15

2.2K 173 34
                                        

Jam dinding berdetak nyaring di bawah keheningan yang mencekik. Ruang tamu, yang biasanya menjadi pusat kehangatan keluarga, kini terasa hampa. Kata-kata pedas terlontar dari mulut Abraham seperti anak panah yang siap melukai. Abraham menatap Salira dengan tatapan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Mata Salira sudah berkaca-kaca sejak ia disambut dengan kalimat tak mengenakan dari sosok yang ia nobatkan sebagai cinta pertama, "Pa, Selama ini Mas Arsen melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Lira dipukul, dikurung di kamar mandi dengan tangan yang diikat, ditendang, bahkan tangan Lira dibakar, Pa."

"Papa mengenal Arsen, dia tidak mungkin melakukan hal itu. Kamu jangan mengarang cerita," ujar Abraham tak percaya dengan anak perempuannya.

"Jangan-jangan uang yang selama ini kamu minta ke Papa, buat selingkuh sama laki-laki itu?" tanya Abraham mengintimidasi.

Tangan Salira digenggam erat oleh Sinta. Sudah tidak ada Lian di sana, karena laki-laki itu diusir oleh Abraham. Wajah Sinta merah padam, "Cukup, Pa! Cukup menuduh anakku seperti itu. Semua ini salah kamu dari awal. Harusnya kamu yang bertanggung jawab, tapi malah mengorbankan anakku untuk menikah dengan laki-laki itu!" ucapan Sinta penuh penekanan disetiap kata.

"Berhenti menyalahkan aku, Ma. Kamu juga pada akhirnya menyetujui pernikahan mereka!" balas Abraham tak mau kalah.

Salira menarik napasnya dalam-dalam, "Pa, Perempuan yang meninggal itu, salah satunya hamil anak Mas Arsen."

Mendengar ungkapan Salira, Abraham bangkit dari duduknya. Telunjuknya mengarah ke perut Salira, "Lalu yang diperut kamu anak siapa? Anak laki-laki yang bersama kamu tadi?" tuduh Abraham.

Salira melepaskan genggaman Sinta, lalu berdiri, "Mas Lian justru yang menyelamatkan Lira dari kekejamkan Mas Arsen, Pa. Lira nggak cuma disiksa secara fisik, tapi batin juga. Lira bahkan dijual demi uang jutaan yang Mas Arsen inginkan." Air mata Salira mengucur deras.

"Mas Arsen itu pemain judi, Pa. Dia itu laki-laki brengsek!" lanjutnya dengan nada bicara yang sedikit meninggi.

Satu tamparan mendarat pada pipi Salira, "Suami kamu koma di rumah sakit, Lira. Harusnya kamu ada di sana dan berdoa untuk kesembuhan dia. Bukan malah mengarang cerita seperti ini, Biar apa? Biar kamu bisa bebas sama laki-laki itu?"

"Abraham!" teriak Sinta, ia menarik Salira untuk mundur selangkah, "Lira anak kita, Abraham. Kamu lihat," Sinta menunjuk Salira yang kini menunduk dengan tangis yang semakin deras seraya memegang pipinya yang untuk pertama kali mendapatkan perlakuan dari sang Papa.

"Lihat!" Sinta mencengkram lengan Abraham, "Anak perempuan yang punya banyak cita-cita dan harapan, harus dia kubur demi menyelamatkan Papanya agar tidak mendekam dibalik jeruji besi. Anak perempuan yang selalu kamu lindungi dari kecil, yang selalu kamu takutkan kalau dia terluka. Sekarang, justru kamu yang melukainya, Abraham..."

Salira terduduk pada sofa, ia tidak berani untuk menyuarakan apa pun lagi. Perutnya terasa keram dan semaksimal mungkin Salira menenangkan dirinya sendiri sembari bermonolog dalam hati,

"Anak Mama, maaf, ya, kalau kamu harus tumbuh dengan mendengar keributan hampir setiap hari. Maafin Mama belum bisa melakukan yang terbaik." Usapan lembut ia berikan, "Tolong jadi kuat untuk Mama."

Abraham menatap telapak tangannya yang bergetar. Tangan yang tidak pernah menyentuh Salira dengan kasar serta lisan yang tak pernah meninggi saat berbicara, hari ini meluap tanpa rencana. Memandang anaknya yang terduduk lemas, Abraham ingin mendekat, namun Sinta menahan langkahnya.

"Jangan mendekat ke anakku kalau kamu mau nyakitin dia lagi. Cukup, Pa. Cukup." Sinta meraung sembari menundukkan kepala.

"Mana buktinya kalau Arsen melakukan semua itu?" suara Abraham lagi-lagi membuat hati Salira tertusuk.

NIRMALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang