27

81 49 6
                                        

Haii, gimana kabarnya hari ini!??

Dimana pun kalian berada, semoga hal-hal baik selalu berdatangan ya☄️☄️

Selamat membaca!

Seperti kebanyakan ciri khas anak-anak menengah atas yang selesai menempuh sekolah mereka, maka sama dengan Alwa kini tengah berjuang dalam belajar untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi. Kesalahan fatal Alwa ialah, ia lupa jika sang ibu tidak mengizinkan Alwa untuk pergi ke kota di mana itu adalah tempat berlangsungnya ujian tersebut. Bukan tanpa alasan, Alwa tidak mempunyai relasi di desa serta orang yang di kota sehingga membuat Alwa kesulitan untuk mencari solusi. Pada akhirnya, Alwa pun melewatkan ujian tersebut padahal ujiannya gratis sebab Alwa mendaftar sebuah beasiswa. Alwa khawatir pada masa depannya, di sini Alwa sudah hancur dalam berbagai hal apakah harus hancur juga dalam pendidikan serta kariernya?

Alwa termenung dalam kamar, belum ada tanda-tanda jika sang ayah akan menelpon hari ini. Ia menyadari satu hal, berharap kepada ayah kandung sendiri adalah suatu kemustahilan apalagi jika berharap kepada orang lain. Ia membuka buku yang Alwa gunakan dalam menyusun jadwal dan rencana yang akan ia lakukan setiap hari. Alwa mencoret beberapa hal yang gagal ia lakukan ataupun merasa itu tidak mungkin untuk diwujudkan. Sebelum Alwa mencoret yang terakhir, sebuah salam mengambil alih pendengarannya. Gegas Alwa menuju pintu depan, Alwa terkejut jika ayahnya datang ke sini secara tiba-tiba.

"Kemasi barang kamu. Mulai hari ini, kamu akan tinggal bersama saya dan istri saya!" perintahnya dengan aura kental penuh ambisi seakan keluar dari raga sang pria.

Inilah saatnya! Peluang terakhir dalam berharap keajaiban datang dari ayah, semoga bisa membantunya.

"Aku akan segera berkemas. Sebelum itu, aku harus pamit pada ibu dulu," jelas Alwa tidak kalah mendominasi.

"Perlukah perizinan disaat kamu sudah berumur belasan? Jangan kekanak-kanakkan! Ambil barangmu dan berangkat! Ingat satu hal! Saya bukan sopir yang bersedia menunggu tuan putri sang raja!" cela pria tersebut dengan menekankan setiap perkataannya.

"Kekanak-kanakkan? Apakah anda tau, aku merupakan duplikat anda! Jadi, jangan mengatur diriku saat aku masih berada di rumah ini! Karena, rumah ini bukan dalam genggaman anda! Anda harus pahami hal itu!" sargah Alwa menolak perintah sang ayah.

Alwa masuk kembali, menyiapkan barang-barang apa saja yang perlu ia bawa ke rumah sang ayah. Cukup satu bag berisi penuh, tidak lupa ponsel agar bisa menghubungi orang rumah. Setelah beres, Alwa menuju kebun belakang lewat pintu dapur. Ia harus berpamitan pada sang ibu, berpisah sementara tidak akan terlalu menyiksa.

"Ibu! Alwa pamit, ya!" seru Alwa dengan mencium tangan sang ibu yang penuh dengan tanah.

Tini bingung, pamit ke mana? Kenapa tiba-tiba? Melihat raut wajah serta mata Alwa seperti enggan dan berat mengatakannya. Tini paham, Alwa hanya akan bersikap seperti ini jika  menyangkut seseorang. Hanya orang itu yang ada hubungan dengan Alwa tidak ada yang lain. Tini mengusap lembut punggung tangan anaknya itu.

"Kamu hati-hati, ya! Jika terjadi sesuatu, kamu tau kan harus apa?" ucapnya pelan.

Alwa mengangguk pertanda tahu apa yang harus diperbuat jika hal-hal di luar kendali terjadi terhadap dirinya. Usai pamit, Alwa pergi meninggalkan kebun kembali ke rumah dan mengambil barang yang telah ia siapkan. Hari ini akan menjadi acuan Alwa dalam membuka satu persatu jalan dalam pengejaran demi sebuah pendidikan.

Saat berada di depan, Alwa tidak lagi melihat sosok sang ayah. Akan tetapi, mobil sang ayah masih setia berada di depan rumahnya. Sebuah klakson mengejutkan Alwa, ia segera menuju mobil dan memasukkinya. Ternyata di dalam mobil, ada sang ayah dengan adik tiri Alwa. Sang ayah hanya bermuka dingin, berbeda dengan adik tirinya yang girang melihat kehadiran Alwa seakan menyambut kedatangannya.

Finding Herself (Selesai & Revisi)Where stories live. Discover now