Kehamilan Salira sudah memasuki bulan ketujuh. Perutnya semakin membuncit, membuat napasnya terasa lebih pendek. Sesekali, nyeri punggung dan kaki bengkak mulai menyerangnya. Namun, setiap kali tangan lembut itu menyentuh perut, Salira dapat merasakan tendangan kecil dan gerakan-gerakan lembut di dalamnya, semua rasa tidak nyaman hilang seketika. Salira merasa sangat bersyukur dan tidak sabar menantikan kehadiran sang buah hati.
Lian mengusap lembut perut Salira, "Dia jadi anak aku aja, ya?"
"Emang boleh?"
"Aku mencintai Mamanya, jdi harus include anaknya."
Senyum Salira mengembang saat merasakan ada tendangan kecil di perutnya, "Dia nendang lagi, berarti setuju untuk jadi anak kamu."
"Memang harus setuju, karena bakal dapet kasih sayang penuh dari Papa Lian yang tampan," utas Lian dengan percaya diri.
Jemari Salira menyisir surai hitam milik Lian saat laki-laki itu menunduk, mengecup lembut perutnya yang buncit. Beberapa bulan ini terasa penuh cinta dan kedamaian. Lian benar-benar menepati ucapan bahwa ia akan mengunjungi Salira setiap minggunya. Bahkan, kalau pekerjaannya bisa dilakukan di rumah saja, Lian akan tetap di Bali menemani masa kehamilan Salira.
"Mama mau ke Bali, Mas."
Lian kembali bersandar pada sofa, "Sendiri?"
Salira mengangguk, "Katanya, sih, iya."
"Kok kamu kayak ragu gitu? Tanya Lian, membersihkan selai stroberi yang tertinggal di sudut bibir Salira.
Sambil terus menyantap rotinya, "Takut aja kalau tiba-tiba Papa ikut."
"Kalau Arsen yang ikut, gimana?"
"Nggak mungkin." Salira menyuapi sisa rotinya untuk Lian dan laki-laki itu membuka mulutnya, "Dia jalan nggak bisa."
"Bisa, pakai kursi roda."
Pantas saja tidak ada gangguan yang datangnya dari Arsen. Dua bulan lalu, Sinta memberitahu bahwa kaki Arsen lumpuh sementara.
"Aku jadi istri durhaka, nngak, sih?"
"Kenapa nanya gitu?"
"Suami aku lagi sakit, tapi aku nggak ada di sana untuk merawat dia. Ya, gimana pun status aku masih istrinya."
Lian mengupas jeruk untuk Salira, "Dia aja nggak pernah nafkahin kamu."
Mulut Salira terbuka menerima suapan jeruk dari Lian, "Iya, sih."
"Nggak usah dipikirin. Ini bukan sinetron pintu taubat yang suaminya udah jahat terus kecelakaan berubah jadi baik sama istrinya."
Salira terkekeh, "Tapi hidup aku emang drama banget, cocok diangkat jadi sinetron."
Tidak hanya menyuapi Salira, Lian pun ikut memakan jeruk manis itu, "Cocok banget, tapi yang setelah ketemu aku."
Salira menguap, "Aku ngantuk."
Lian menarik pelan hidung Salira, "Ngantukan mulu sekarang."
Bibir Salira mengerucut menatap wajah Lian, "Nggak boleh, ya?"
Semakin bertambah usia kehamilan, bertambah juga sensitivitas yang ada pada Salira. Terkadang, perempuan itu bisa tiba-tiba menangis sesegukan tanpa sebab. Sering kali Lian dibuat bingung harus melakukan apa, terlebih saat dirinya sedang tidak berada di Bali. Namun, bukan Lian Deandra kalau tidak punya ide cemerlang untuk meredakan Salira.
"Boleh, sayang. Mau tidur sambil aku peluk juga boleh, asal bumil ini nggak rewel."
Dengan manjanya, Salira menjatuhkan kepalanya di dada Lian, "Mau tidur di sini."
