Entahlah bingung, antara menyesal atau tidak karena sudah menerima itu. Karena Ghina merasa hidupnya semakin aneh sejak menerima ajakan collab tersebut.
"Tak kusangka kau sekarang menjadi manusia yang tak tau arah. Menyedihkan, lebih menyedihkan daripada budak dijamanku dulu."
Ghina membalikkan badannya karena mendengar ucapan penghinaan dari makhluk halus. "Apaansih." Ucapnya sambil mengacungkan jari tengah.
"Jika cerita hidupmu dijadikan dongeng pengantar tidur, mungkin anak-anak akan menangis saking menyedihkan-nya hidupmu. Menyukai lelaki yang tak jelas wujudnya."
Ghina menarik napasnya panjang, berusaha sabar terhadap penghinaan Braga sedaritadi. "Heh! dengar ya setan, A Sastra itu wujudnya jelas, dia itu lebih dari kata sempurna." Ucap Ghina sambil memelankan kata 'setan' karena sejujurnya ia takut juga kalau Braga tersinggung.
Padahal Braga memanglah setan.
"Ya, dimatamu." "Tak cuma otakmu yang bermasalah, rupanya matamu juga bermasalah. Jika sudah sadar periksalah matamu ke Tabib."
Ghina mau membalas penghinaan Braga, tapi suara bel mengurungkan niatnya. Ghina teringat bahwa Sastra telah menunggu didepan.
"Tunggu disini! jangan kemana-mana."
"Buat apa aku menuruti ucapanmu."
──
Ghina membuka pintu rumahnya, lalu mempersilahkan Sastra masuk kedalam. Rupanya cuma Sastra aja yang datang.
"Mana Braga?" tanya Sastra to the point.
"Didalam kamar aku A."
"Mencariku makhluk sialan?"
Tiba-tiba aja Braga berdiri di tangga rumah Ghina, lalu menatap Sastra dengan pandangan remeh.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Merendahlah jika ingin meminta bantuan dengan seseorang. Apa di Kerajaan lo nggak diajarin tata krama? atau semenjak mati lo menjadi hantu yang kasar?" ucap Sastra sambil mendekati Braga yang berdiri di tangga.
Entah kenapa Ghina malah terpukau sama Sastra, padahal Sastra lagi tak menunjukkan pesonanya.
"Aku tak meminta bantuan darimu." Lalu Braga melayang untuk menghampiri Ghina.