Dalam derasnya air hujan yang jatuh tanpa jeda, Arsen berteriak histeris saat mendatangi tempat kejadian perkara, dimana kecelakaan itu terjadi. Orangtuanya dinyatakan meninggal dunia tanpa sempat dilarikan ke rumah sakit. Dunia seakan membawanya masuk ke dalam lubang kehancuran hidup. Melihat bagian mobil yang hampir hancur setengahnya, menambah kepiluan yang Arsen rasa.
"Siapa yang nabrak mobil Papa?" tanya Arsen pada salah satu polisi yang ada di sana. Polisi juga merupakan teman sekolah Arsen.
"Rekan kerja Papamu, Sen. Pak Abraham," jawab Gino.
"Anjing!" kesal Arsen, "Kok bisa?"
"Belum tahu gimana kejadian sebenarnya. Tapi, kalau dari CCTV, sepertinya Pak Abraham mengantuk saat mengendarai mobilnya. Terlihat laju mobil yang tidak stabil dan akhirnya menabrak mobil Papa lo yang posisinya ada di depan," jelas Gino, membuat Arsen semakin geram dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Sekarang dia dimana?" Arsen bertanya.
"Udah dibawa ke rumah sakit. Saat dievakuasi, beliau dan istrinya juga nggak sadarkan diri."
"Masih hidup?"
"Denyut nadinya masih terasa, makanya tim medis langsung bawa ke rumah sakit terdekat."
Arsen teringat bagaiman ribut besar antara Abraham dan Juanda kala itu. Persaingan bisnis yang dimenangkan oleh Juanda, membuat Abraham tak terima. Namun, entah apa yang membuat kedua kembali berteman seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Arsen menduga, kecekalaan ini bagian dari rencana Abraham untuk menghancurkan keluarganya.
"Lo dan keluaga lo akan hancur setelah ini, Abraham!" batin Arsen dengan penuh rasa dendam.
"Sen," panggil Gino.
"Aman, No."
Gino menepuk pundak Arsen, "Turut berduka cita. Gue tau lo kuat."
Arsen mengangguk, "Gue memang harus lebih kuat setelah ini."
Beberapa waktu berlalu....
"Kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, asal anak perempuan kalian menikah dengan saya," pinta Arsen sebagai syarat pembebasan Abraham dari kasus tabrakan yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal dunia.
"Salira bahkan nggak mengenal kamu, Nak Arsen," ucap Sinta.
"Terserah, sih. Ini kasus besar, loh. Tabrakan yang menyebabkan kematian orangtua saya. Saya cuma minta putri kalian untuk nemenin kehidupan saya yang udah nggak punya orangtua lagi," jelas Arsen dengan sorot mata yang serius.
"Baik. Saya akan tanyakan kepada putri saya," balas Abraham dengan penuh keyakinan.
"Papa," tegur Sinta.
"Papa nggak mau dipenjara, Ma." Abraham berbisik.
"Tapi ini karena kelalaian Papa. Mama nggak mau Salira yang harus menanggung semua ini," sanggah Sinta yang tidak terima kalau putri kesayangannya harus menikah dengan laki-laki yang tidak Salira kenal sebelumnya.
Arsen bangkit dari duduknya, "Saya nggak punya banyak waktu, Om, Tante. Saya akan menyelesaikan semua kasus ini dengan syarat, Salira menikah dengan saya dalam waktu dekat."
"Kenapa harus anak kami, Arsen?" Sinta bertanya.
"Saya hanya butuh pendamping hidup. Lagian, saya nggak kekurangan dalam hal materi. Perusahaan Papa masih berjalan, rumah sudah ada dengan fasilitas yang lengkap. Anak perempuan kalian nggak akan hidup dalam kesusahan, kan?"
