya pada Bapak yang lantas diturunkan padanya.

Di usianya yang belum genap dua puluh tahun, ia mulai  mengembangbiakkan hewan ternak yang ia miliki beserta peninggalan kakeknya, membuka tempat penggilingan padi, dan lain sebagainya. Areksa mencoba mulai memutar uang dan aset yang ia miliki sampai akhirnya ia bisa menjalani hidup seperti sekarang. Setidaknya dengan segala usahanya, dengan kondisi kakinya yang membatasi ruang geraknya sekarang, ia tidak menjadi pengangguran dan tetap bisa memperkerjakan orang-orang disekitarnya.

Areksa dengan suka hati menerima perkataan orang yang menyebutnya bukan perintis melainkan hanya seorang pewaris yang kebetulan mendapat modal. Namun, ia yakin semua modal itu tidak akan bisa bermanfaat jika ia sejak kecil tidak pernah membantu Bapak dan kakeknya mengurus sawah. Masa kecilnya dulu sangat liar. Sepulang sekolah SD ia hanya mampir ganti baju dan makan siang di rumah lalu pergi ke sawah atau ke mana saja dengan sepeda jengki yang di setiap kayuhannya selalu berderit meski telah ia tuangi oli bekas sebanyak mungkin.

Areksa kecil selalu pulang sebelum magrib atau bahkan saat adzan maghrib telah selesai berkumandang. Baju Areksa tidak pernah bersih dari keringat atau noda lainnya. Kulitnya pun menggelap karena terlalu lama terpapar matahari. Entah apa saja yang ia kerjakan selama setengah hari itu.

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang