18

75 50 13
                                        

Haii, gimana kabarnya hari ini!??

Dimana pun kalian berada, semoga hal-hal baik selalu berdatangan ya☄️☄️

Selamat membaca!

Sore menjelang malam, menjadi saksi rumah ini kembali hidup kala anak gadis yang sudah lama sekali tidak pulang telah menginjakkan kakinya kembali di sini. Rumah itu dibangun sekuat dan penuh keringat dari almarhum ayah dan sang ibu. Membuat rumah itu mempunyai makna tersirat bagi penghuninya. Alwa masih mengingat dengan jelas bagaimana ia tidur di satu ruangan sekaligus menjadi tempat berteduh saat kecil bersama dengan abangnya. Sekarang, rumah ini memiliki banyak ruangan hingga bisa dipakai untuk menampung banyak orang sedang berkunjung.

Sungguh azan subuh menggema dari masjid berada dekat rumah sang ibu, sangat membuat Alwa merindukan banyak hal di desa kecil ini. Entah itu hal biasa ataupun luar biasa, sulit, dan senang. Yang pada intinya Alwa sangat bersyukur karena ia mampu untuk terus bertahan dan bertahan. Selesai mandi dan berpakaian Alwa dan ibunya mengerjakan salat berjamaah, dengan sang ibu menjadi imam. Bukan hanya kehilangan ayah, Alwa juga kehilangan sang imam dalam keluarganya. Begitu juga sang ibu, ibu Tini juga kehilangan pemimpin dikeluarga kecil impian mereka. Tapi, dibalik semua hal itu mereka sudah mendapatkan nikmat bahagia yang telah dijanjikan oleh Sang Pencipta. Anak dan ibu selesai mengerjakan salat mereka, keduanya pun sama-sama merapikan mukena dan sajadah masing-masing.

"Ibu. Mau masak apa?" tanya Alwa ketika ibunya ingin kembali ke arah dapur.

"Nasi kuning dong. Karena kamu di sini, ibu akan memasak makanan kesukaan kamu. Kamu lebih baik siap-siap, biar nanti temen kamu nggak nunggu lama," ucap ibu Tini.

"Siap bos!" balas Alwa mengerti.

Alwa kembali ke kamar, untuk menyiapkan barang yang akan ia bawa bersama teman-temannya. Karena Alwa memposting bandara kotanya, langsung saja Alwa mendapatkan berbagai notif dari akun instagram. Banyak sekali pesan-pesan dari teman lama, tapi yang menarik perhatian Alwa ialah pesan ketiga manusia kocak di studi sarjananya. Di mana ketiga manusia itu secara serentak mengajak berkumpul esok di kantin kampusnya dahulu. Alwa memang ingin bertemu mereka, menyetujui dan nanti ia akan dijemput oleh salah satu temannya. Awalnya Alwa akan membawa kendaraan sendiri, tetapi temannya itu melarang sebab mereka searah dan tujuannya juga sama. Lebih baik pergi bersama-sama bisa sambil mengobrol, tidak ada salahnya, kan? Pikir temannya.

Kamar Alwa sudah banyak di renovasi, kecuali warna dan tata letak isinya. Sangat nyaman, karena dalam hidupnya masih ada sang ibunda yang teramat Alwa kasihi. Walaupun dulu saat masih tinggal bersama saling beradu argumen ataupun beradu emosi, tidak membuat hubungan keduanya terpecah. Malah semakin membuat keduanya bisa saling terbuka dan memahami. Poin dalam kehidupan Alwa ialah 'Ibu adalah segalanya' tanpa ibu Alwa hanya akan menjadi boneka terbuang. Kehilangan nenek dan ayah sudah cukup mengambil separuh hidup Alwa, jadi sekarang jangan berikan Alwa kehilangan lagi.

"Ini udah beres semua. Dari pada ngelamun mending aku ngelihat ibu masak, siapa tau ibu perlu bantuan," monolog Alwa melangkahkan kaki ke dapur.

"Inga," ucap bocah itu menguap.

"Lohh, Kenza dari mana?"

"Abis pipis, Inga," jawab Kenza menunjuk kulkas.

Dasar bocah! itu kulkas bukan toilet. Alwa pun mengendong Kenza dan membawanya kembali ke kamar. Bocah yang sebentar lagi masuk sekolah dasar itu sudah bisa bangun sendiri untuk sekedar buang air, walaupun dengan mata kantuk bocah itu tetap berjalan. Jika dilihat-lihat tingkahnya sama seperti orang tengah tidur berjalan. Memasuki kamar khas anak kecil, mengingatkan Alwa pada adik-adik yang ia jumpai di Papua pada saat program PMM. Sepertinya Alwa merindukan orang-orang di sana, sebab bersedia membantu dan menganggap Alwa keluarga. Bukan sekedar mahasiswa PMM, tamu, ataupun pendatang, ini lebih dari itu.

Finding Herself (Selesai & Revisi)Where stories live. Discover now