18. suddenly being mom

1.3K 105 14
                                        
















Barangkali luka terdalam yang pernah ia rasakan adalah kenyataan pahit bahwa cinta yang ia dendamkan tak kunjung menjadi miliknya. Tawa bahagia sang pengisi hati bagai tamparan nyata, menguatkan bahwa ia tak lagi punya ruang dalam kisah cinta itu.

Seandainya roda waktu berputar lebih cepat, mungkin pria itu sudah lebih dulu mengikat Sunoo dalam ikatan takdirnya. Meski peluang itu selalu ada, namun nyatanya ia justru terbelenggu oleh keraguan, seakan menunggu waktu yang tak kunjung sampai. Sungguh, ia bagai pengecut yang menyembunyikan perasaan tulus di balik topeng penantian.
Dan jika waktu dapat  berputar kembali, ia berharap bisa memberitahu bahwa dia di ciptakan untuk mencintai sunoo, untuk mencintai nya dengan sepenuh hati.
Namun kata-kata itu lagi-lagi hanya ia telan sendirian. pemuda  itu terkekeh pahit, mentertawakan kebodohannya sendiri. kini lilin harapannya sudah padam perlahan, tertelan oleh kegelapan penyesalan.

sang alpha merasa dirinya tak bisa memahami cinta. kesabaran yang ia pupuk sejauh ini juga terasa sia-sia, waktu bahagia yang ia nantikan pun nyatanya tidak akan pernah menjadi nyata. Lalu mampukah ia melepaskan diri dari penjara khayalan yang membelenggu hatinya? pemuda itu menghela nafas panjang, sebuah keluhan hati yang terulang berkali-kali sepanjang hari. seolah hal itu dapat membawa serta kepedihannya yang semakin dalam.

Dalam kegelapan malam itu Sunghoon memejamkan mata, jemarinya mencengkeram pagar rooftop yang dingin. Merasakan angin malam yang menerpa wajahnya, namun tak mampu mendinginkan api cemburu yang berkobar di dalam hatinya. Ia iri pada bintang yang bebas bersinar, sementara dirinya terbelenggu oleh keraguan dan kesedihan.
Cahaya rembulan di langit malam seakan mengejeknya, mengingatkannya pada cinta yang tak pernah sampai. Sunghoon meremas dadanya pelan, “Kenapa cinta segampang itu bagi bintang, tapi begitu sulit untukku?”

Tepukan lembut di bahu membuatnya tersentak. Sunghoon menoleh, tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang penuh kehangatan. Sunoo berdiri di sana, dengan rambut yang sedikit berantakan karena tertiup angin malam. Senyum tipis juga menghiasi wajahnya yang pucat karena hawa dingin.

Jantung Sunghoon berdebar tak terkendali. Kenapa Sunoo ada di sini, di malam yang dingin seperti ini? “Kenapa malam-malam ada di sini, cuacanya sedang dingin Sunoo, kenapa juga tidak memakai jaket huh?” Sunghoon berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan nada sedikit ketus.

yang  di balas decihan  kecil oleh sang omega, “sunghoon hyung cerewet seperti biasa”. gumamnya sebal.

“tidak bisa tidur, dan aku merasa gerah jadi malas pakai jaket.” Ia menjawab dengan nada manja, berusaha menghentikan rentetan pertanyaan Sunghoon.

sang alpha melepas jaketnya dengan gerakan cepat, lalu menyampirkannya ke bahu Sunoo. “Jangan bantah. Dingin di sini.” Suara Sunghoon terdengar tegas, namun ada sedikit kelembutan di dalamnya. Mata mereka bertemu sejenak, lalu  sama-sama tertuju pada langit malam yang luas.

Sang alpha duduk bersimpuh di lantai yang dingin, dengan tubuhnya yang sedikit meringkuk. kemudian disusul Sunoo yang ikut duduk di sampingnya. Keduanya terdiam, memandang langit malam yang gelap. Angin malam perlahan menerpa lembut wajah mereka yang rupawan, membawa serta aroma tanah basah.

“Kenapa  malam-malam di sini hyung?” tanya Sunoo dengan suara lembutnya, memecah keheningan.

Sunghoon tersenyum tipis, “hanya ingin, kamu juga kenapa kesini malam-malam begini?”  sunghoon balik bertanya.

“cari angin, karena tidak bisa tidur saja sih, habisnya tidak ada yang mengelus-elus perut ku.”

Melihat ekspresi Sunoo yang cemberut itu, Sunghoon hanya bisa tersenyum masam. Andai saja dia alpha yang beruntung itu, pasti dia akan selalu siap memanjakan omega di sampingnya ini. “Jay, Jake?” tanya Sunghoon lagi.

suddenly being momTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang