V. Kejadian Yang Terus Terulang

118 20 1
                                        

Perlu di ingatkan ⚠️
ini hanya cerita fiksi belaka, tidak ada hubungannya dengan dunia asli. ini murni dari karangan author sendiri.

***

Sudah setahun sejak pengusiran Braga waktu itu, semakin hari Ghina merasa bahwa hidupnya berputar disini-sini aja, tak berkembang sedikitpun.

Ini aneh. Ghina merasa kegiatan yang ia lakukan sekarang sudah pernah ia lakukan waktu dulu.

Kadang Ghina iseng membuat skenario tentang dirinya, seperti; besok aku akan menangis. Maka hari besoknya, Ghina beneran menangis tanpa ada masalah satu pun.

Ghina seperti menjalani hidup dengan pikirannya sendiri. Setiap dia berpikir bahwa dia hanya ingin bertemu dengan Mamanya saja, maka seharian penuh hanya ada Mamanya yang terlihat dimatanya. Adeknya menghilang entah kemana.

Setiap malam, disaat dirinya tertidur lelap, ada kalanya Ghina mendengar seseorang terus menyebutkan namanya.

"Ghina,"

"Ghina,"

"Ini aku sayang."

"Aku yakin kamu pasti dengar aku."

Suara siapa itu, kenapa terasa sangat familiar sekali ditelinga Ghina, seolah ia sering mendengar suara itu.

Apa karena pengusiran paksa terhadap Braga waktu itu berdampak pada hidupnya sekarang?

Tapi kenapa? apa Braga marah padanya dan membuat Ghina terus merasakan kekosongan pada hidupnya?

Jadi, apa Braga masih ada disekitarnya sekarang? tapi kenapa Ghina tak pernah merasakan tubuhnya merinding seperti respon waktu itu sebelum Braga menampakkan dirinya lagi.

─‌─‌

"Usaha keras Braga belajar agar bisa menjadi Raja yang baik dimasa depan menjadi sia-sia karena keegoisan saudaranya sendiri."

"Makan siang yang dikasihkan pelayan untuk Braga rupanya sudah dikasih ramuan tidur oleh saudaranya sendiri."

"Setelah sadar dari ramuan tidur tersebut, Braga mendapati dirinya tengah berada di ruang yang sangat gelap. Braga tau dimana dirinya berada, yaitu ruang bawah tanah, tempat penjaranya rakyat yang telah berkhianat."

Ghina membuka matanya. "Suara ini lagi," gumam Ghina.

Karena Ghina hanya menutup matanya saja tadi, jadi ia mendengar dengan jelas suara yang menggema dikamarnya.

Mata Ghina terus mengitari kesudut ruangan untuk menemukan siapa pemilik suara itu.

"Ruang yang awalnya sangat gelap tadi menjadi sedikit terang. Ternyata Braga tak sendirian disini, ia bersama saudaranya juga. Tetapi yang di ikat dengan tubuh telentang hanya Braga seorang."

"Siapa itu?!" teriak Ghina ketakutan. Matanya terus mencari asal sumber suara tersebut.

"Saudaranya meminta pada Braga untuk menyerahkan tahta calon Raja kepadanya, namun dengan tegas Braga menolak. Ia harus menjadi Raja, kerja kerasnya tak boleh berakhir sia-sia, begitu pikir Braga."

"Stop!" pekik Ghina sambil menutup kedua telinganya.

"Karena penolakan tegas dari Braga, saudaranya menjadi gelap mata. Jari kaki Braga dipotong satu persatu dengan Braga yang masih dalam keadaan sadar."

Uji NyaliCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang