" Eunghh..." Ruka membuka matanya merasakan kepalanya yang berdenyut hebat. Ia mengerjap berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ruangan tak asing itu membuat Ruka sontak membelalakkan matanya. Bagaimana dirinya bisa ada di sini? Meskipun ia mabuk berat, ingatannya masih merekam jelas dimana dan apa yang ia lakukan sebelum tak sadarkan diri.
" Kok gue bisa ada di kamar?" Tanya heran. Ia beranjak dari tidurnya, berubah posisi menjadi duduk bersandar pada headbord kasurnya.
Ada sesuatu yang aneh, Ruka menoleh ke arah kaca lemari yang ada di sampingnya. Benar saja, ia sudah memakai pakaian yang berbeda. Matanya kembali membelalak saat menyadari sesuatu.
" Jangan-jangan..." Panik Ruka menutupi seluruh tubuhnya.
Tak lama pintu kamarnya terbuka memperlihatkan suaminya yang masih menggunakan piyama berdiri tegap dengan sebucket bunga ditangannya.
" Loh udah bangun?" Wonbin menghampiri Ruka yang baru saja bangun.
Ruka memundurkan tubuhnya waspada.
" Udah bangun sayang? Gimana kepalanya, pusing nggak?" Tanya Wonbin mengusap kepala Ruka dengan sayang.
Dengan cepat tangan Ruka menepisnya,
" Lo pasti apa-apain gue ya semalem? Jangan-jangan lo udah lihat semuanya? Oh may goshhh jadi gue udah nggak suci lagi?! Kak asli lo jahat banget nggak ijin gue dulu!!" Ucapnya memukuli tubuh suaminya dengan bantal.
Wonbin merebut bantal itu dan menahan kepala Ruka yang ingin menyeruduknya,
" Heyy, kamu habis mabok jadi nglantur gini ngomongnya. Siapa yang apa-apain kamu? Semalem aku cuma gantiin baju kamu doang kok, lagian wajar kalau aku lihat kan udah sah." Ucap Wonbin.
Ruka menyipitkan matanya, " Beneran?? Terus kenapa ada bucket bunga segala? Pasti lo happy kan kar-hmphhhh." Ia mendengus saat Wonbin menyambar bibirnya begitu saja. Entah mengapa suaminya itu akhir-akhir ini hobi sekali menciumnya tiba-tiba.
" Jangan mikir macem-macem dulu sayang. Aku bawain bunga buat kamu karena mau apresiasi istri aku yang hebat ini." Ucap Wonbin membuat Ruka menautkan alisnya bingung.
Prestasi apa yang Ruka raih? Atau kebaikan apa yang sudah Ruka lakukan? Suaminya itu benar-benar aneh, pikirnya.
" Apresiasi apaansih?" Tanya Ruka bingung.
Wonbin tersenyum tulus menarik tangan Ruka untuk duduk di pangkuannya. " Sini deh."
Wonbin menyerahkan bucket itu pada Ruka lalu kedua tangannya bergerak memegang sisi kepala Ruka dan menautkan kening keduanya. Mereka diam sejenak saling bertukar udara dan merasakan kehangatan yang kini menyelimuti keduanya.
" Terimakasih ya kamu udah jadi wanita yang kuat. Aku banggaaaaa banget sama kamu. Dimasa sulit kamu, dimasa terpuruknya kamu, kamu masih bertahan sehebat itu. Aku bersyukur banget Tuhan ciptain kamu buat aku, karena kamu aku tau artinya sebuah kebahagiaan. Meskipun badai di luar sana terus menerjang, tetep jadi Ruka yang kuat ya. Apalagi sekarang punya aku yang selalu siap ada di samping kamu, menguatkan kamu, dan jadi garda terdepan buat kamu." Ucap Wonbin tanpa menjauhkan keningnya.
" Kak..." Lirih Ruka.
" Aku tau semuanya, sayang." Dan detik berikutnya Ruka menghambur kepelukan Wonbin. Menumpahkan segala amarah, ketakutan, dan kegelisahan yang ia pendam.
Wonbin sigap menguatkan Ruka, ia nyamankan posisi Ruka dalam pangkuannya lalu mengusap punggung gadis kuatnya itu. Bibirnya tak berhenti bergumam dan sesekali mengecup puncak yang lebih muda.
Ruka semakin sesenggukan, emosinya benar-benar memuncak begitu saja.
" Puasin nangisnya yaaa...gapapa kok keluarin semuanya kalau perlu buat baju aku jadi basah kuyup." Ucapnya mengeratkan pelukan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Husband [Kawaibbin]
RomantikKisah rumah tangga Ruka dan Wonbin si pasutri muda
![Perfect Husband [Kawaibbin]](https://img.wattpad.com/cover/383847962-64-k130271.jpg)