Terhitung sudah satu minggu Lisa kembali bekerja di restorannya dengan Jennie dan Baby Xeena yang selalu menemani. Semuanya berjalan kembali seperti biasa namun Jennie, istrinya Itu selalu merengek ingin Punya bayi. Apalah Lisa yang hanya bisa menghela nafas, karna ia memang tidak mengiyakan ke inginan Jennie. Banyak hal yang harus ia pikirkan dan selesaikan.
Tok.. Tok...
"Masuk" Ucap Lisa membuat pegawainya masuk. "Chef, ada nona Seulgi datang, dia ingin bertemu dengan Chef" Ucap Pegawai itu di anggukki Lisa. "Antar ke ruang vip, saya akan menyusul" Ucap Lisa di anggukki pegawai tersebut yang langsung pamit keluar.
"Kajja sayang, kita temui Seulgi" Ajak Lisa mengambil alih Baby Xeena dari gendongan Jennie. "Tak apa aku dan Baby ikut?" Tanya Jennie. "Tentu saja tak apa sayang, memangnya kenapa?, Seulgi mungkin hanya ingin membicarakan Catering, lagipula kamu juga dekat dengan Irene" Jelas Lisa dan Jennie hanyak Menggangguk beroh ria.
"Kau sendiri? " Tanya Lisa saat melihat Seulgi yang hanya duduk sendiri. "Aniya, Irene sedang ke toilet" Lisa hanya mengangguk lalu menarik kursi untuk Jennie setelah baru Ia duduk dengan memangku Baby Xeena.
"Kemarikan" Pinta Seulgi membuat Lisa membiarkan Putrinya dipangku Seulgi. "Apa aku sudah cocok memiki bayi? " Tanya Seulgi asal.
"Kau sudah tua ugi tentu saja sudah cocok" Celetuk Jennie. "Hey tak perlu bawa bawa umur" Protes Seulgi namun Jennie hanya terkekeh
"Maaf lama" Ucap Irene yang baru saja Tiba. "Tidak Unnie, kami juga baru duduk sebentar" Saut Jennie.
"Jadi kalian akan menikah?" Tanya Lisa di anggukki Seulgi dan Irene. "Kapan?" Lanjut Lisa bertanya. "Dua bulan lagi, keluarga kami sudah sepakat, lagipula waktu dua bulan cukup untuk mempersiapkan semuanya agar tidak terburu buru" Jelas Seulgi dianggukki Irene.
"Itu bagus, apa yang kalian sudah mencari gedung?" Tanya Jennie. "Sudah, baru menemukan tempat yang cocok kemarin" Jawab Irene.
"Seulgi-ya, ini yang kau nanti bukan?, pernikahan memang tidak mudah dan banyak rintangan namun kebahagiaan yang kalian ciptakan akan membayar semuanya. Dewasalah kala menghadapi masalah" Ucap Lisa mengusap kepala Baby Xeena.
"Tentu saja Li, akan aku usahakan semampuku" lusa hanya mengangguk mendengarnya.
"Sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu" Ucap Lisa lalu memanggil waiters untuk memepersiapkan jamuan yang sudah disiapkan.
"Unnie, apa kau akan langsung program baby? " Tanya Jennie membuat Irene dan Seulgi saling pandang sedangkan Lisa hanya menggelengkan kepalanya.
"Kami belum membicarakan soal ini Jen, mungkin nanti" Jawab Irene. "Majja, lagipula aku belum membeli rumah untuk tempat tinggal kami" Lanjut Seulgi.
"Kalian kapan? Bukankah harusnya itu pertanyaan untuk kalian berdua?, baby Xeena juga sepertinya tak masalah jika punya adik" Tanya Irene. "Tanya saja pada kulkas itu, dia tak mau mendengarkan keinginanku tentang program baby" Ketus Jennie membuat Irene dan Seulgi terkekeh pelan.
"Lisa-ya, aku rasa tidak ada salah nya jika ikut program bayi dari sekarang. Aku tau tabunganmu sudah cukup untuk ikut program bahkan beli rumah sekalipun" Saran Seulgi. "Jangan khawatir Li, seperti apa katamu, bahagia itu kalian yang ciptakan" Lanjut Seulgi menepuk bahu Lisa pelan.
"Kita bicarakan ini rumah ne" Ucap Lisa menatap dan mengelus lembut kepala Istrinya yang kini mengangguk antusias.
"Janji? " Jennie mengangkat jari Kelingkingnya disambut baik oleh Lisa. "Janji" Jennie tersenyum lebar mendengar ucapan Lisa.
...
Sepulang dari kantor Wendy bersih bersih lalu langsung bermain ps sendirian dengan segelas kopi hangat dan cemilan yang disajikan oleh Istrinya.
"Wendy" Sang empu hanya berdehem kala Joy memanggil namanya. "Eomma menelponku" Lanjut Joy. "Apa katanya?" Tanya Wendy menoleh sekilas.
"Eomma Song meminta cucu" Ucapan Joy berhasil mengambil alis semua perhatian Wendy. "Eomma song?" Joy mengangguk. "Ck eomma keterlaluan, jangan dengarkan dia" Decak Wendy kembali menatap game nya.
"Tapi mommy juga minta hal yang sama padaku" Membuat Wendy tersedak ludah sendiri. "Kau serius?, lalu kau jawab apa?" Tanya Wendy mematikan Ps nya.
"Sebenarnya akhir akhir ini mommy sering meminta cucu padaku namun puncaknya eomma juga sama, aku bilang tanya padamu" Ucap Joy membuat Wendy mengerenyit bingung.
"Setelah ini pasti aku mendapat teror yang double" Gumam Wendy pelan. "Kau bilang apa?" Tanya Joy. "Aniya.. Maksudku bagaimana pendapatmu?" Tanya Wendy.
"Maksudmu? " Bingung Joy. "Tentang memberikan cucu untuk mereka?" Lanjut Wendy. "Aku tak masalah selagi kau mampu menjagaku, mengabulkan ngidamku dan ada disampingku saat aku hamil nanti"jelas Joy membuat Wendy mengerjap pelan. "Serius? "Tanya Wendy memastikan dan Joy mengangguk pasti.
"Lagipula kita sudah menikah, apa salahnya memberi mereka cucu bukan? " Wendy mengangguk.
"Baiklah, aku akan atur ulang jadwalku agar kita bisa pergi ke dokter kandungan" Ucap Wendy. "Kau tak ada rencana kemanapun kan?" Lanjut Wendy bertanya. "Tidak, paling shoping mungkin" Asal Joy. "Uang bulanan masih ada?" Tanya Wendy. "Entah aku belum mengeceknya, tapi sepertinya bulan ini cukup terkuras, aku banyak memesan tas yang baru akan launching bulan depan"Jelas Joy.
"Ini pegang kartuku yang ini, jaga jaga jika saldo kartu yang kau pegang habis, takut aku tidak bisa dihubungi saat kau kehabisan saldo" Jelas Wendy membuat Joy membulatkan matanya. "Tidak perlu lagi pula aku masih ada simpanan" Tolak Joy.
"Ck, biarkan saja uang tabunganmu jangan kau pakai, jika kau mau kau juga bisa menabung dari uang bulanan tapi jika tidak pun tak masalah, lagipula aku masih bisa menabung" Jelas Wendy lalu kembali menyalakan psnya.
Cup
"Terima kasih babe" Joy mengecup pipi Wendy lalu pergi kekamar meninggalkan Wendy yang tertegun dengan wajah merona menjalar ke telinga.
"Jantungku akan copot sepertinya" Gumam Wendy memegang dadanya.
...
"Babe are you sure? " Tanya Rosé saat melihat Jisoo memasukan lebih dari 7 bungkus daging ayam mentah ke dalam trolly dengan berat 1 kilogram perkantong. "Memangnya kenapa sayang?" Tanya Jisoo heran. "Sayang daging ayam ini terlalu banyak" Ucap Rosé. "No babe, ini cukup"Saut Jisoo.
"Inilah kenapa dia dipanggil chikin sayang" Saut Eomma kim. Hari ini Jisoo dan Rosé memang menemani eomma kim berbelanja bulanan. Jika eomma kim sudah terbiasa dengan Kebiasaan putrinya maka Rosé belum, karna ia jarang berbelanja bulanan dengan Jisoo , keseringan ia berbelanja dengan sang mommy atau mertuanya.
"Eomma yakin ayam itu tak akan bertahan satu minggu" Lanjut Eomma Kim membuat Rosé menggelengkan kepalanya.
"Eomma bukankah itu berlebihan?" Tanya Rosé dianggukki Eomma kim. "Coba hentikan dia sayang, sepertinya dia akan lebih menurut jika kamu yang bilang" Jawab Eomma Kim. "Akan aku coba Eomma"
"Sayang lihat ada ramen rasa baru" Binar Jisoo kembali dengan tangan membawa beberapa bungkus ramen membuat Rosé juga merasa lapar mata. "Kita harus mencobanya sayang" Saut Rosé.
"Eomma ingin pergi ketempat sayuran, jika kalian masih ingin melihat lihat dulu disini eomma duluan" Ucap Eomma Kim dianggukki Jisoo dan Rosé.
"Menurutmu apa kita harus membeli keduanya?" Tanya Jisoo. "Beli saja keduanya, jika memang rasanya enak kita bisa beli lagi untuk stok" Jawab Rosé di anggukki Jisoo.
"Baiklah, apalagi yang harus kita beli sayang?" Tanya Jisoo. "Aku ingin eskrim" Binar Rosé. "Aku benci eskrim tapi jika kamu mau kajja kita beli" Ucap Jisoo mendorong trolly belanjaannya menuju tempat eskrim berada.
Eomma kim yang melihat mereka dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mereka punya anak nanti? Tak bisa dibayangkan pasti jajan makanan terus" Batinnya lalu melanjutkan memilih sayuran.
Tbc
Hai gaesss...
Apa kabar?
Lama ga up ya wkwk so sorry.
Btw thanks yang udah promosiin cerita ini di tiktok siapapun itu.
Selamat menikmati...
Lunas ya janji author buat up hari ini
Enjoy gaesss
See you..
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dini
Sonstigestentang rumah tangga dua orang gadis yang di jodohkan. Lisa yang irit bicara dan Jennie yang manja. Bisakah mereka bertahan?
