28. hamil lagi? (sequel)

1K 63 3
                                        

Sunoo menatap kosong kotak test pack yang tergeletak di meja rias, seolah benda kecil itu bisa memberinya jawaban lain.
​Di luar dugaan, ketakutan yang mencekiknya ini terasa aneh.
Aneh? ya memang aneh. Sunoo sudah menikah, sudah punya Alpha yang sah, tapi ia justru merasa seperti tersangka. Punya suami tapi takut hamil adalah lelucon kosmik-dan Sunoo, sang bintang panggung, kini sedang menjadi objek lelucon itu. Tapi, pikiran tentang kehamilan justru mengirimkan gelombang panik yang dingin pada Sunoo

​Masalahnya bukan hanya pada rasa takut itu; masalah utamanya adalah waktu.
​Jadwal heat-nya sudah terlambat satu minggu penuh.
​Sudah seminggu, aroma Omega manisnya terasa tenang, tidak ada gejolak gairah yang menguasai, dan suhu tubuhnya normal. Ia sudah mencoba berkali-kali tapi semua test pack menunjukkan hasil yang sama: satu garis tegas.
​Seharusnya ia bisa bernapas lega, bukan? Secara medis, ia tidak hamil.
​Namun, jika ia tidak hamil, lantas kenapa heat-nya tidak datang juga?
Asal k​alian tahu, ketidakpastian ini lebih mengerikan daripada hasil positif. Wajah Sunoo tampak cemas, dengan tatapan penuh pertanyaan. Keterlambatan heat tanpa kehamilan yang terdeteksi adalah anomali, sebuah misteri tubuh Omega yang menggantungkan ketenangan batinnya di ujung tanduk.

Sunoo tahu betul aturan aneh dalam biologi Omega: kehamilan bisa terjadi secara 'senyap'. Ia mungkin saja hamil, tetapi kadar hormon dalam urinenya belum mencapai titik jenuh untuk memunculkan garis kedua di test pack.
Parahnya, absennya gejala fisik apa pun-tidak ada mual, tidak ada ngilu di perut-justru membuat Sunoo semakin paranoid. Ia merasa normal, dan kenormalan itu adalah bahaya terbesar.
Sebab, Sunoo sudah kembali aktif di dunia entertainment, dan setiap hari ia menghabiskan waktu berjam-jam dalam ruang latihan dance yang intens demi comeback grup mereka yang sudah di depan mata.
Jujur, Sunoo belum siap untuk kehamilan kedua. Mereka baru saja menata kembali hidup setelah menjadi orang tua, dan kini ambisi kariernya sedang membara.
Namun, naluri Omeganya berteriak.
Ia mungkin belum menginginkan kehamilan ini, tapi ia sama sekali tidak tega jika menjadi penyebab bahaya bagi darah dagingnya, buah hati dari Alpha yang ia cintai. Kini setiap gerakan lincah di panggung terasa seperti mengkhianati potensi kehidupan yang mungkin sedang tumbuh di rahimnya.
Dilema ini mencekiknya. Haruskah ia diam dan terus berlatih, berharap hasil test pack yang negatif itu benar? Atau haruskah ia menyerah, menghentikan segalanya, dan memberitahu Jay (suaminya) tentang kecemasan yang terasa tidak berdasar ini?

Sunoo tersentak, lamunannya buyar, seolah kaca di kepalanya pecah, saat ketukan pelan terdengar di pintu. "Masuk saja, tidak dikunci," sahutnya. Dengan gerakan panik dan tergesa, ia menyambar benda kecil-test pack-dari nakas dan langsung melemparkannya ke dasar tempat sampah. Itu adalah rahasia yang harus terkubur cepat.

Pintu berderit, menampakkan sosok Sunghoon yang gagah, dengan Janoo digendongannya. Sunoo seketika terkekeh gemas; Janoo sudah didandani dengan gaya nyentrik: topi kupluk, jaket oversize berwarna hijau neon yang menenggelamkan bahu kecilnya, dan celana selutut. sangat tampan.

"Sunoo," panggil Sunghoon lembut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Sunoo," panggil Sunghoon lembut. Matanya yang tajam sempat menangkap kilasan aneh di wajah Sunoo, namun ia memilih mengabaikannya. "Aku izin mengajak Janoo keluar sebentar, ya. Boleh?"

suddenly being momTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang