33 .

299 19 0
                                        

"Orang tua kita meninggal karena ulah Francesca!" kata Anne dengan nada tegas, matanya berkobar amarah.

Karina terpaku di tempatnya, matanya membulat tak percaya. Mustahil! Bagaimana bisa orangtuanya meninggal karena ulah mertuanya? Karina menatap Anne dengan tajam,ia yakin bahwa Anne sedang teler sekarang
" enggak mungkin lah Anne  , lo mabok ya? " tanya karina

"Karina, percaya dulu sama gue," Anne mencengkeram erat kedua pundak Karina, suaranya bergetar. "Gue punya buktinya, rekaman percakapan gue dan Francesca waktu itu." Anne kemudian memutar rekaman tersebut.

"ada apa anda kemari? " tanya Francesca dengan nada angkuh, alisnya terangkat sinis.

"anda seharusnya menyambut saya" timpal Anne dengan tenang, duduk di sofa tanpa diundang.

"Rasanya tidak perlu, karena kita tidak cukup dekat," ucap Francesca, nada suaranya dingin.

"Begitukah? Namun tujuan Anda yang sebenarnya sudah terungkap oleh saya " ,sahut Anne, suaranya mulai meninggi.

Anne mendekat ke arah Francesca, tatapannya tajam. "Nenek Jevano yang bilang bahwa Jevano harus menikah dengan Karina karena hutang budi, namun Anda memanfaatkan hal itu untuk mengambil alih perusahaan R.X milik ayah kami," tuduh Anne.

Sorot mata Francesca berubah drastis. Gadis itu membisikan sebuah fakta yang membuat Francesca terdiam seketika.
"Benar kan? Hmm? Kenapa tiba-tiba bisu?" tanyanya, suaranya meninggi satu oktaf.
"lalu,anda mau apa? " wanita itu bertanya, nada suaranya berubah waspada.

Anne tersenyum misterius
. "Kita bisa saling menguntungkan," jawab gadis itu singkat matanya berkilat penuh makna.

"Lo beresin bokap nyokap gue, bikin mereka berada dalam keadaan genting sampai mereka bisa diancam dan setidaknya mereka masuk rumah sakit dalam waktu yang lama jadi gue bisa ambil alih hartanya, gue akan bantu lo akses buat menguasai sebagian perusahaan bokap nyokap gue nantinya," tawar Anne.

Francesca terkekeh.
"Anda licik, padahal itu orangtua Anda, saya harap Anda tidak menyesali apa yang Anda perbuat karena apa boleh buat saya akan menyetujui tawaran Anda," kata Francesca.
"Tapi saya ingin ambil seluruhnya, bukan sebagian"

"Kalau gitu berarti kita harus menyusun rencana pintar supaya bokap nyokap gue mau memberikan semuanya," kata Anne.
"Untungnya saya ada rencana lain, kalau Anda berkenan, saya senang untuk memakai rencana ini bahkan tanpa Anda harus ikut campur tangan."

"Ya silahkan lah, gue cuman mau beberapa yang dan mansion bokap nyokap gue aja lah intinya," jelas Anne, mengambil tasnya dan segera pergi.

Francesca tersenyum penuh kemenangan.

Karina tak tahu harus berbuat apalagi rasanya ia sudah jatuh, rapuh, dan runtuh ke dasar jurang kepedihan.

"Bodohnya gue gak tanya apa rencana Francesca waktu itu," ucap Anne, suaranya bergetar. "Gue kira dia bakal bikin orangtua kita hanya sakit dan masuk rumah sakit, tapi dia malah sandera orangtua kita, mengancam mereka karena Francesca tahu kelemahan orangtua kita, yaitu kita. Francesca mengancam mereka seandainya mereka gak turutin kemauan Francesca, kita berdua yang mati, dan bahkan sampai akhir hayatnya Mama dan Papa masih terus mempertahankan kita. Kematian mereka sudah direncanakan sama Francesca, bahkan kecelakaan itu. Gue akui gue salah, gue salah besar, gue khianatin Mama Papa dan lo. Sedangkan Mama Papa berusaha lindungin gue, lo bisa tampar gue sekarang," lanjut Anne, matanya berkaca-kaca, siap menerima hukuman.

"Tampar? Lo udah menghilangkan nyawa dua orang yang bertaruh di sepersekian detiknya untuk menghidupi kita supaya kita bisa hidup di atas rasa bahagia, tapi lo malah rela mereka disakiti? Bahkan dibunuh? Lo manusia? Tahu bahwa mertua gue ternyata jahat aja udah buat gue hancur Anne, sekarang tambah lagi fakta kalau ternyata lo komplotan mereka untuk membunuh Papa Mama. Lo mau liat gue sehancur apalagi sih?" tanya Karina, suaranya pecah menahan emosi yang meluap-luap. Rasa sakitnya bagai ribuan duri yang menusuk hatinya.

Selama ini? Selama ini dia dibohongi oleh Jevano dan keluarganya? Karina menutup mulutnya, tak percaya dengan kenyataan pahit ini. Air matanya terus berderai, membasahi wajahnya yang pucat. Ia terisak di pelukan Eury, mencari sedikit kenyamanan di tengah kepedihan yang mendalam.

"Lo pikir gue gak nyesel? Gue nyesel! Gue bingung harus cerita ke siapa! Gue juga gak punya lagi siapa-siapa. Gue nyesel! Gue cuman mau ambil hartanya karena lo selalu dapat banyak jadi gue pikir kalau gue minta bantuan Francesca gue bakalan dapat banyak uang dan mansion yang tadinya bakalan di kasih ke lo," ucap Anne, suaranya penuh penyesalan.

"Anne, lo lebih seneng harta sampai lo berani ambil cara kayak gitu?" tanya Eury, ikut menangis. Emosinya juga ikut terombang-ambing.

"Gue nyesel, gue bersyukur karena gue punya penyakit yang kronis sekarang gue rasa ini adalah karma. Karina, gue minta maaf,"ucap Anne lirih.

"Jangan pernah muncul lagi di hadapan gue Anne, gue harap lo di Amsterdam terus sampai jadi debu," ucap Karina dengan tegas, hatinya penuh kebencian.

Langit senja merekah dengan warna-warni memukau, namun tak mampu menembus kegelapan hati Karina. Pemandangan indah di luar jendela seakan menjadi sindiran atas kepedihan yang ia rasakan. Eury, yang selalu ada di sisinya, hanya bisa menghela napas panjang.

Mata Karina menerawang jauh, kosong bagai cermin pecah.
Dunia seakan runtuh di hadapan Karina. Dulu, ia mengira telah menemukan pelabuhan terakhir. Namun, kini ia terdampar di tengah lautan kesepian, tanpa arah dan tujuan. Ke mana lagi ia harus berlabuh? Pada siapa lagi ia bisa bersandar, ketika sandarannya selama ini justru menjadi jurang yang siap menelannya?

" rin... " panggil eury menarik karina dari segelintir lamunan nya

ִֶָ࣪☾.

see yaa in the nextt part guysss
love uuu

eye to eye Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang