4

294 214 61
                                        

Haii, gimana kabarnya hari ini!??

Dimana pun kalian berada, semoga hal-hal baik selalu berdatangan ya☄️☄️

Selamat membaca!

Guyss! Aku udah update empat part sekaligus, jadi tolong ramein ya!!


"Alwa?" panggil perempuan itu ragu.

"Iyaa, itu nama saya. Kenapa, ya?" tanya Alwa heran. Ia bingung siapa perempuan ini tiba-tiba memanggil namanya.

"Ternyata benar itu, lo. Wahh wahh lo benar-benar ngebuktiin pada dunia bahwa lo bisa jadi dosen di kampus ini, hebat," ujar perempuan itu dengan bertepuk tangan sambil senyum meremehkan.

Berusaha sesabar mungkin karena tidak ingin terpancing omongan perempuan di hadapannya, Alwa pun menautkan kedua alis bingung, "Lo kenal gue?" tanya Alwa untuk memastikan.

Tepuk tangan terhenti perempuan tersebut refleks menatap tajam manik Alwa, tapi itu tidak membuat manik kecoklatan Alwa takut.

"Parah! Lo melupakan teman seperjuangan setelah lo minggat dari Indonesia. Kayaknya lo udah mulai sombong dehh, sampai-sampai lo enggak pernah bales pesan dari gue selama ini!" ucap perempuan itu penuh sinis.

Untuk makan saja harus ada rintangan dulu dalam hidupnya ini, malas berdebat di sini Alwa pun menarik tangan perempuan itu untuk ikut bersama ke kantin. Lebih baik membahas masalah ini dengan makan daripada membahas masalah dengan kelaparan. Perempuan itu sempat terkejut dan langsung berontak tapi Alwa malas untuk berlama-lama maka ia semakin menarik tangan perempuan itu seperti tidak ingin dibantah sedikit pun. Perempuan itu memilih mengalah, dia ikut walau sesekali memberontak.

Sampai di kantin, Alwa memesan dua jus buah naga serta langsung mengambil air mineral dari kulkas. Sudah selesai, Alwa memilih duduk dibangku yang kosong dengan diikuti perempuan yang ia tarik tadi.

"Jadi, lo siapa dan pesan mana yang lo maksud?" tanya Alwa. Ia penasaran sambil membuka bekal yang ia bawa. Agaknya perempuan di depannya itu malas menanggapi karena suatu hal. Melihat tatapan yang menuntut penjelasan, akhirnya dia menjelaskan daripada dia tenggelam dalam kekesalan yang tiada akhir ini.

"Gue Rahel temen lo, coba diinget kita kenal dari mata kuliah kolaborator dimata kuliah Manajemen BUMN yang dilaksanain oleh kampus lo sama kampus gue," jelas Rahel singkat malas rasanya panjang-panjang nanti percuma.

Sambil mengunyah makanannya, Alwa mencoba mengingat sedikit memori pada tahun itu. Lima tahun sungguh bukan waktu yang singkat, untuk mengingat wajah orang serta namanya satu persatu sangat sulit. Tapi, Alwa berusaha karena melihat wajah perempuan di depannya ini yang tersirat akan kekesalan dan kecewa membuat Alwa merasa sedikit bersalah. Lama mengingat-ingat jus mereka sudah tersedia dimeja tak lupa Rahel mengucapkan terima kasih pada ibu kantin. Kadang memang perlu berdiam dan mengunyah makanan dalam mecoba mengingat sesuatu, soalnya Alwa sudah mengingat siapa perempuan bersamanya saat ini.

Menghela napas Rahel tidak berharap kalau Alwa akan mengingat dia lagi, sudahlah percuma juga lima tahun adalah waktu yang lama. Sembari meminum jusnya Rahel sudah pasrah setidaknya dia masih bisa melihat wujud sahabatnya. Melihat ekspresi wajah Rahel yang seakan pasrah ingin rasanya Alwa menertawakan perempuan ini.

"Kenapa lo, kayak orang memasrahkan diri pada takdir," canda Alwa pada Rahel sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

"Enggak usah bercanda, bisa? Lo kalau enggak inget yaudah enggak penting juga untuk diinget sama lo," ucap Rahel sinis.

"Serius amat lo. Iya gue inget dan maaf kalo gue enggak ngenalin lo tadinya, dan juga soal pesan lo yang enggak gue bales itu karena gue nonaktif dari sosmed selama lima tahun. Sekarang gue udah mulai aktif tapi gue ganti nomor, gue juga jarang buka intagram atau aplikasi apapun. Untuk dapet informasi gue selalu ditelpon pake nomor biasa. Sekali lagi gue minta maaf enggak ngabarin lo dan terkesan mengabaikan lo," jelas Alwa berusaha meluruskan kesalahpahaman antara mereka berdua.

Finding Herself (Selesai & Revisi)Where stories live. Discover now