10

2.8K 147 23
                                        

"Lira, mama mau ajak Lira jalan-jalan keluar. Kita belanja perlengkap bayi," ucap Sinta yang baru saja duduk di samping Salira.

Salira menggeleng, "Lira nggak mau keluar, Mama. Lira mau di rumah aja. Di luar banyak orang jahat."

Sudah dua minggu Salira hanya berdiam diri di kamar saja. Bahkan, ia sama sekali tidak menginjakkan kakinya melewati batas pintu kamar. Bagi Salira, kamar adalah tempat paling aman yang ia miliki saat ini.

Sinta menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Sebagai seorang ibu yang melahirkan dengan nyawa sebagai taruhan, tentu sangat miris melihat kondisi anaknya yang seperti tidak memiliki semangat dalam hidupnya. Tangan Sinta bergerak mengusap lembut punggung Salira, kemudian beralih menyisir surai hitam yang bahkan belum di sisir.

"Rambutnya mama kepang mau nggak?" tanya Sinta dengan hati-hati.

Salira langsung mengubah posisinya menghadap Sinta dengan senyuman yang merekah, "Mau, Mama. Udah lama ngak dikepangin,"

Sinta tersenyum tipis, "Mama ambil sisir dulu, ya. Rambut Lira belum disisir, kan?"

Satu anggukan dari Salira membuat Sinta segera beranjak dari duduknya. Mengambil sisir berwarna merah muda dan membuka laci paling bawah untuk mengambil karet jepang warna warni yang masih tersimpan rapi di dalam sana.

"Kok masih ada karet itu, Ma?" Salira bertanya.

Sinta kembali duduk di atas ranjang, "Setelah kamu ikut Arsen ke rumahnya, Mama sengaja beli ini. Mikirnya, sih, kalau Lira main ke rumah mau Mama kepangin. Tapi, lupa terus."

Mulut Salira membentuk huruf 'O', "Yaudah, sekarang kepangin Lira."

Salira berbalik badan dan Sinta meraih surai hitam itu untuk ia sisir dengan lembut. Dalam setiap helaian rambut yang dikepang, Sinta mati-matian menahan tangisnya agar tidak luruh. Ada harapan dan doa untuk anak semata wayangnya itu.

"Lira, besok ketemu Kak Cessy, ya?" ucap Sinta di sela-sela kepangannya.

"Mama, Kak Cessy itu Psikolog, kan?" tanya Lira.

Sinta mengangguk meski Salira tidak dapat melihat pergerakan itu, "Iya, Nak."

Cessy adalah anak dari rekan bisnis Abraham yang berprofesi sebagai Psikolog. Abraham memilih Cessy bukan tanpa alasan. Dulu, Cessy dan Salira sering bertemu saat orang tua mereka merencanakan makan malam atau liburan bersama. Keduanya pun menjadi dekat, layaknya kakak dan adik. Cessy juga bersedia untuk datang ke rumah sebanyak dua kali dalam seminggu.

"Kenapa Lira harus ketemu Kak Cessy? Lira nggak gila, Ma."

"Sudah dua kali Kak Cessy datang ke sini, tapi Lira nggak mau ketemu. Kak Cessy cuma mau ngobrol aja sama kamu, sayang. Inget nggak, dulu Lira deket banget sama Kak Cessy. Kalian berdua suka jajan gulali dan main sepeda." Sinta berusaha menjelaskan dengan bahasa yang baik agar Salira tidak lagi melakukan pemberontakan seperti hari-hari sebelumnya.

"Lira nggak butuh teman ngobrol, Ma. Lira mau ngobrol sama Papa dan Mama aja," ucap Salira seraya mengusap pelan perutnya, "satu lagi sama adek bayi," sambung Salira.

"Apa yang bikin Lira takut ketemu orang, selain Mama dan Papa?"

"Mama dan Papa adalah orang tua Lira. Mama dan Papa juga sayang sama Lira. Lira nggak percaya lagi kalau orang lain bisa baik dan sayang ke Lira kayak Mama dan Papa lakuin selama ini. Lira takut ketemu orang jahat lagi, Ma. Lira takut dipukulin tiba-tiba dan takut ditinggalin tanpa alasan. Lira mau hidup aman meski cuma ada Mama dan Papa."

Ungkapan Salira berhasil meluruhkan air mata yang Sinta tahan kedatangannya. Dadanya sesak sekali mendengar setiap kata yang keluar dari mulut anaknya. Tangannya masih bergeraknya mengepang rambut yang terurai, perlahan menjadi anyaman yang terlihat indah.

NIRMALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang