"Nggak pernah ngerasa sehina ini sama perempuan."
-Areksa Mahendra-
🌾
Selamat Hari Senin!
3000 kata cukup kan buat balas kesabaran kalian nunggu cerita ini?
Aku lihat cerita ini juga makin rame, jadi selamat datang pembaca baru!
Semoga kalian betah baca sampai akhir ya...
🌾
Lancang
Satu kata yang terus ia renungi dari sore tadi hingga malam ini adalah sikapnya terhadap anak perempuan Pak Bambang. Areksa sendiri pun terkejut dengan apa yang ia lakukan. Tangannya terulur ke arah bawah dagu Nindya dengan sendirinya. Ia merasa tidak pernah sebejat itu dalam memperlakukan seorang perempuan seumur hidupnya.
Areksa terus teringat bagaimana merah pipi perempuan itu. Juga suara kecil yang mengungkapkan perasaannya dengan polos tanpa perlu menahan diri. Areksa benar-benar telah membuat seorang perempuan merasa malu karena tindakannya. Areksa memang berniat mencoba mendekati Nindya seperti wejangan adiknya tempo hari tapi rasanya ada yang salah.
Tapi, ia hanya melepas kaitan helm. Benar kan? Mengapa ia menjadi sangat bersalah hanya dengan perihal kaitan helm yang mungkin sudah berkarat itu? Apa ini karena sentuhan ujung jarinya pada dagu perempuan itu? Atau punggung tangannya yang sedikit menyapu kulit halus leher Nindya?
Areksa berguling ke kiri. Ia menjaga kaki kirinya tetap lurus sementara kaki kanannya ia tarik ke depan. Tangan kanannya menggenggam, saling menggesek jemarinya sendiri untuk melupakan bagian mana dari jarinya yang bersentuhan dengan kulit Nindya.
Mari mengingat. Tadi Areksa menyusul Kang Sabar keluar dikarenakan oleh kepalanya yang terus berpikir tentang tindakannya sebelumnya. Pria yang bahkan tahun ini akan melewati umur tiga puluh itu tiba-tiba bingung dengan dirinya sendiri. Ia bingung harus berbuat apa ketika di mobil hanya ada dirinya dengan Nindya. Masihkah Nindya malu terhadap dirinya? Atau Nindya menjadi tidak nyaman berdua dengannya?
Ia keluar mobil dan mendekati si pemilik bengkel, beramah tamah singkat sembari Kang Sabar yang menceritakan keluhan dan kronologi motor mati itu.
Bakso tusuk adalah hasil dari kerja cepat otaknya. Setelah ia membuat Nindya malu, ia pun merasa perlu mengakui kesalahannya. Oleh karena itu, ia membeli dua bungkus untuk Nindya dan adiknya.
Ah, perihal kaitan helm itu, apa mungkin itu karena dia yang selalu bersama Aneska setiap saat? Setiap adiknya kesulitan berbuat sesuatu, Aneska selalu meminta tolong padanya. Mungkin kebiasaan itulah yang terbawa dalam diri Areksa.
Areksa kembali berguling, merubah posisinya menjadi telentang kembali.
"Kenapa tak suruh mepet aku? Jane nek kegaduk perseneling ya kui dengkule dewe," [.. Sebenarnya kalau terbentur perseneling ya itu lututnya sendiri,] gumam Areksa. Ia mengakui, tingkahnya sore tadi tidak wajar, tidak bermoral, dan jika ibunya mengetahui hal ini, mungkin jakunnya telah tercubit oleh spatula kayu. Cungkring yang pernah duduk di antara dirinya dan Kang Sabar pun tak pernah ia suruh bergeser.
Ia sudah lama tidak bermain perempuan. Eh, bergaul dengan perempuan maksudnya. Sejauh yang Areksa ingat. Ia jarang sekali berkontak fisik dengan pacarnya dulu. Masa pacarannya bertahun-tahun yang lalu hanya sebatas makan di meja yang sama, berbagi makanan dan minuman bersama, mengantar pacarnya membeli sesuatu, dan membelikan sesuatu. Masalah kaitan helm, Areksa tidak pernah membukakan milik pacarnya karena pacar dulu bisa membukanya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)