Pagi itu, udara di dorm terasa lebih tegang dari biasanya. Biasanya, riuh rendah canda tawa mengisi setiap sudut ruangan, tapi hari ini, suasana terasa lebih sunyi. Jay dan jake, yang biasanya paling berisik, kini bergerak hilir mudik dengan cekatan, menyiapkan sarapan untuk Sunoo. Setiap gerakan mereka terasa begitu hati-hati, seolah membawa beban yang tak terlihat.
Sunoo hanya duduk di sofa, mengamati mereka dari kejauhan. Wajahnya yang biasanya ceria kini terlihat sedikit lesu. Ia menghela nafas pelan, lalu melirik ke arah Jay yang sedang sibuk dengan masakannya.
“Kamu mau susu rasa apa, Sunoo?” tanya Sunghoon dengan suara yang terdengar sedikit gugup.
Sunoo mengerjap, sedikit terhenyak karena pikirannya yang melayang entah ke mana.
“Eh, apa saja hyung,” jawabnya cepat.
Jake yang mendengar itu langsung menoleh, matanya bertemu tatap dengan mata Sunoo sejenak sebelum ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.
“Tidak perlu, Hoon. Biar aku saja yang menyiapkan untuk Sunoo,” sahut Jake, dengan suaranya yang terdengar tegas.
Sunghoon mengerutkan keningnya bingung, namun ia tidak mencoba membantah. Ada keheningan singkat sebelum Sunoo kembali bersuara.
“Terima kasih, Jake,” ucapnya lembut. dan Jake hanya mengangguk kecil, lalu kembali fokus pada susunya.
Suasana canggung semakin terasa saat mereka sarapan bersama. Setiap suapan yang masuk terasa begitu berat. Sunoo sesekali melirik ke arah Jay, dan Sunghoon, namun keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
matanya masih mengikuti setiap pergerakan dari para member. rasanya Ada yang janggal. Biasanya, suasana dorm ketika sarapan seperti ini akan penuh dengan canda tawa mereka, tapi kali ini terasa ada dinding tak kasat mata yang memisahkan satu sama lain. Sunoo tidak tahu pasti sejak kapan perubahan ini terjadi, namun ia merasakannya dengan jelas.
Interaksi mereka yang biasanya hangat kini terasa canggung. Tatapan mata yang biasanya penuh semangat kini terlihat saling menghindar. Bahkan, saat Sunoo mencoba membantu mereka untuk memulai obrolan, respon mereka terasa datar. Sunoo bingung, sebenarnya apa yang terjadi?
Puncak ketegangan terjadi saat Sunoo tadi pagi, tanpa sengaja, mengungkapkan keinginannya yang tiba-tiba: patbingsoo.
Tentu saja Jay dan Jake, dengan refleks, menolak mentah-mentah permintaan itu.
Namun, Sunghoon, dengan lembut tapi tegas, membela Sunoo, “Sedikit saja kan tidak apa-apa.” katanya. Pernyataan itu dengan segera memantik kerutan ketidaksetujuan di wajah Jay dan Jake.
Menyebabkan suasana mendadak tegang. Sunoo, yang selalu peka terhadap perasaan orang lain, berusaha menenangkan suasana dengan mengatakan bahwa tidak apa-apa, makan patbingsoo bisa lain kali.
Meski kerongkongannya meronta-ronta menginginkan kesegaran patbingsoo di pagi hari. Ia tahu, dalam kondisi hamil, ia memang harus ekstra berhati-hati. Cuaca yang buruk semakin memperkuat alasan untuk menunda keinginan kecilnya itu.
Sunoo kembali termenung, matanya mengikuti pola lantai yang samar di bawah cahaya lampu redup.
ia tahu mereka peduli padanya. Tapi, akhir-akhir ini, perhatian mereka terasa berbeda. Terlalu intens. Tatapan mereka, yang biasanya penuh kasih sayang, kini terasa menusuk. Ia mencoba untuk tidak memikirkannya terlalu dalam. Mungkin memang karena dirinya hanya terlalu sensitif. Namun, setiap kali mereka bersama, Sunoo merasakan sebuah gelombang emosi yang kompleks. Ada persaingan yang tersembunyi, sebuah perebutan yang tak terucapkan.
Pada dasarnya Sunoo sudah mulai mencurigai ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan di antara mereka. Tatapan mata mereka yang terkadang menghindar, sentuhan yang terlalu lama bertahan, dan perhatian yang begitu berlebihan membuatnya merasa tidak nyaman. Namun, Sunoo berusaha untuk tidak memikirkannya terlalu jauh. Ia tidak ingin merusak apa yang sudah terjalin dengan baik diantara mereka.
Lagi pula sejak awal Sunoo sudah memutuskan untuk membesarkan anaknya sendiri. Perasaan yang pernah ada, ia coba kubur dalam-dalam. Ia tidak ingin terlibat dalam hubungan yang rumit. Namun, perhatian dari ketiga sahabatnya itu perlahan-lahan mulai menggoyahkan tekadnya.
Jay, dengan senyum khasnya, selalu berusaha membuatnya tertawa. Jake, dengan sifatnya yang hangat, selalu ada di sisinya untuk mendengarkan keluhannya. Dan Sunghoon, dengan ketegasan dan kedewasaannya, selalu memberikannya rasa aman. Sunoo tahu, ketiga sahabatnya itu sangat menyayanginya. Tapi, perasaan itu justru membuatnya semakin bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
suddenly being mom
Hayran Kurguketika enha hidup di dunia omegaverse, dan sunoo adalah satu-satunya omega di group tersebut. warn! ABO! mpreg! little angst! jaynoojake sunoo omega jay alpha jake alpha #jaynoo #jakenoo slight #yangsun #sunsun
