11

3.1K 237 43
                                        

Diantara ribuan partikel kehidupan, ada banyak hal yang manusia tidak dapat menduga dari mana kehadirannya. Seperti yang Salira rasakan saat ini, ia tidak pernah menyangka bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu tanpa suami. Bayangan berada di dalam pernikahan utuh dan harmonis, ternyata hanya sekadar angan yang tidak akan bisa jadi kenyataan.

"Perasaan baru kemarin aku jatuh naik sepeda dan Papa panik banget sampai nangis. Sekarang, aku bikin Papa nangis lagi karena anaknya gagal dalam pernikahan," ungkap Salira yang saat ini berada di kamar bersama Cessy.

"Arsen sering mukul, Ra?" Cessy bertanya dengan hati-hati.

Salira diam, tidak memberi jawaban. Pandangannya luru kedepan membuat Cessy bersuara kembali,

"Kalau pertanyaan aku bikin ketakutan kamu muncul lagi, nggak apa-apa jangan di jawab."

Salira merapatkan matanya, "Setiap hari, Kak. Nggak cuma mukul, dia juga seret dan nendang aku. Ada yang lebih sakit, tapi kayaknya aku belum sanggup cerita."

Cessy mengangguk paham, "Nggak apa-apa. Kamu mau ngobrol sama aku aja, udah cukup."

Salira menoleh, "Kak," panggilnya.

"Iya, Ra?" sahut Cessy.

"Aku cuma mau hidup aman sama calon anakku. Aku mau di kamar ini aja, nggak mau pergi kemana-mana."

"Ra, dunia ini sangat luas untuk bisa kamu nikmati. Perasaan takut kamu itu hal yang wajar, karena setiap luka di dalam diri manusia, pasti akan menimbulkan trauma. Aku mau bilang kalau ada banyak hal baik yang menanti kamu di luar sana," jelas Cessy dengan tutur kata yang ia pilah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

"Hal baik apa, Kak? Aku dijodohin sama orang yang aku nggak kenal. Aku nikah padahal baru aja lulus kuliah. Aku disiksa dan diancam sama suami sendiri, tapi tetap bertahan demi keselamatan Mama dan Papa,"

Salira menghentikan kalimatnya. Dadanya sesak sekali mengungkapkan hal tersebut. Air matanya terus turun dengan bebas.

"Aku bawa buku diary yang masih kosong. Kamu boleh ungkapin apa aja di sini untuk melegakan hati kamu. Kadang, manusia sulit mengungkapkan secara lisan, maka tulisan menjadi satu-satunya pilihan." 

Cessy menyodorkan buku dengan sampul berwarna merah muda dengan tulisan "Life is all about moments". Salira menerima buku itu dengan senang hati. Saat masih sekolah, Salira memang sangat suka menulis kegiatan sehari-hari yang ia lakukan.

"Aku akan balik ke sini dua hari lagi. Kamu silakan tulis apa pun di situ, ya? Aku nggak akan baca, kok. Anggap buku itu sebagai teman yang kamu percaya untuk bercerita."

"Kak, maafin aku, ya? Aku pernah bentak kamu," ucap Salira dengan tulus.

"It's ok, dear. Bukan salah kamu, karena itu merupakan reaksi alami dari tubuh kamu. Aku sudah menangani banyak orang, Ra. Sudah menjadi hal biasa yang aku temui. Jadi, kamu jangan merasa bersalah."

Kalimat baik yang Cessy lontarkan mampu meluluhkan ketakutan Salira yang kini sudah memeluk perempuan itu. Pelukan Salira dan Cessy ternyata masih sama hangatnya. Sebagai anak tunggal, Salira sangat membutuhkan sosok saudara untuk tempat bercerita dan bermain bersama. Cessy hadir kala itu, sebagai peneman sepi yang kemudian mereka harus berpisah karena orang tua Cessy yang harus pindah ke pulau Sumatera.

"Aku kangen banget sama Kak Eci," ucap Salira.

"Aku juga kangen sama Caliya yang ceria," balas Cessy seraya menyisir lembut surai hitam milik Salira dengan jarinya.

***

Vira
Halo sayangku, I miss u!!
Maaf aku baru sempat baca pesan kamu
Sal, aku baik baik aja di sini. Kamu gimana?

NIRMALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang