Kehidupan yang banyak sekali teka-teki, terkadang membuat manusia ingin berhenti. Setiap manusia berhak untuk menikmati lelah, asal pilihan selanjutnya bukan menyerah, karena ada banyak jalan untuk menemukan arah. Seperti halnya Salira yang kini mencoba untuk menikmati hidup kembali setelah badai yang menerpa tanpa henti.
Duduk diteras rumah ditemani segelas jus mangga dan potongan buah mangga yang ia siapkan sendiri setelah menyantap sarapan pagi buatan Mama Lian. Seteguk demi seteguk jus mangga segar meluncur melewati tenggorokannya. Udara segar pagi ini membawa Salira pada ketenangan yang mendalam. Pikirannya melayang, mengingat kembali segala peristiwa yang telah berlalu. Ia mencoba mencari makna di balik setiap kejadian.
"Mas Lian lama banget," gumamnya.
Sudah satu minggu tidak bertemu dan hari ini Lian akan kembali ke Bali untuk menepati ucapannya. Satu persatu potongan mangga berhasil masuk kedalam mulut Salira. Rasa manis dan sedikit kecut, membuat matanya sesekali terpejam.
"Salira," panggil Yuna yang tiba-tiba muncul memegang pundak Salira.
Salira menoleh, "Iya, Ma?"
"Mama mau pergi sebentar, kamu mau ikut?" tawar Yuna.
Salira menggelengkan kepala, "Salira di sini aja nunggu Mas Lian. Kasihan kalau dia sampai, tapi nggak ada siapa-siapa di rumah."
Yuna memasang senyuman, "Romantis banget, sih, kalian berdua. Mama jadi nggak sabar mengadakan pernikahan kalian."
Salira merasa canggung setiap kali Yuna membahas soal pernikahan, karena meski Salira sudah mendapatkan ungkapan cinta dari Lian, masih ada perasaan ragu yang sulit untuk diutarakan. Terkadang, hati dan pikirannya sering tidak sinkron.
"Doain yang terbaik buat Lira dan Mas Lian, ya, Ma. Semoga banyak hal baik yang datang untuk kita berdua."
Dengan penuh kasih, Yuna mengusap pundak Salira, "Mama akan selalu mendoakan yang terbaik buat kebahagiaan kalian berdua. Melihat Lian yang sekarang, hati Mama rasanya senang sekali. Bagaimana Lian memperlakukan kamu dengan baik, menjadi pertanda bahwa didikan Mama selama berhasil."
Salira berdiri, memeluk Yuna, "Makasih, ya, Ma. Makasih untuk kasih sayangnya."
Yuna membalas pelukan itu, "Sama-sama, sayang. Kalian berdua harus selalu bahagia."
"Boleh gabung nggak?"
Suara yang tiba-tiba terdengar, membuat Yuna dan Salira menoleh. Dua perempuan kesayangan Lian menyunggingkan senyuman.
"Mau peluk yang mana dulu?" Yuna sengaja melontarkan pertanyaan itu.
"Nggak bisa milih," ucap Lian yang langsung memeluk keduanya, "Kalau bisa dua kenapa harus satu."
"Mama mau pergi sebentar, jagain calon menantu dan cucu Mama." Yuna memberi pesan dan Lian dengan segera mengacungkan jempolnya.
"Laper nggak?" tanya Salira dan Lian mengangguk.
"Yaudah, makan dulu."
"Mau makan kamu," bisik Lian tepat ditelang Salira, membuat perempuan itu sedikit merinding saat suara serak milik Lian memenuhi indra pendengarannya.
Salira mencubit perut laki-laki itu dan Lian justru tertawa sembari menarik Salira ke dalam dekapannya. Berjalan masuk dan menutup pintu, Lian terus mendaratkan kecupan di pipi Salira. Sepertinya, ini hal yang Lian tunggu-tunggu setelah pernyataan cinta itu ia ungkapan.
"Mas," teriak Salira saat Lian sedang berada di dalam kamar untuk berganti pakaian.
"Iya sayang?" sahut laki-laki itu.
