22

59 43 2
                                        

Haii, gimana kabarnya hari ini!??

Dimana pun kalian berada, semoga hal-hal baik selalu berdatangan ya☄️☄️

Selamat membaca!

Tepat pukul 13.00 WIB sesuai dengan kesepakatannya dengan Alwa, kini Hendi tengah menjemput dan mengantarkan Alwa ke bandara. Mereka telah tiba di salah satu bandar udara Internasional di Bandung. Alwa tidak membawa barang terlalu banyak, hanya satu koper dan totebag  cukup untuk menampung laptop dan dompetnya. Hendi benar-benar memberikan akomodasi penuh, seperti tiket pesawat pulang dan pergi. Serta satu kamar hotel di tempat tujuan and you know, it's certainly a lot of money to live there.

"Alwa, jemputan lo udah ada di bandara. Kebetulan banget dia bekerja dibagian pejabat pemeriksa fisik. Jadi, lo cukup kasih kartu ini aja pasti dia langsung mengerti," ucap Hendi.

"Okedeh!" Alwa mengambil kartu tersebut.

"Gue berangkat dulu, Hen. Btw, lo harus menemani mahasiswa gue dalam proyek ujian akhir semester mereka. Nanti gue kirim ke email  lo apa proyeknya, biar lo paham," ujar Alwa.

"Lo pasti paham dengan prosedurnya bagaimana? Atau perlu gue bantu menginformasikan ke ibu Ranti?" lanjutnya.

"Kita berdua lulus bareng ya, Wa. Jadi, jangan remehin gue. Karena lo udah ngebantu gue. Gue juga akan bantu lo, ya walaupun gue juga sibuk sih," selanya. Hendi tidak terima kalau Alwa seakan meremehkan kemampuannya.

"Dikira gue enggak sibuk, gitu?" sanggah Alwa.

"Mending berangkat sana. Tuh, pemberitahuan keberangkatan lo udah bunyi dari tadi!" usir Hendi.

Alwa mengangguk, ia kemudian bergerak memasukki ruang tunggu ternyata sudah ramai sekali orang. Tidak lama kemudian, semuanya mengantri untuk memeriksa tiket dan segera turun menuju pesawat. Jika seperti ini, Alwa teringat dengan masa-masa program pemerintah sesaat mampu membawanya terdampar ke Papua. Semua penumpang termasuk Alwa telah duduk dikursi masing-masing. Semuanya melihat arahan rutin yang diberikan oleh pramugari ataupun pramugara. Pesawat lepas landas membawa Alwa untuk kembali ke kota penuh kenangan tanpa ada beban pada masanya.

Flashback On

Percayalah, seorang Alwa yang merupakan anak desa untuk pertama kalinya menaiki pesawat sudah pasti memiliki ketakutan dan perasaan khawatir. Bayangkan saja, ini juga pengalaman pertama bagi Alwa. Tetapi, Alwa berusaha tenang walaupun hatinya merengek untuk keluar dari pesawat. Senyum merekah terpancar di seluruh wajah Alwa, sesaat sudah menetap dan berkumpul bersama dengan teman-teman satu program. Sudah setengah jalan mereka berada di kota dengan julukan kota Rusa. Banyak dan amat banyak kegiatan yang harus mereka lakukan dan realisasikan sebagai salah satu resiko dalam program ini.

Banyak suka dan duka terjadi, belum juga konflik selalu berdatangan. Tidak Alwa duga sebelumnya, ada seseorang mampu membuat ia merasa tertarik pada lawan jenis. Demi apapun, Alwa merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Seorang pria semester dua, dengan penampilan sederhana tidak lupa kacamata dan topi semakin membuat pria tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Sosok Jaffar Amrullah telah mampu mencuri hati seorang Deira Alwa M. Ini berawal dari salah satu kegiatan saat program kerja yang dilaksanakan, berkolaborasi bersama salah satu ukm universitas.

"Bang Aris, itu cowok temen lo, kah?" tanya Alwa.

Aris, seorang pria kurus tinggi menoleh dan menjawab. "Iya, Ra. Kenapa? Eh, tunggu dulu. Wah, ternyata orang yang sering lo ceritain itu si Jaffar, Ra. Buset, cocok sih!" Aris sungguh heboh.

Finding Herself (Selesai & Revisi)Where stories live. Discover now