14

2.2K 146 16
                                        

Tirai ditarik perlahan. Matahari pagi menyinari ruangan dengan dinding putih itu, membawa serta kehangatan yang menenangkan. Mata Salira perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya yang semakin kuat. Pandangannya tertuju pada sosok laki-laki yang menatap keluar jendela. Sehelai senyum tipis terukir di bibir Salira. Ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati keindahan pagi ini. Iya, Lian adalah salah satu bentuk keindahan yang datang tanpa diduga.

"Mas," panggilnya.

Sang pemilik nama menoleh, "Eh, udah bangun." Lian menghampiri Salira, membantu perempuan itu untuk duduk.

"Aku udah bisa pulang hari ini, kan?" tanya Salira seraya memikit pelipisnya. Kepalanya sedikit pusing.

"Pulang ke rumah orangtua kamu, ya, Sal? Atau kamu tinggal di apartemen aku?" tawar Lian.

Salira tampak berpikir. Ketakutan akan kegilaan Arsen masih menyelimuti kepalanya. Selalu saja membayangkan bahwa laki-laki itu akan membahayakan kedua orangtuanya.

"Kamu takut sama Arsen?" Lian menyadarkan Salira dari lamunannya.

"Gimana, ya, Mas.."

"Arsen kecelakaan, Sal."

Mata Salira membesar dengan mulut yang sedikit terbuka saat mendengar ucapan Lian, "Kamu tau dari siapa?"

Lian mengambil ponselnya yang tergeletak disofa tempat ia tidur semalam, "Udah masuk berita," ucapnya. Lian memberikan benda pipih itu pada Salira.

Ponsel itu sudah berpindah ke tangan Salira. Matanya terpaku pada foto mobil yang ringsek dengan bodi mobil terlihat penyok parah. Kaca depan retak, terlihat juga bercak darah di bagian dalam. Salira menggigit bibir bawahnya, ibu jarinya menari pada layar ponsel, membaca seluruhnya dengan teliti. Betapa terkejutnya Salira saat membaca ada dua perempuan yang menjadi korban dan meninggal dunia.

"Ini bukan mobil Mas Arsen," gumamnya.

"Iya, itu mobil Bara. Mereka minum dengan kadar alkohol yang cukup tinggi."

Salira menatap Lian, "Perempuannya masih dibawah umur, Mas."

Lian mengangguk, "Udah baca sampai akhir?" tanya Lian dan Salira menggeleng.

"Salah satu dari perempuan itu ternyata udah hamil," ungkap Lian.

Salira mengatupkan bibirnya, menyerahkan kembali ponsel itu pada Lian. Ia menghela napas, "Kira-kira hamil anak Mas Arsen atau Mas Bara?"

Lian mencari sesuatu pada ponselnya, lalu memperlihatkan kembali pada Salira, "Aku udah cari tau banyak, Sal. Ini akun sosial media perempuan itu dan ada foto sama Arsen. Besar kemungkinan dia hamil anaknya Arsen."

"Ya Allah, masih anak sekolah. Kok mau sama Mas Arsen," ucap Salira.

"Butuh biaya buat pengobatan ibunya," Lian menarik kursi lalu duduk, "Kamu tau SMA ini nggak?" tanya Lian pada Salira.

Salira membaca nama sekolah itu, "Ini SMA deket kampus aku kalau nggak salah."

Dia salah satu siswa yang dapat dana bidikmisi, Sal. Setelah aku telusuri lebih dalam, memang benar ibunya sakit parah tapi nggak tau sakit apa."

Salira mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Lian dengan kaki yang ia turunkan menjuntai kebawah, "Sekarang Mas Arsen gimana?"

"Kenapa nanyain dia? Khawatir banget kayaknya," sindir Lian.

Salira mengernyitkan dahi, "Kok sensi gitu, sih?"

"Arsen koma. Makanya, aku suruh kamu balik ke rumah orangtua kamu."

"Kalau ke apartemen kamu aja gimana?" tanya Salira.

"Boleh banget," balas Lian dengan semangat.

"Nggak lah," tolak Salira. "Tolong ambilin air dong, aku haus."

NIRMALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang