21. suddenly being mom

697 83 23
                                        

Detik-detik berlalu terasa begitu lambat bagi Sunoo. Pandangannya tak lepas dari pintu utama, berharap setiap bunyi derit pintu adalah kedatangan kedua hyung nya.  Sunoo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan gejolak kecemasan yang semakin membesar.
Bayangan-bayangan gelap mulai menari-nari di benak Sunoo. Kenapa mereka belum pulang? Apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu membuncah, menggerogoti ketenangannya. Setiap bunyi samar dari luar membuat jantungnya berdebar kencang.

Riki yang melihat itu hanya bisa menghela napas, tangannya meraih bahu Sunoo berusaha memberikan sedikit ketenangan. “Hyung, jangan khawatir berlebihan. Mereka pasti pulang kok,” ucap Riki lembut, namun kata-kata itu tak cukup meredakan gelisah yang dirasa Sunoo.

“Sekarang hyung duduk dulu, ya? Pasti lelah sekali mondar-mandir dari tadi.” bujuk alpha yang lebih muda. jemarinya mengusap pelan lengan Sunoo, berusaha menenangkan.

Sang omega mengangguk lemah, kakinya memang sudah terasa seperti kapas. lantas Ia memilih untuk menurut pada ajakan Riki dan duduk di sofa.

Heeseung ikut menghampiri, tangannya terulur meraih tangan Sunoo. “Mereka pasti baik-baik saja, Yakinlah.” Nada suaranya penuh keyakinan, namun dari sorot matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang sama. heeseung tidak bisa menyalahkan sunoo sepenuhnya, Jay dan Jake pergi dalam keadaan yang tidak baik, dan sampai larut malam seperti ini pun mereka belum juga menampakkan diri. Siapa yang tidak cemas dalam situasi seperti ini?

“Minum ini dulu, Hyung," ujar jungwon lembut, suara baritonnya mengalun merdu di udara. Mata Jungwon, berkilat sendu, menatap dalam ke arah sang Omega yang tengah duduk di sofa, terlihat lelah. “Dari siang kamu belum makan banyak loh.” ujarnya seraya menyodorkan segelas susu hangat yang mengepulkan uap tipis.

Tangan Sunoo meraih gelas susu yang Jungwon ulurkan, jemarinya  menggenggam gelas  itu erat-erat, seolah-olah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menambatkannya pada kenyataan.
Ia meneguknya perlahan, seolah-olah setiap tegukan adalah upaya terakhir untuk bertahan. Namun, saat cairan hangat meluncur melewati tenggorokannya ia hanya merasakan kehampaan yang semakin dalam.

“Sunghoon hyung sedang membelikanmu patbingsu, lho. Kamu kan kemarin bilang ingin sekali makan itu,” ujar Jungwon dengan nada ceria, berusaha memecah kesunyian. Namun yang ia lihat hanya senyum Sunoo yang terasa dipaksakan.

“mana bisa aku makan, sedangkan aku khawatir mereka...” Ucapannya terhenti, seolah kata-kata tak mampu lagi mengekspresikan perasaan rumit yang sedang Sunoo rasakan.

“Aku tahu kamu khawatir, hyung. Tapi, aku yakin Jake hyung dan Jay hyung hanya sedang butuh waktu untuk semuanya. Mereka pasti akan baik-baik saja.”

“Aku tetap tak mengerti, Jungwonie,” lirih Sunoo, lalu ia menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. “Jake hyung mungkin saja kecewa, tapi Jay hyung? apa mungkin ini bentuk penolakannya?”

Jungwon menghela napas panjang, hatinya seolah teriris melihat orang yang ia sayangi begitu terpukul seperti ini. “ini memang sulit untukmu, hyung. Sangat sulit. Tapi, kuharap kau bisa percaya padaku. Jay hyung tidak mungkin  melakukan itu. Pasti ada alasan di balik keputusannya tadi. jadi  jangan berpikiran negatif lagi, ya? kasian gummy”

“Tapi aku merasa terasing, Jungwon!” Sunoo memeluk lututnya erat-erat, air matanya  jatuh berderai membasahi pahanya yang terbalut kain piyama. “Aku merasa seperti tidak berarti bagi mereka. Kenapa mereka egois dan  meninggalkanku begitu saja?”

“Sunoo, mereka tidak egois. Mereka hanya sedang berusaha mengatasi perasaan mereka masing-masing. Kita semua sedang belajar untuk menerima kenyataan hyung.”
Jungwon memeluk Sunoo erat, berusaha memberikan ketenangan.

suddenly being momTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang