Hujan rintik-rintik terlihat dari luar jendela. Salira merebahkan tubuhnya di sofa empuk dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. Netranya tertuju pada layar televisi yang memancarkan cahaya lembut. Segelas susu hangat, semangkuk popcorn asin, dan beberapa cemilan lainnya serta buah-buahan menjadi temannya sore ini. Dengan senyum puas, Salira mulai menikmati filmnya. Seperti tubuhnya yang terbalut selimut, seperti itu juga perasaan tenang menyelimuti hati dan pikirannya. Rasanya, hidup kembali pada masa dimana Salira bebas memanjakan diri sendiri. Meski sesekali, ingatan membawanya kepada dua orang yang ia sayangi, Salira berusaha untuk tidak menangis lagi. Sengaja mengganti nomor ponselnya, agar siapa pun tidak bisa menghubunginya, kecuali Lian Deandra yang saat ini sudah menekan bel.
Salira langsung mengubah posisinya menjadi duduk, menatap semua makanan yang terlihat sedikit berantakan di atas meja. Ia menyisir rambutnya menggunakan tangan, "Semoga Mas Lian nggak marah lihat meja ini."
Dengan rasa percaya diri, Salira berjalan dan membukakan pintu untuk menyambut laki-laki yang sudah menenteng totebag belanjaan. Pandangan Salira tertuju pada tentengan itu,
"Kamu bawa apa lagi?"
"Makanan."
"Kamu mau bikin aku gendut, ya? Makanan yang kemarin aja belum habis, Mas. Kalau gini bahaya buat berat badan aku." tanya Salira dengan menyelipkan protesnya pada Lian.
Lian menarik pelan bibir Salira, "Ngomel mulu. Ayo, masuk."
Salira sedikit mundur agar Lian bisa masuk. Laki-laki itu menutup pintu, menarik lengan Salira seperti seorang suami yang baru saja pulang kerja. Langkah Lian terhenti saat melihat meja yang penuh dengan makanan.
"Ini yang katanya belum habis?" sindir Lian tanpa melirik Salira yang sudah menahan rasa malunya.
Diletakkannya totebag itu di atas sofa, satu persatu bungkusan Lian periksa. Kepalanya menggeleng, tidak ada satu pun yang di makan sampai habis. Melirik Salira yang mematung di tempatnya,
"Kenapa nggak ada yang dihabisin?" Lian bertanya, lalu mengambil satu biskuit untuk ia masukkan ke dalam mulutnya.
"Kenyang," jawab Salira santai.
Mulut Lian terbuka, "Kenyang? Terus kenapa bisa sebanyak ini yang bungkusan yang udah kebuka?" Lian mengambil satu potong buah mangga, "Ini juga mangga, terus apel, anggur, kamu cuma cicipin doang?"
Salira menunjukkan deretan giginya seperti anak kecil yang sedang diinterogasi oleh ayahnya, "Penasaran aja sama rasanya."
Lian benar-benar tak habis pikir, kepalanya menggeleng. Berkecak pinggang menatap Salira. Perempuan itu langsung menundukkan kepala,
"Iya, Maaf. Jangan marah. Makanya jangan beliin banyak-banyak. Aku jadi pengen cobain semua disatu waktu yang sama. Udah lama nggak sebebas ini."
Mendengar kalimat terakhir, Lian mendekati Salira. Menarik kepala perempuan itu, lalu ia usap dan kecup dengan lembut.
"Aku nggak marah, Sal. Akting doang, mau lihat ekspresi kamu yang lucu kayak anak kecil yang dimarahin. Anak kecil yang sebentar lagi punya anak," goda Lian.
Salira mendongak, "Beneran nggak marah?"
Lian merapatkan kedua matanya dan mengangguk, "Iya, nggak marah. Kamu bebas mau makan apa aja, asal yang dimakan itu dari aku. Soalnya, aku udah tanyain ke dokter kandungan, makanan yang boleh dikonsumsi ibu hamil."
Sudut bibir Salira terangkat, "Makasih. Yaudah, aku mau beresin dulu biar nggak berantakan."
Belum sempat melangkah, pinggangnya ditarik oleh Lian. Posisinya Salira sudah masuk ke dalam dekapan Lian. Laki-laki itu meletakkan dagunya di atas kepala Salira,
