17

80 56 11
                                        

Haii, gimana kabarnya hari ini!??

Dimana pun kalian berada, semoga hal-hal baik selalu berdatangan ya☄️☄️

Selamat membaca!

Sesuai dengan pertemuan sebelumnya, Alwa mengajak mahasiswanya untuk melakukan kolaborasi dengan sebuah instansi. Mereka sepakat untuk melakukan kolaborasi pada salah satu Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk memenuhi ujian tengah semester mereka. Tujuan kolaborasi ini untuk meningkatkan pelayanan publik melalui pemanfaatan teknologi informasi. Alwa sebagai dosen mata kuliah memimpin diskusi antara mahasiswanya dengan perwakilan Dukcapil.

Di ruang rapat Dukcapil, terisi penuh oleh mahasiswa yang duduk melingkar disekitar meja besar berwarna coklat tua. Sementara Alwa, berdiri di depan papan tulis guna menjelaskan tujuan dari kolaborasi ini. Bapak Endang sebagai perwakilan Dukcapil, terlihat menyala akan semangat dan siap memberikan wawasan tentang tantangan yang meraka hadapi saat ini.

"Selamat siang semuanya! Terima kasih kepada bapak Endang yang telah meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami. Hari ini, kita akan membahas bagaimana teknologi dapat membantu meningkatkan pelayanan dalam Dukcapil. Sebelumnya, kita akan dengarkan terlebih dahulu tantangan apa yang sedang dihadapi Dukcapil saat ini," ucap Alwa.

"Terima kasih banyak, ibu Alwa. Selamat datang juga untuk mahasiswa semuanya! Salah satu tantangan terbesar kami adalah antrian panjang yang sering terjadi di kantor kami. Kami ingin mencari solusi yang tepat dalam mempercepat proses pendaftaran dan pengambilan dokumen," jelas pak Endang.

"Saya punya ide!" ucap salah satu mahasiswi dengan satu tangan terangkat ke atas.

"Bagaimana jika membuat aplikasi mobile yang memungkinkan masyarakat mendaftar secara online sebelum datang ke kantor. Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan jadwal kedatangan dan mengurangi waktu menunggu," lanjutnya.

"Ide yang bagus. Tapi, kami harus mempertimbangkan aksesibilitas bagi masyarakat yang tidak memiliki smartphone, akses internet, dan juga yang belum mengerti dengan penggunaan teknologi. Bagaimana jika kami juga menyediakan sistem pendaftaran melalui sms?" kata pak Endang, berusaha untuk menerawang hal yang menjadi jalan buntu bagi masyarakat.

"Itu sangat relevan, Pak! Kami bisa mengembangkan dua sistem sekaligus. Pertama, aplikasi mobile untuk pengguna smartphone. Kedua, sistem sms untuk masyarakat yang lebih tradisional. Kami juga bisa menambahakan fitur pengingat untuk jadwal kedatangan," ucap mahasiswa lainnya.

"Saya suka ide kolaboratif ini! Selain itu, kita perlu memikirkan bagaimana cara sosialisasi aplikasi ini kepada masyarakat agar mereka tahu cara dalam penggunaannya," tambah Alwa, mengingat jika masyarakat saat ini masih perlu bimbingan dan arahan dalam kemajuan.

"Saya setuju! Kami bisa bekerja sama dalam sosialisasi kampanye melalui media sosial kami dan kegiatan di lapangan. Mungkinkah, mahasiswa bisa membantu merancang materi promosi dan terjun membantu dalam lapangan?" tutur pak Endang bergelora. Mengingat mereka akan bekerja sama dalam menyukseskan hal ini.

"Tentu saja, Pak! Kami akan membuat poster dan video tutorial semenarik mungkin dalam menjelaskan tata cara menggunakan aplikasi mobile dan sistem sms tersebut. Kami juga siap terjun ke lapangan," ujar mahasiswa. Teman-temannya mengangguk setuju.

Diskusi kolaboratif antar mahasiswa, dosen, dan perwakilan Dukcapil berlanjut dengan fokus dan keseriusan yang sungguh-sungguh terlihat terpancar dari wajah mereka. Semuanya saling menyusun strategi untuk menciptakan solusi seefektif mungkin bagi masyarakat. Dengan kerja sama ini, proyek diharapkan tidak hanya memenuhi syarat akademis tetapi dapat memberikan feedback positif bagi pelayanan publik untuk masyarakat. Berkat kolaborasi yang terjadi dapat dijadikan sebuah contoh nyata bagaimana pendidikan dapat terhubung dengan praktik dunia nyata.

Finding Herself (Selesai & Revisi)Where stories live. Discover now