7. Kambuh

881 73 40
                                        

Ruka mengerjapkan matanya melihat ruang rapat himpunan yang sudah ramai orang. Padahal Jeno baru saja memberi pengumuman. Mereka yang terlalu garcep? Atau Ruka yang kelamaan?

Jeno yang melihat Ruka dia di ambang pintu langsung menyusulnya. " Hey... kok bengong sih? Ayok masuk." Ajak Jeno menggandeng tangan Ruka untuk masuk ke dalam.

" Kak ini sebenernya kita mau rapat apa? Kok tumben anak - anak pada garcep? Biasanya juga ngaret semua." Heran Ruka.

" Kamu lupa? Sebentar lagikan masuk ajaran baru. Kita harus persiapan buat ngospek adek tingkat nanti." Ucap Jeno.

Ruka membelalakan matanya, " Lah?!! Udah ajaran baru? Cepet banget anjir. Perasaan gue baru masuk kuliah bentaran." Kaget Ruka menepuk jidatnya.

" Ya lo aja yang kebanyakan bolos." Ucap Beomgyu duduk di samping kursi Ruka.

Dengan jarak sedekat ini, Ruka dapat dengan mudah menarik rambut panjang Beomgyu ke belakang, " Ngaca! Lo sama gue sama aja. Bandar bolos di kampus." Ucap Ruka.

" Haduhhh kalian ini, sama-sama bandar bolos kok saling ngebully sih? Heran deh kalian kok bisanya lolos masuk seleksi anggota himpunan." Heran Winter.

" Ya karena waras." Kompak Ruka dan Beomgyu.

Jeno terkekeh melihat kelakuan keduanya. " Udah ah, mumpung udah pada ngumpul kita mulai aja rapatnya." Ucap Jeno duduk di tempatnya.

Rapatpun dimulai, mereka membahas konsep dan projek apa yang akan mereka lakukan dan perkenalkan kepada calon mahasiswa baru nantinya.
































































































" Okey rapat kita cukupkan. Ingat ya sama pembagian tugasnya. Kalau bisa semua kebutuhannya udah dipersiapkan mulai besok. Kalau ada apa-apa bisa hubungin gue atau Karina." Ucap Wonbin menutup rapatnya.

" Siap kak..." Merekapun mulai meninggalkan ruang rapat satu persatu.

Karina yang masih ada di sana langsung menghampiri Wonbin yang menenggelamkan wajahnya di atas tumpukan tangannya. Sedari tadi ia dibuat khawatir dengan wajah pucat dan tubuh Wonbin yang terlihat lemas, tidak bersemangat seperti biasanya.

" Bin...lo kenapa? Sakit ya?" Tanya Karina menepuk pundak Wonbin pelan.

Pharita yang juga masih di sana ikut menghampiri. " Kak Wonbin kenapa?" Tanya Pharita pada sang kakak dan Karina hanya membalas dengan gelengan kepala.

" Kepala gue pusing banget rin." Ucap Wonbin terdengar lemas.

Karina dan Pharita menatap Wonbin khawatir. " Bin sini deh lihat gue dulu." Karina berusaha mengangkat kepala Wonbin perlahan.

" Yaampun kak Wonbin pucet banget. Kakak sakit ya? Ke rumah sakit aja yuk."  Ucap Pharita meraih lengan kanan Wonbin.

Wonbin menggeleng, " Kakak nggakpapa." Ucap Wonbin masih bisa tersenyum.

" Lo udah makan belum?" Tanya Karina yang dibalas gelengan kepala oleh Wonbin.

" Astaga Wonbin!! Lo punya asam lambung bisa - bisanya lo belum makan? Ini udah jam 1 siang dan jangan bilang lo belum sarapan juga?" Tanya Karina dibalas anggukan oleh Wonbin.

" Wonbin astaga!! Yaudah gue beliin makanan dulu ya sekalian ambil obat di uks." Ucap Karina.

Wonbin menggeleng, " Mending kita ke kantin aja. Gue masih kuat kok buat jalan. Telfon yang lain sekalian gabung pasti mereka juga belum makan." Ucap Wonbin.

Perfect Husband [Kawaibbin]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang