27. Trimester awal

879 71 5
                                        

Trimester pertama memang masa-masa rentannya wanita di masa kehamilan. Itupun dirasakan Ruka yang setiap paginya mengalami morning sickness. Bangun tidur ia akan mengalami mual hebat, dan lemas disekujur tubuhnya. Belum lagi, ia harus tetap melakukan aktivitasnya sebagai mahasiswa. Padahal Wonbin sudah memohon kepada Ruka untuk melakukan cuti hamil, nyatanya permohonanya tidak dikabulkan dan istri cantiknya itu kekeh untuk tetap berkuliah.

Pagi ini, Ruka terbangun dengan kondisinya yang tidak baik-baik saja. Sejak pukul tiga pagi Wonbin terjaga karena Ruka yang merasa sakit dibagian perut dan kepalanya.

Dengan sebaskom air hangat, ia melangkah berhati-hati mendekati istrinya yang kini duduk bersandar di atas kasur. " Sayang...aku lapin dulu ya badannya biar seger. Pasti lengket ini banyak keringetnya." Ucap Wonbin menyisir ranbut Ruka yang penuh keringat dengan tangannya.

" Aku mau mandi aja kak, kalau dilap doang tetep gerah." Ucap Ruka yang tubuhnya sudah melemas.

" Tapi kamu lagi lemes begini sayang, udah ya jangan banyak gerak, aku nggak izinin kamu turun dari kasur." Ucap Wonbin mulai memeras handuk hangat yang ia buat.

Ruka merengut sebal, " Yaudah mandiin aja kan nggak banyak gerak akunya." Ucapnya membuat Wonbin menatapnya sabar.

" Sayang nurut bisa kan?" Ucap Wonbin lembut tapi tetap tegas. Bukan apa-apa, jika kondisinya tidak seperti ini, Wonbin pasti dengan cepat menuruti permintaan istrinya tersebut, sayangnya ia harus menahan karena tidak mau sesuatu terjadi kepada Ruka. Kondisi kandungannya masih sangat rentan.

Wonbinpun melepas piyama yang Ruka pakai dan tersisa crop top berwarna hitam. Ia mulai mengusap lembut handuk hangatnya ke kulit mulus istrinya. Sesekali matanya melirik ke arah Ruka yang cemberut. Istrinya itu pasti ingin protes tetapi tidak punya cukup tenaga untuk berdebat.

" Aku udah telfon mimi buat nemenin kamu selama aku bimbingan hari ini. Aku janji nggak sampe sore kok." Ucap Wonbin.

" Tapi hari ini aku ada kelas kak, masa mau ijin lagi? Minggu ini aku udah tiga kali ijin tau." Protesnya.

Wonbin tau istri cantiknya itu pasti melayangkan protes, ini memang sudah kali ketiga ia meminta istrinya untuk beristirahat di rumah. Bukan tanpa sebab, jelas alasan utamanya adalah karena kekhawatiran.

" Sayang...kamu nggak inget? Kemarin waktu maksain kelas kamu malah hampir pingsan? Untung waktu itu ada temen kelas kamu yang lapor ke aku." Ucap Wonbin mengomel tapi nadanya tidak tinggi sama sekali.

Ruka menekuk wajahnya, " Tapi aku bosen kak kalau diem di kamar terus. Kasihan mimi sama mami juga harus bolak-balik ke sini. Mereka juga punya kesibukan. Pleaseee aku pingin ikut kelas ya hari ini, janji deh kalau udah nggak kuat aku langsung telfon kakak." Ucap Ruka memajukan tubuhnya memeluk lengan suaminya.

Wonbin menghela nafas, " Yaudah boleh, tapi janji harus kabarin aku terus." Ucapnya memberi ijin. Rukapun mengangguk semangat mendengarnya.



















































































































Jika kalian pikir persahabatan Ruka dan dua kakak beradik itu sudah membaik, kalian salah. Keduanya kompak memusuhi Ruka dan enggan berkomunikasi lagi dengannya. Mereka tetap bersikukuh untuk mendekati Wonbin setelah tau jika pernikahan Wonbin dan Ruka adalah hasil perjodohan.

Apakah Ruka menyadarinya? Tentu. Tapi, ia membebaskan keduanya untuk berkomunikasi dengan suaminya hanya dibatas wajar. Ia sebagai perempuan juga mengerti bagaimana perasaan mereka saat mengetahui bahwa orang yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain. Jika mereka melewati batas? Tenang Ruka punya dua mata-mata sekarang, yang akan mengawasi dua manusia yang masih ia anggap sebagai sahabatnya itu. Ruka selalu berdoa untuk keduanya agar segera sadar dan hubungan mereka bisa membaik.

Perfect Husband [Kawaibbin]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang