Alarm nyaring berbunyi, memotong mimpi indah yang belum sempat Salira tuntaskan. Dengan gerakan malas, ia meraih ponsel dan mematikan alarm itu. Cahaya redup dari lampu kamar menyinari wajahnya yang masih mengantuk. Netranya menatap langit-langit kamar dengan kosong, pikirannya melayang ke berbagai hal yang harus ia hadapi mulai hari ini.
Semalam, Salira menangis puas dalam pelukan Lian. Semuanya ia ceritakan tanpa melewatkan satu hal menyakitkan. Barangkali, untuk saat ini, Lian adalah rumah tempatnya mengadu. Entah akan bertahan lama atau hanya sementara, Salira tidak peduli. Ia hanya ingin menumpahkan segala riuh yang memberi rusuh. Sinta maupun Abraham tidak mengetahui kepergian Salira. Mungkin, pagi ini Sinta yang akan menemukan surat yang Salira letakkan di atas meja riasnya.
Lian membawa Salira ke apartemen miliknya,
"Kamu tinggal di sini aja," ucap Lian. Tangannya mengusap pipi Salira sembari menyerka air mata yang masih saja turun dari penampungannya, "Jangan banyak pikiran. Kasihan adek bayinya pasti ikutan pusing. Kamu aman di sini."
"Makasih, ya, Mas." Salira berusaha menampilkan senyumnya.
Lian tersenyum dan mengangguk, "Untuk malam ini, kalau mau ganti baju, di lemari ada banyak kaos dan kemeja aku. Kamu pakai aja, ya. Besok kita belanja keperluan kamu."
"Ngerepotin banget. Aku balik ke rumah Mas Arsen aja buat ambil beberapa barang-barang aku."
"Kok nggak sekalian semua?" tanya Lian.
"Kebanyakan, ntar apartemen kamu penuh."
Lian terkekeh, "Yaudah, aku anterin."
Ponsel Salira bordering, membaca nama yang muncul pada layar ponsel, "Mas Lian," gumamnya dengan senang.
"Udah bangun, Sal?" tanya Lian saat panggilan suara itu tersambung.
"Kalau belum bangun, siapa yang angkat telepon ini?"
Terdengar kekehan dari sebrang sana, "Bumil sensi banget. Aku udah pesenin sarapan. Kamu harus makan dulu, ya. Aku baru bisa jemput agak siangan gitu, nggak apa-apa, kan?"
"Iya, Mas, nggak apa-apa. Maaf, ya, ngerepotin terus."
"Sal, nggak ada yang merasa direpotkan. Aku seneng ketemu kamu, kalau bisa setiap jam lihat kamu," goda Lian.
Salira mengulum senyum, "Jangan gombalin istri orang ntar kamu ditikam."
"Suami kamu duluan yang aku tikam."
Jawaban Lian membuat tawa Salira pecah, "Mas, makanannya dianterin ke kamar atau aku harus turun ke resepsionis?"
"Dianterin sama resepsionisnya. Aku minta tolong gantungin digagang pintu aja, jadi kamu nggak perlu ketemu dia."
Salira bingung, "Kenapa?"
"Soalnya dia cowok."
Sudut bibir Salira melengkung, mengukir senyuman paling lebar yang pernah ia ciptakan. Seperti banyak kupu-kupu yang datang dan membuatnya semangat menjalani hari, selagi ada Lian yang menemani.
"Kok cemburu gitu, sih? Kayak ada status aja," ucap Salira.
"We listen and we don't judge. Memang belum ada status, tapi sekarang kamu punya aku."
Pipi Salira terasa panas, ia yakin pasti sudah memerah seperti tomat. Ada saja celetukan Lian yang membuatnya salah tingkah.
"Kok diem? Salting, ya?" goda Lian dengan kekehannya.
Jantung Salira berdebar kencang hingga terasa seperti hendak keluar dari rongga dadanya. Suara Lian yang lembut di seberang sana membuatnya semakin gugup. Entahlah. Salira seperti sedang jatuh cinta dan merasakan butterfly era.
