Hujan rintik-rintik mulai berubah menjadi deras ketika Karina tiba di apartemen Eury. Dengan langkah gontai, ia memasuki ruang tamu yang hangat. Eury menyambutnya dengan secangkir teh hangat.
"thanks" ucap Karina lirih, matanya berkaca-kaca.
"udah rin,nginep dulu aja ya disini " Eury mengelus lembut bahu sahabatnya. "i'm always here for you"
Karina hanya mampu mengangguk lemah. Pikirannya masih berkecamuk memikirkan kenyataan yang dibicarakan oleh Anne .
"terus mau gimana , Rin? Masalah ini cukup serius. gak mungkin, kan, lo terus bertahan sama Jevano?" tanya Eury, suaranya sedikit khawatir.
Karina terdiam, matanya menatap kosong ke arah jendela. Hujan di luar seakan menyatu dengan kesedihan yang menyelimuti hatinya.
"gue yakin Jevano nhgak kayak gitu Ry," lirihnya.
Eury menghela napas panjang.
"gue tau lo cinta banget sama Jevano,, tapi bukti nya kan udah jelas loh Rin. Jangan biarin diri lo terus nahan luka."
"Gue mau pulang," ucap Karina, suaranya teredam oleh kesedihan.
"Karin, please! Lo masih mau pulang setelah tahu semua kebusukan Jevano?" tanya Eury, suaranya bergetar.
"Ini urusan rumah tangga gue, Ry! Biar gue yang urus sendiri. Gue butuh waktu untuk mencerna semuanya. Nanti kalau udah siap, gue pasti akan pergi dari dia," kata Karina, tekadnya bulat.
"Rin, gue anter, tunggu!" Eury berusaha menahannya.
"Enggak usah, Ry, thanks ya udah mau nemenin," balas Karina, matanya berkaca-kaca.
Hujan deras membasahi kota, memaksa Karina untuk mencari taksi. Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Setelah membayar ongkos, ia keluar.
"Hujan, Mbak. Mau pakai payung saya dulu?" tawar sang supir ramah. Membayangkan perjalanan dari gerbang menuju pintu rumah yang cukup jauh, Karina sejenak ragu. Namun, ia menggeleng.
" gak usah, Pak. Terima kasih," jawabnya, lalu melangkah masuk ke dalam hujan.
Sesampainya di depan pintu, Karina berhenti sejenak. Jantungnya berdebar kencang. Sebelum ia sempat meraih gagang pintu, pintu sudah terbuka. Jevano berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Sayang, kamu dari mana? Aku khawatir setengah mati
kenapa kamu nggak bisa dihubungin sama sekali?" ucap Jevano sambil mengeringkan rambut Karina yang basah.
"handphone aku mati" jawab Karina singkat.
"Ayo ganti baju dulu, kamu kedinginan," ajak Jevano lembut.
Setelah Karina selesai berganti, karina hendak memasak sesuai janji
saat ia hendak menyalakan kompor, sepasang tangan hangat memeluknya dari belakang. Jevano.
" kamu nggak capek langsung masak? " tanya Jevano mengecup pipi karina, setelah itu karina menepis dan memberikan jarak antaranya dengan Jevano
"Aku kan udah janji " jawabnya singkat dan lanjut memasak
" buat hari ini aku panggil chef kita aja yaa, kamu kayaknya lagi kurang fit mending istirahat aja
next time kita masak bareng ya? " kata Jevano
Jevano menggendong Karina ke kamar dan membaringkannya di kasur.
" kamu bener bener cinta sama aku?" tanya Karina dengan tatapan yang tidak seperti biasanya, membuat Jevano semakin khawatir.
"Pasti sayang, i loved you so much" jawab Jevano.
Melihat raut Karina yang murung, Jevano duduk di sampingnya. "kenapa sayang?" tanyanya, merasa ada yang aneh.
"Kamu benar-benar menikahi aku karena permintaan nenek kamu?" tanya Karina.
"Iya, permintaan nenek dan aku memenuhi nya karena aku sayang sama kamu " jawab Jevano jelas, diiringi anggukan.
"Are you sure there's nothing hidden from me? " tanya Karina.
KAMU SEDANG MEMBACA
eye to eye
Teen FictionPernikahan adalah hal yang tidak pernah sekalipun terbesit di dalam dalam benak karina. Namun lelaki itu datang membujuk nya agar mau menjalankan 'pernikahan kontrak' " Dalam pernikahan kontrak ini lo boleh pilih 5 tahun atau selamanya, artinya ga...
