25

74 50 6
                                        

Haii, gimana kabarnya hari ini!??

Dimana pun kalian berada, semoga hal-hal baik selalu berdatangan ya☄️☄️

Selamat membaca!

Kesalahan besar dalam kehidupan ialah tidak mempunyai rasa tanggung jawab dan terima kasih terhadap diri sendiri. Kenapa? Karena hari di mana ketika telah terucap akan suatu pilihan, secara bersamaan juga beban tersirat telah diemban. Lalu, apakah bisa berlari dan melupakan saja hal itu? Jika kamu bertanya kepada orang lain maka seratus persen orang tersebut akan menjawab "Setiap orang punya kesempatan tapi menyelesaikan yang lalu merupakan pilihan terbaik dari berbagai solusi". Jadi, memilih lalu memulai atau memilih tapi masih abai? Semuanya kembali kepada mu, hidup adalah kejutan. Prosesnya butuh keputusan, perjuangan, pengorbanan, dan rasa sakit. Sebisa kamu dalam memilih semua itu, terpenting libatkan Dia seorang selalu senantiasa menemani.

Lantunan surat Yasin menggema di sebuah kediaman dengan tenda biru memenuhi halaman, terlihat warga memakai pakaian serba hitam dengan jejak air mata yang telah mengering pada wajah mereka. Ruang tamu kediaman bapak Handra dan ibu Marita penuh dengan warga yang datang melayat. Dua orang gadis saling menguatkan dengan tangisan tiada henti dari pagi tadi. Segala racauan sudah terucap, tapi tidak ada tanda akan terjadi keajaiban. Dalam hidup ini, mereka terlena akan riangnya dunia sehingga lupa kalau kematian akan datang untuk merenggut siapa saja. Penyesalan bagi mereka nyata adanya, tidak bisa berbincang untuk terakhir kali pada ayah dan ibu. Mereka lebih memilih berbincang pada orang-orang yang belum tentu bisa menjamin kehidupan ke depannya.

"Mbak, kenapa harus mendadak seperti ini? Kenapa gak kasih peringatan, agar Alany tau hal ini akan terjadi!" racau Lany terulang kembali.

Seorang gadis yang dipanggil dengan sebutan mbak tersebut, tidak mampu menjelaskan hal lain selain memberikan sang adik pelukan erat dengan air mata yang kembali turun.

"Katanya, setiap yang dekat dengan kematian pasti selalu diberi tanda untuk orang terdekat. Mungkinkah, Alany hanya anak adopsi, Mbak?" ujar Lany.

Kali ini, tangisan histeris Lany kembali menyerang. Sutra hanya bisa memberikan elusan lembut berusaha menenangkan sang adik yang masih saja terguncang dengan hal menimpa kehidupan mereka. Sutra merasakan hal yang sama, tapi jika keduanya terguncang hanya akan menyusahkan warga lebih banyak. Ia lebih memilih untuk menahan keterguncangannya dengan tetap memberikan elusan dan pelukan kepada sang adik. Hidup harus terus berjalan, sesudah ini entah apa yang akan terjadi dan entah bagaimana untuk menghadapi hari-hari yang menyeramkan tanpa ayah dan ibu.

Seseorang berpakaian formal meletakkan sebuah dokumen ke atas meja. Setelah meletakkan dokumen itu, dia kembali menatap seorang gadis dengan raut wajah yang belum bisa menunjukkan kebahagiaan.

"Sebuah surat dari ayah dan ibumu. Bacalah dengan Alany, jangan kalah hanya dengan kehilangan. Itu berat! Sangat berat! Tapi, apakah kamu bersedia untuk hancur kedua kalinya?" ucap seseorang tersebut.

Sutra menggeleng pelan, sebenarnya Sutra sudah memikirkan banyak hal agar bisa mengambil keputusan. Benar apa yang dikatakan sosok wanita di hadapannya, tetapi hati Sutra masih terasa sakit dan belum kering entah sampai kapan.

"Jika hari ini kamu dan Alany belum juga memutuskan, jangan salahkan bukde jika nanti bertindak tanpa memikirkan kalian!" desaknya.

"Putuskan hari ini! Bukde tunggu sebelum hari berganti!" sambungnya. Kemudian wanita tersebut melenggang pergi meninggalkan kediaman Handra.

Helaan napas dan kepala yang memberat, membuat Sutra ingin mengakhiri hidup saat ini juga. Pasti akan ringan dan tidak berat lagi, pikirnya. Ia segera kembali ke kamarnya untuk tidur meninggalkan dokumen itu tanpa berinat untuk membacanya. Sutra butuh tidur agar bisa membicarakan hal ini kepada Alany saat dia pulang sekolah.

Finding Herself (Selesai & Revisi)Where stories live. Discover now