Perjalanan menuju rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kehamilan Salira, ia ditemani Sinta. Hanya berdua, karena Yuna harus pergi untuk bertemu kliennya. Salira menatap keluar jendela, pikirannya terus terisi dengan kekhawatiran akan sesuatu, namun ia tidak tahu. Sejak kemarin malam, rasanya seperti kosong dan hampa, tapi tidak bisa dideskripsikan bentuknya.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah sakit swasta ternama. Salira menarik napasnya, mencari ketenangan agar rasa gugup, khawatir, dan resah tidak menyelimuti hatinya.
"Lira kenapa, Nak?" Sinta terlihat cemas, karena sedari tadi, Salira banyak melamun.
Seutas senyum terukir, "Nggak apa-apa, Ma. Mungkin nervous aja," bohongnya.
Di tengah hiruk-pikuk rumah sakit, Salira dengan perut buncit berjalan sembari melingkarkan tangannya pada lengan Sinta. Langkahnya sangat hati-hati menyusuri koridor panjang. Sesekali matanya tertunduk, dan wajahnya tampak cemas.
Sampai pada ruang yang sudah ditemukan, Salira sedikit terkejut karena pintu tiba-tiba terbuka menampilkan seorang perawat,
"Ibu Salira?" tanya perawat perempuan itu.
Salira mengangguk, "Iya."
"Silakan masuk, Bu, Dokter sudah menunggu."
Perawat itu mempersilakan Salira untuk masuk dengan menahan pintu, "Makasih," ucap Salira.
Salira masuk ke dalam ruangan yang hangat dan nyaman, ditemani sang Mama. Dokter, seorang wanita yang ramah dan berpengalaman, menyambut Salira dengan senyum hangat. Setelah beberapa percakapan ringan, dokter mulai melakukan pemeriksaan. Memeriksa detak jantung bayi, mengukur perut Salira, dan menanyakan tentang kondisi Salira secara umum. Salira merasa senang, mendengar bahwa bayinya sehat dan berkembang dengan baik. Dokter juga memberikan beberapa tips dan saran untuk menjaga kehamilan yang sehat.
"Alhamdulillah, cucu Mama sehat." Sinta membantu Salira turun dari brankar.
"Kalau mau berhubungan sama suami, tetap harus hati-hati, ya. Kalau bisa jangan bermain diarea dada. Takutnya terjadi kontraksi dini dan meyebabkan bayi lahir prematur."
"Suaminya jauh, Dokter."
"Oh, baik. Kalau sudah memasuki bulan kesembilan dan suami belum pulang, Ibu bisa banyakin yoga atau sekadar jalan-jalan pagi agar memudahkan kontraksinya. Memang baiknya ketika memasuki usia diminggu-minggu terakhir, suaminya harus sering jenguk si dede."
Salira tersenyum kikuk, "Baik, Dokter."
Setelah pemeriksaan selesai, Salira merasa lega dan senang. Dia tahu bahwa bayinya baik-baik saja dan dia siap untuk menghadapi persalinan yang akan datang. Meninggalkan rumah sakit dengan hati yang penuh harapan dan rasa syukur.
"Lira seneng banget, Ma." Salira tak sabar menunggu beberapa bulan lagi.
"Mama juga seneng. Lian nggak hanya berhasil menjaga kamu, tapi juga bayi kamu."
"Kita langsung pulang aja, ya, Ma. Lira pesan taxi online dulu," ucap Salira, merogoh ponselnya di dalam tas.
Sinta menahan, "Nggak usah, kita ke parkiran mobil aja."
Salira mengernyitkan dahi, "Kenapa ke sana? Kan kita nggak bawa mobil?"
"Ikut aja," ajak Sinta.
"Apa Mas Lian nggak jadi berangkat dan nunggu di parkiran? Ini mau kasih aku kejutan, kah?" batinnya.
Mulut Salira terbuka, matanya membulat sempurna. Ada getaran ketakutan yang mendadak datang menyapa dirinya, "Mas Arsen? Papa?"
Salira bertanya-tanya saat melihat Arsen berdiri tegak tanpa bekas luka apa pun di tubuhnya. Laki-laki itu tersenyum, sorot matanya sangat tajam.
