"Salira!" teriak Lian yang langsung berlari menghampiri perempuan itu.
Terlihat mata Salira menunduk ke samping dengan mata yang terpejam. Lian menarik perempuan itu untuk ia rangkul, lalu berbicara pada seseorang yang datang.
"Paket?" tanya Lian.
Seorang kurir itu mengangguk, "Iya, ini paket ibu."
"Udah dibayar, kan?"
"Sudah."
"Terima kasih," kata Lian.
Kurir paket itu bersuara lagi, "Maaf, Pak, saya bikin kaget istrinya sampai numpahin kopi."
Lian melempar senyuman, "Dia emang kagetan orangnya, nggak apa-apa."
Setelah kurir itu pergi, barulah Salira berani membuka mata. Menatap Lian,
"Beneran kurir?" tanyanya dengan raut wajah yang masih panik.
Usapan tangan Lian pada bahunya terasa menenangkan, "Kamu kangen banget sama Arsen, ya?"
"Mirip banget sama Mas Arsen, tau!"
"Apa dia nyamar jadi kurir, ya?" sambung Salira mengutarakan pemikiran khawatirnya.
Lian membawa Salira masuk ke dalam rumah, "Itu emang kurir yang biasa anterin paket ke sini. Kamu kalau mau ketemu Arsen, bilang."
Salira mencubit perut Lian, "Nggak ada yang kangen," geramnya.
"Kamu duduk aja, aku mau bersihin yang di depan."
"Aku yang numpahin, bikin pecah cangkir dan piringnya. Biarin aku yang bersihin," utas Salira.
Segera Lian menekan bahu Salira agar perempuan itu duduk di sofa, "Diem di sini atau aku cium?"
"Cium."
Mata Lian terbuka lebar, "Sal?"
Salira menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, lalu menggeleng, "Nggak. Bercanda."
Dengan jahilnya, Lian menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Salira. Dahi mereka bertemu seiring dengan deruan napas yang menyapa permukaan wajah Salira. Perempuan itu memejamkan matanya dengan telapak tangan yang masih setia melindungi mulutnya.
"Jangan mancing kalau nggak mau dihap!" ancam Lian.
Salira mengangguk dan hal itu membuat Lian merasa bahwa semakin hari, kekasihnya itu semakin menggemaskan.
"Buka matanya, jangan merem terus."
Mata Salira terbuka dengan hembusan napas lega, "Kamu suka banget bikin aku jantungan!"
"Kamu jangan gemesin terus dong tiap hari, aku jadi pengin cepet nikahin."
Dahi Salira mengkerut, "Emang siapa yang mau nikah sama kamu?" tanya Salira.
"Aku maksa," balas Lian.
Salira terkekeh, "Jadi bersihin yang di depan, nggak? Kalau nggak jadi, biar aku aja."
Segera Lian melangkah meninggalkan Salira yang tertawa puas sambil membuka tutup toples berisi kue cokelat. Bersandar pada lengan sofa dengan kaki yang berselonjor, Salira menikmati kue buatan Mama Lian hingga tak terasa sudah habis setengahnya.
Saat Lian selesai dan kembali,
"Astaga, Sayang, ini kan kue cokelat yang Mama bikin buat aku!" seru Lian dengan nada dramatis, menunjuk toples cokelat di tangan kekasihnya.
Salira bergerak menurunkan kedua kakinya, mengangkat bahu dengan wajahnya polos. "Maaf, Mas. Ini enak banget, jadi aku nggak sadar udah habis setengah." Salira menutup kembali toples kaca itu, "Masih ada sisanya, kok. Aku nggak habisin semua, jadi kamu masih bisa makan. Jangan pelit sama ibu hamil."
