Saat Sion dan Yeoreum keluar dari gedung, mereka melihat seseorang yang juga memakai seragam sedang menaruh buket bunga krisan di area sekitar gedung. Sion sangat mengenal sosok itu. Ia tidak ingin lagi selalu menghindari Jisung. Ya, orang itu adalah Jisung. Sion tidak ingin lari lagi seperti terakhir kali ia melihat Jisung.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Yeoreum. "Dia, sepertinya aku pernah melihatnya." Yeoreum mencoba mengingat-ingat kembali kapan ia pernah bertemu dengan anak laki-laki itu. "Astaga! Dia yang saat itu ditolong oleh Yushi."
"Ayo ke sana!" Sion menggandeng tangan Yeoreum untuk mendekati Jisung.
"Jisung, bagaimana kabarmu?" Jisung terlonjak kaget saat mendengar suara Sion.
"Ba-baik."
"Baguslah."
"Sion, aku minta maaf. Harusnya saat itu aku tidak menyalahkanmu." Jisung menunduk dalam dan mulai terisak. "Kau, adalah satu-satunya temanku. Harusnya aku selalu berada di pihakmu. Maafkan aku."
Dulu, Jisung sempat kesal pada Sion karena Sion selalu bersikap dingin pada Wonbin. Bahkan setelah Sion keluar dari rumah sakit dan kembali sekolah, ia tidak mau lagi makan bersama dengan Wonbin di kantin. Hingga secara mengejutkan, ada kabar bahwa Wonbin melakukan bunuh diri dari sebuah gedung setinggi dua puluh lantai. Saat itu, Wonbin diam-diam mengambil ID card milik Sion untuk bisa masuk ke dalam gedung itu.
"Sudahlah, tidak perlu disesali. Kau benar, aku bersalah."
"Tidak! Semua adalah salahku. Andai saja waktu itu kau tidak datang untuk menyelamatkanku, semua tidak akan terjadi. Pukul aku, kumohon." Kini Jisung berlutut di hadapan Sion.
Sion segera memegang kedua bahu Jisung dan membantunya berdiri. "Jisung, kumohon jangan seperti ini. Semua sudah berlalu, sekarang hiduplah dengan damai. Jika dua bersaudara itu masih saja mengganggumu, pindah saja ke sekolahku. Kita bisa makan di kantin bersama lagi."
Jisung tertawa mendengar ucapan Sion. Ia membayangan jika saja itu bisa benar-benar terjadi. Tapi ia merasa sudah tidak pantas lagi berteman dengan Sion.
Karena sudah tidak ada lagi yang hendak dibicarakan, Sion akhirnya pamit pulang. Hari juga sudah gelap. Sion tidak tega membuat Yeoreum harus pulang larut malam. Saat sudah berjalan sejauh sepuluh meter, Jisung kembali memanggil Sion.
"Sion, tunggu!"
Sion berbalik saat Jisung memanggilnya. "Ada apa?"
Jisung mengejar Sion lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya. "Dulu aku menemukan ini di loker mejamu saat kau tiba-tiba saja memutuskan untuk keluar dari sekolah. Kurasa itu mungkin dari Wonbin. Maaf baru bisa memberikannya padamu sekarang."
"Benarkah? Ah iya, saat itu aku tidak mengecek lagi apa di lokerku ada barang yang tertinggal atau tidak. Terima kasih, ya." Sion lalu menyimpannya ke dalam tas.
Dulu Sion memutuskan keluar dari sekolah lamanya sehari setelah kabar kematian Wonbin. Saat itu ia sangat terpukul dan merasa bersalah. Berhari-hari ia menangis di kamarnya dan tidak mau makan. Sehun yang khawatir dengan kondisi psikis anaknya sempat beberapa kali membawa Sion untuk berkonsultasi ke psikolog. Kini Sion sudah merasa jauh lebih baik, apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk pindah rumah dan ia bertemu dengan Yeoreum.
*****
Untuk Sion, sahabat terbaikku.
Sejujurnya, terasa sedikit aneh saat aku menulis tulisan seperti ini. Tapi aku harus melakukannya. Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa alasanku mengakhiri hidup bukan karena kau menjauhiku ataupun perasaan bersalah yang sampai kapanpun tidak akan pernah hilang dalam diriku. Kau memang sudah sepantasnya membenciku seumur hidupmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About You
FanfictionKehidupan Kim Yeoreum yang biasa-biasa saja perlahan mulai berwarna sejak kehadiran Oh Sion di hidupnya. Di sisi lain, Yeoreum masih mengharapkan Yushi untuk bisa menjadi bagian dalam hidupnya. Bagi Yeoreum, semua tentang Yushi adalah hal penting ba...
