22

1.7K 149 29
                                        

Napasnya hangat menyentuh dahi Lian yang masih tertidur pulas. Dengan sengaja, Salira meniup telinga Lian. Laki-laki itu sedikit terusik, namun matanya masih tertutup rapat. Jemari lentik Salira merayap membelai rambut hitam kekasih tercinta. Sentuhan lembut itu, seperti mampu membuyarkan sisa-sisa mimpi indah Lian.

"Sayang, udah pagi. Ayo bangun," bisiknya lembut, suara merdunya bagai alunan musik yang menenangkan.

Lian langsung tersentak, matanya terbuka perlahan, hinnga senyum merekah di bibirnya saat melihat wajah Salira yang begitu dekat. "Cantik banget, sih?"

"Emang."

"Pengin tiap bangun pagi dengan pemandangan ini," ujar Lian dengan tatapan yang meluluhkan.

"Semoga, ya."

"Kok semoga? Harus, dong."

Salira tersenyum dan mengangguk, "Ini mau pelukan sampai kapan?"

"Sampai kamu jadi istri aku," kata Lian yang semakin megeratkan pelukan.

"Mas, aku kurang nyaman, ini perutnya, kan, udah makin gede."

Mendegar keluhan Salira, segera Lian bangkit dari posisi tidurnya, "Maaf, sayang."

"Nggak apa-apa," balas Salira yang juga ikut bangkit. "Kamu mandi dulu, aku mau siapin sarapan."

"Mama ke mana?" tanya Lian, sebelum kaki Salira menginjak lantai.

"Lari pagi. Tadinya mau bikini sarapan dulu, tapi aku bilang nggak usah."

"Kenapa nggak usah?" Lian bertanya lagi.

"Aku mau bikin sendiri. Kamu harus makan masakan aku, dong, Mas."

"Kalau kamu udah lahiran, terserah, deh, mau masak apa aja. Sekarang, kamu cukup makan sarapan bikinan Mama atau aku. Nah, karena Mama nggak ada, jadi aku aja yang siapin sarapan."

Lian hendak turun dari kasur, lalu Salira menahan. "Mas, aku nggak akan keguguran kalau cuma masak doang."

"Sayang..."

"Mas, dengerin aku..." Salira menarik Lian untuk mendekat, "Kamu mandi dan aku siapin sarapan, makanannya. Selesai kamu mandi, gentian aku yang mandi dan kamu siapin minumannya. Adil, kan?"

Lian menggeleng, "Nggak."

Terdengar helaan napas Salira, "Bisa nurut nggak?"

Tatapan Salira seolah ingin menikam Lian, "Serem banget matanya. Yaudah, aku mandi, deh."

Barulah ada rasa lega yang diiringi dengan senyuman, "Gitu, dong!"

Salira memajukan wajahnya, memberikan kecupan singkat yang membuat Lian terpaku menatap perempuan di hadapannya.

"Hadiah karena mau mandi," kata Salira. Kakinya langsung menyentuh lantai dan perlahan berjalan keluar kamar.

Lian mengusap bibirnya sendiri, "Kalau kayak gini, gue mau, deh, pura-pura nggak nurut terus tiba-tiba nurut. Pasti dapet hadiah terus, kan?" monolognya sambil tersenyum puas.

***

Menyantap sarapan pagi bersama dengan obrolan random yang mendatangkan tawa, Lian sangat bahagia melihat Salira yang penuh dengan cerita. Selesai sarapan, mereka memutuskan untuk pergi belanja kebutuhan bayi.

"Ambil apa aja yang kamu mau," ujar Lian yang mengekori Salira dari belakang.

Dengan terus melangkah, "Aku cuma mau beli beberapa baju lucu, sarung tangan dan kaos kaki. Kalau banyak, takut repot bawanya ke Jakarta."

"Memangnya mau balik ke Jakarta?"

"Nggak tau, sih."

"Lahiran di sini aja," kata Lian.

NIRMALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang