37

317 15 0
                                        

Waktu melesat bagai anak panah, namun Karina tak mengukir senyum dalam perjalanannya. Akhir-akhir ini, ia bernaung di bawah atap yang sama dengan Eury dan Nyx, dua sahabat yang setia bergantian menemani malam-malamnya.

Karina dan Jevano telah menapaki jalan sunyi di kantor keadilan agama, menjalani proses perdamaian yang sejatinya hanya formalitas belaka. Keduanya sepakat untuk mengakhiri bahtera rumah tangga, melanjutkan proses perceraian ke tahap berikutnya. Beberapa fase telah terlewati, dan kini Karina bersiap menghadapi sidang ketiga.

"Sarapan dulu , Rin," Nyx berujar lembut, menatap Karina yang kian hari kian ringkih. "belum laper ah nanti aja, Nyx," balas Karina, menyesap jus semangka sambil menatap layar televisi.

Berita tentang Antonius dan Francesca yang mendekam di balik jeruji besi menghiasi berbagai media. Namun, misteri menyelimuti kasus yang menjerat mereka, karena ditangani secara tertutup. Begitu pula dengan perceraian Karina, yang dirahasiakan dari publik. Semua itu adalah usaha jevano, yang ingin melindungi Karina dari hujatan publik dan kesulitan lainnya.

Di ruang sidang yang lengang, hanya Nyx, Logan, dan Eury yang hadir sebagai saksi. Kai, sang pengacara, telah siap dengan segala amunisi.

"Kemungkinan ini sidang terakhir, karena proses perceraian berjalan lancar dan kita tinggal menunggu keputusan hakim," Kai menjelaskan dengan tenang.

"Ya," Karina mengangguk, berharap proses ini segera usai. Tubuhnya terasa lemah hari ini. "Pasti karna gue belum sarapan," batinnya.

Kemudian, mata Karina dan Jevano bertemu, saling menyelami isi hati tanpa kata. Tatapan mereka berserat makna, mengungkapkan keinginan yang sama tak ingin berpisah, namun sadar bahwa bersama bukanlah jalan yang tepat.

"kalo masih sama kamu, pasti kamu yang akan paksa aku buat sarapan " bisik hati Karina.

Di sisi lain, Jevano menatap Karina dalam-dalam, dihujani berbagai pertanyaan. " karina udah makan belum ya? dia sehat kan? semoga dia gak telat makan lagi..
dia masih suka begadang nggak ya? " Ia tak bisa memastikan semua itu. Satu hal yang pasti, kehilangan Karina sama dengan kehilangan dunianya. "Aku selalu lupa untuk pake parfum karena biasanya kamu yang pilihin parfum mana yang akan aku pakai hari ini" batin Jevano.

Kai mulai berbicara setelah mendapat instruksi. "Yang Terhormat Hakim, saya berdiri di sini sebagai pengacara hukum Karina. Kami telah mempersiapkan diri untuk menghadapi proses perceraian ini, yang disebabkan oleh peristiwa tragis yang telah terjadi." ucapnya dengan suara mantap.

"Sebagaimana telah diketahui, orang tua_"
"Brukk" Karina ambruk ke lantai, pingsan tak sadarkan diri.

Keheningan ruang sidang pecah oleh kepanikan. Jevano, dengan gerakan sigap, menerjang maju, berusaha membangunkan karina.

Sidang ditunda. Jevano, dengan lembut, menggendong Karina, membawanya ke mobil. Nyx dan Eury, diikuti Logan, bergegas menyusul, mengantarkan Karina ke rumah sakit.

"Nyx, dia nggak biasanya sampe pingsan gini
pokoknya karina lebih baik dirawat dulu aja biar dapet perawatan yang maksimal juga dari dokter agni" pinta Jevano dengan nada khawatir.

"Iya, Jev," jawab Nyx, mengangguk setuju. " ini bocah memang jarang makan akhir-akhir ini," tambahnya.

Setibanya di rumah sakit, Karina segera ditangani oleh Dokter Agni.

"Jev, mendingan lo pulang dulu aja buat ngambil beberapa barang yang sekiranya dibutuhin karina . pasti lo tau kan apa aja dan pastinya cuma lo doang yang tau dimana letaknya .. Kita mana mungkin tau " pinta Nyx. "Iya," Jevano mengangguk.

"Sekalian beli pizza ya," pinta Eury.
"Buat apa?" tanya Jevano.
"Buat kita lah," jawab Eury sinis. "Iya," ujar Jevano lagi.

Ia dan Logan kemudian meluncur ke rumah Jevano, mengambil perlengkapan yang dibutuhkan Karina.

Saat memasuki rumah itu, kenangan indah bersama Karina menyeruak, menghantamnya bagai deja vu. Jevano tersenyum tipis, lalu bergegas menuju kamar, mengambil tas besar dan mengemasi pakaian Karina.

"Baju... terus apalagi?" gumamnya, beralih ke kamar mandi untuk mengambil facial wash dan rangkaian skincare yang selalu Karina pakai .

"Apalagi ya?" pikirnya. "Oh, pembalut mungkin, jaga-jaga kalau Karina datang bulan," ujarnya, membuka laci.

Niatnya terhenti. Jevano membeku

, matanya terpaku pada test pack dengan dua garis merah yang jelas terlihat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


, matanya terpaku pada test pack dengan dua garis merah yang jelas terlihat.

eye to eye Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang