"Yang jauh, ya."
-Anindya Nasywa Ayudisha-
🌺
Kemarin pas aku lagi stuck mau nulis apa, aku sempat baca-baca lagi bab sebelumnya dan juga komentar kalian. Aku sadar ada banyak detail kecil yang kurang sinkron atau malah nggak aku cantumkan sebelumnya. Mungkin kalian yang ngikutin aku dari awal juga sama lupanya kayak aku karena emang cerita ini lelet updatenya 🥲
Aku sangat berterima kasih sama pembaca yang ngeh sama kekurangan itu. insyaallah nanti kalau ada niat dan waktu akan aku revisi. Sama aku kayak ngerasa karakter Areksa semakin melemah akhir-akhir ini. Jadi, otak aku sekarang lagi muter terus gimana caranya nguatin kharisma si Mamas lagi. Untungnya pecicilannya Nindya masih sama jadi itu nggak terlalu aku pikirin.☺️
Selain itu kalau kalian udah nggak sabar sama momen Areksa- Nindya sah, aku JUGA SAMA NGGAK SABARNYA!!! Tapi kita pelan-pelan jalan ke situ ya, kalau ujug-ujug nikah kasihan Nindya tratapan 🤣
Aku juga bakal siapin banyak momen (yg semoga) seru di after sah mereka di sini. Aku juga berharap cerita ini bakal ada fisiknya dengan versi jauh lebih baik lagi.
Dah, gitu aja. Takut malah spoiler banyak-banyak.
Intinya kita seneng-seneng di lapak ini ya 💚💚
🌺
Bab ini mengandung sedikit unsur budaya hajatan jawa. Setiap daerah memiliki versinya masing-masing dan yang aku tulis di bawah adalah sependek pengetahuan saat mengamati acara hajatan di sekitarku.
🌺
Sejak Jumat kemarin Nindya tiba-tiba bisa menjadi apa saja. Pagi hingga sore di Hari Jumat perempuan itu menjadi karyawan seperti biasanya. Pulang dari kantor Nindya hanya pulang ke rumah untuk mandi. Setelah itu, Nindya langsung pergi ke rumah Farhan untuk membantu hajatan sepupunya itu. Di rumah Farhan itulah Nindya bisa menjadi tukang masak, tukang packing, tukang ojek yang mengantar emak-emak ke pasar, menjadi kuli belanjaan, menjadi pelayan, menjadi penganyam janur, dan menjadi penerima tamu sumbangan.
Semua huru-hara, wara-wiri, dan pontang-panting sudah Nindya jalani dengan penuh keikhlasan dan ketulusan sampai Sabtu sore ini. Nindya berniat melakukan ini semua sebagai bentuk rasa bahagianya dengan pernikahan Farhan. Hanya saja senyum paksa Nindya mulai muncul saat tamu sumbangan yang berdatangan turut membawa dirinya ke percakapan basa-basi mereka.
"Ini Nindya ya?"
"Dari kapan di rumah?"
"Sekarang kerja dimana?"
"Eh, ini anaknya Pak Bambang yang sulung ya?"
Oke, kalau seperti ini masih Nindya terima.
"Ini Nindya yang calon mantunya Bu Ningrum itu ta?"
"Udah lamaran belum?"
"Nyusul ya habis ini?"
"Kamu lho, udah sering tak lihat sama Areksa."
"Ini calon manten selanjutnya ya?"
"Ini yang diceritain Bu Ningrum itu ta?"
"Mbak Nindya, dari kapan sama Mas Areksa?"
"Mau Syawal atau Besar nih?"
Hei? Bentarlah dulu! Ini hajatan Farhan, nggak usah bawa-bawa namanya. Namun, lain di mulut lain di hati. Ia tidak mungkin menyangkalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)