V. Tolong aku, kumohon

109 22 0
                                        

Perlu di ingatkan ⚠️
ini hanya cerita fiksi belaka, tidak ada hubungannya dengan dunia asli. ini murni dari karangan author sendiri.

***

Ghina berlari sejauh mungkin dari rumah keluarga indigo itu. Apa maksud hal mengerikan yang terjadi sekarang.

Ghina tak tau harus kemana sekarang, harus ke siapa ia meminta tolong sekarang. Dengan air mata yang terus mengalir dan tubuh yang bergetar ketakutan, Ghina terus berlari tanpa arah.

Sejauh manapun Ghina berlari, mengapa ia tak ketemu orang 1 pun?

"Aku harus kemana?" ucap Ghina dengan bibir yang bergetar.

"SIAPAPUN, TOLONG AKU!" teriak Ghina sepanjang jalan.

"Sayang, aku kangen."

"Kamu nggak kangen aku? nggak pengen liat wajah aku lagi?"

Ghina menutup kedua telinganya dengan rapat. Suara ini lagi, kenapa suara ini menggema di jalan?

Ghina terus berlari sambil menutup kedua telinganya, berharap suara itu tak terdengar lagi.

Ghina berpikir ini mimpi dan berharap ia segera bangun dari mimpi yang mengerikan ini.

─‌─‌

Lutut Ghina sangat lemas sekarang karena terus berlari. Ghina terduduk di tengah jalan sambil melihat keatas dengan mata yang penuh ketakutan.

"Aku mau keluar, tolong aku, aku takut, keluarin aku dari sini." Racau Ghina.

Yang ada dipikirannya sekarang adalah Braga. Sebenarnya aneh meminta tolong sama hantu, tapi mau gimana lagi, orang yang ada disini juga seperti hantu semua.

"Kumohon Ghina, jangan kasih tau ke mereka kalau aku muncul kembali kehadapanmu."

"Jika tak ingin menyesal di kemudian hari, seharusnya kau tak perlu memberitahu mereka tentang kemunculanku lagi. Padahal ini tentang kebaikan kita berdua."

"Tak perlu takut dengan makhluk ciptaanmu sendiri."

"Justru kalianlah yang menyesatkan Ghina."

"Ghina menjauhlah dari orang seperti mereka. Yang harus kau percayai itu aku, bukan mereka, mereka aja tak sadar siapa diri mereka sebenarnya."

Seketika ucapan Braga terus terlintas di kepalanya.

Saking lelahnya Ghina sekarang, ia tak mampu lagi berbicara, yang ia lakukan hanya menangis terisak sambil memeluk kedua lututnya.

"Aku harus gimana sekarang?" batin Ghina. "Braga, Braga, Braga, tolong aku, bawa aku keluar dari sini."

"Kendalikan dirimu Ghina, tak perlu menangis, ada aku sekarang."

Ghina mendongak, ia mendengar suara Braga, tapi tak melihat dimana wujud Braga.

"Kamu dimana?" tanya Ghina dengan suara serak.

"Sudahi tangismu, Ghina. Aku ada di sekitar mu."

"Munculin wujud kamu Braga." Biar Ghina sedikit tenang, setidaknya ia tak sendirian disini.

"Jika itu keinginanmu, maka ikutin perkataan aku sekarang. Kau harus berucap; Braga, tolong muncul dihadapanku sekarang juga."

Tak perlu pikir panjang, Ghina mengikuti ucapan Braga.

"Braga, tolong muncul dihadapanku sekarang juga!" ucap Ghina dengan lantang.

Sesuai yang diucapkan Ghina, wujud Braga terlihat sekarang di depannya.

"Braga, semua orang disini pada aneh."

"Ini dunia yang kau ciptakan sendiri Ghina."

Hah? apa maksudnya.

"Bukan waktunya bercanda Braga!" marah Ghina. "Aku sangat ketakutan sekarang."

"Aku tak bercanda, Ghina."
"Kau berada di tempat yang kau ciptakan sendiri."

"Ngomong yang jelas Braga! apa maksudnya aku berada di tempat yang aku ciptain sendiri!" rasanya Ghina sudah sangat prustasi banget sekarang.

Kenapa Braga terus berbicara pada hal yang tak bisa ia mengerti.

"Aku ada dimana sekarang, kenapa orang-orang pada aneh, kenapa aku terus mendengar gemaan suara yang memanggilku!"

Ghina mengacak rambutnya sendiri, "kalau ini mimpi, bantu aku bangun, aku mau keluar, aku takut." Rintihnya.

"Kendalikan dirimu Ghina."

Ghina menggeleng, "aku takut Braga, aku takut, aku takut, aku takut."

"Kubilang kendalikan dirimu! berhenti meracau tak jelas, sungguh berisik."

"Sampai kapan kamu mau kayak gini?"

Ghina langsung menutup telinganya dengan cepat. "Itu suara darimana Braga, aku takut." Bibir Ghina terus bergetar dan keringat bercucuran di wajahnya.

"Aku akan menolongmu keluar dari sini jika kau membantuku lebih dulu."

Ghina menatap Braga dengan mata yang berkabut oleh air mata. "Jadi benar aku didalam mimpi?" tanyanya. Kemudian Ghina menggeleng, "keluarkan aku dari sini dulu, aku mohon Braga, tolong lebih dahulukan aku. Setelah aku keluar, aku janji akan bantu kamu."

"Kau tak akan bisa membantuku jika keluar dari sini. Bukankah dirimu dulu sangat ingin membantuku jika bertemu? maka sekarang tepatin ucapanmu."

Ghina terdiam, "apa kita pernah bertemu sebelum aku ke tempat gudang itu? kamu selalu bilang bahwa aku sangat ingin bertemu denganmu dan membantumu, sebenarnya apa maksudnya?"

"Ya. Kau sangat penasaran dan begitu menggemari ku."

Apalagi maksud Braga ini ya Tuhan, sejak kapan Ghina menggemari Braga?

Ghina memijit pelipis nya sendiri, ah terserahlah. "Jadi aku hanya perlu bantu kamu kan? kalau udah selesai baru kamu bantu aku."

Melihat Braga mengangguk, Ghina bertanya lagi. "Jadi aku harus bantu gimana?"

"Bantu aku menemukan jari kaki kelingkingku."

***

sekali lagi⚠️
cerita ini hanyalah fiksi.
kesamaan nama tokoh, organisasi, agama, tempat kejadian ataupun jalan cerita hanyalah kebetulan dan tidak disengaja.

kesamaan nama tokoh, organisasi, agama, tempat kejadian ataupun jalan cerita hanyalah kebetulan dan tidak disengaja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

- 15 01 25 -

Uji NyaliCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang