30.

310 28 0
                                        

katanya neraka terberat di dunia adalah penyesalan
ternyata, itu benar adanya .

Pemakaman itu menjadi saksi bisu atas kepergian dua sosok yang sangat berarti bagi Karina. Meskipun telah tumbuh dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing, ikatan darah antara Karina dan kedua orangtuanya tak pernah putus.Meskipun sempat melihat wajah terakhir mereka, rasa kehilangan itu begitu nyata. Air mata yang berusaha ia bendung perlahan menetes, membasahi pipinya. Ya, siapa yang tak terluka ketika harus merelakan kepergian orangtua? walau jarak dan kesibukan sempat menjauhkan mereka, kasih sayang Karina pada kedua orangtuanya tak pernah pudar. Mereka adalah akar dari segala pencapaiannya. Jevano, dengan setia, menggenggam erat tangan Karina, menjadi sandaran di tengah badai duka.

karina menundukan kepalanya dibawah payung hitam yang digenggam jevano.
Karina menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak emosi yang hampir membanjiri hatinya, ia merasa telah mencurahkan segalanya dalam doa yang tulus.

setelah pemakaman selesai , para tamu kian beranjak pergi dan kini menyisakan karina dan suaminya .

" kamu gapapa kalau aku mau tunggu sebentar lagi disini? " tanya karina
jevano mengangguk " iya , aku pasti bakal temenin kamu " imbuhnya

Karina masih larut dalam kesedihan, bersimpuh di hadapan pusara
karina tak menangis disana, ia hanya mengucapkan sepatah dua patah kata yang benar-benar berasal dari hatinya yang paling dalam , yang selama ini ia simpan.

Tiba-tiba, keheningan pecah. Anne ( kakak karina)  muncul dari kejauhan, aura dominannya memenuhi udara
Langkahnya angkuh, setiap langkah seakan menginjak-injak perasaan rapuh Karina

" gausah dramatis! " ujarnya seraya melepas kacamata hitam nya
" gausah lama lama disini, kita harus bicarain kepemilikan warisan " tuturnya tanpa rasa malu
" otak lo dimana? kita masih berkabung Anne? bisa gak jaga dulu sikap lo " timpal karina, ia tak mampu lagi menaikan nada bicaranya

Dengan langkah tenang, mertua karina itu mendekat. Tatapannya yang lembut tertuju pada menantunya yang terlihat sangat pucat. Seolah merasakan kegelisahan Karina

" tolong tunggu sebentar, istri saya perlu waktu  " kata jevano membentengi istrinya

" waktu? buat apa? bersedih?
heh rin! selama bokap nyokap kita masih idup aja lu nggak keliatan berbakti kok sama mereka " sarkas anneisha

" kamu ini kenapa sih yaampun? " ujar mami yang kebetulan berada disitu juga

" jaga bicara kamu, kita gabisa lihat perasaan orang Anne..
bagaimanapun sikap karina pada ibu dan ayahnya, terlihat tidak peduli atau apapun tapi dia tetap seorang anak
seorang anak yang baru kehilangan orangtuanya
wajar dia sedih..
kamu juga seharusnya jaga etika " protes mami yang juga membela karina

" terserah yang penting lo cepet balik deh gausah rese..  gue tunggu dirumah " ucapnya kemudian pergi
" huh dasar gundik! " timpal mami

" mami , maaf ya" ujar karina, tak enak atas perlakuan Anne kepada mertuanya

" gapapa sayang, ini minum dulu
kamu pucet banget.. mau pulang sekarang gak? kayaknya kamu belum makan juga ya? "  mami menyodorkan sebotol mineral pada karina

karina mengangguk setelah menerima pemberian mami nya

" iya ,kita pulang sekarang" kata karina

sebelum menjejakan kaki di rumah lama karina,
ia dan Jevano mampir ke restaurant terdekat untuk mengisi tenaganya.

kemudian keduanya bergegas rumah tua itu untuk memenuhi panggilan Anne
Rumah tua itu menyambut mereka dengan keheningan yang mencekam. Setiap sudut ruangan seakan berbisik tentang kenangan indah yang dulu pernah ada.

eye to eye Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang