Perlu di ingatkan ⚠️
ini hanya cerita fiksi belaka, tidak ada hubungannya dengan dunia asli. ini murni dari karangan author sendiri.
***
"Udah, nggak usah marah, dia cuma setan. Jangan diladenin." Cegah Sastra pada Kinan yang mau protes ke Braga karena dikatain sialan.
Terlihat Braga tengah menertawakan Kinan dan Sastra.
"Braga, yang mengirim kertas ini ke Ghina siapa?" tanya Sastra ke Braga, mengacuhkan ucapan Braga yang tak bisa didengar oleh Ghina.
"Budakku."
"Loh, budak kamu manusia juga?"
Ghina ikut bertanya pada Braga.
"Bodoh! aku memerintahkan budakku untuk merasuki manusia!" jawab Braga dengan emosi.
Ekpresi wajah Ghina langsung cemberut karena lagi-lagi dia dimarahin sama Braga. Ghina kan cuma nanya, nggak usah dijawab dengan emosi juga kali, dasar hantu pemarah!
"Terus tujuan kamu ngirim kertas ini ke Ghina untuk apa?" tanya Kinan.
"Apa semua orang yang ada disini memang bodoh?! tentu saja aku mengirim kertas itu buat dibaca!"
"Tinggal di jawab aja setan! nggak usah segala ngatain orang bodoh! kamu, dimata manusia cuma sebatas kasta rendahan!" sembur Kinan yang sudah kepalang emosi.
"Lebih baik sadar diri makhluk aneh, jangan memperlakukan ku rendah hanya karena aku sudah mati!"
Sastra terkekeh sambil memijit pelipisnya. Kinan kepancing emosi sama makhluk kayak Braga? lawakan apa yang baru aja Sastra liat.
Mulut Ghina menganga melihat Sastra yang lagi terkekeh. Ghina membatin, gantengnya.
Ghina kembali mengatur ekpresinya sebelum Sastra sadar kalau Ghina baru aja memperhatikannya. "Anu A, Kin, sebenarnya waktu Braga muncul dihadapan aku, dia langsung ngasih tau aku tentang hidupnya sampai akhirnya dia dibunuh." Ucap Ghina mencoba menengahi pertengkaran antara manusia dan makhluk halus.
"Ya benar. aku dibunuh sama bajingan."
"Kami juga tau lo dibunuh Kakak sama Paman lo." Ujar Sastra.
Terlihat Braga ingin menyentuh Ghina, namun tak bisa karena tembus. "Sialan!" maki Braga karena tak bisa menyentuh badan Ghina.
"Ghina, kasih tau pada makhluk sok tau itu bahwa siapa sebenarnya yang membunuhku." Suruh Braga pada Ghina.
Kening Ghina berkerut, "kamu aja yang kasih tau, kok aku?!" tolak Ghina.
Kinan memperhatikan Ghina dan Braga yang duduknya berdampingan. Dalam hati Kinan bertanya, sebenarnya yang Indigo siapa disini, kenapa justru hantu kayak Braga lebih dekat dengan manusia biasa daripada dia dan Sastra yang memiliki kemampuan.
"A." Kinan mencolek tangan Sastra.
"Kok mereka kaya teman dekat ya." Sambungnya berbisik.
"Kau saja Ghina. Energiku akan terus terkuras jika berbicara banyak."
Ghina mendengus kemudian berdecak. "Sebenarnya yang bunuh Braga cuma bajingan itu aja, kalau Pamannya memang ada niatan mau bunuh Braga, tetapi gagal." Jelas Ghina yang juga ikut-ikutan memanggil Kakaknya Braga dengan sebutan 'bajingan'.
Sastra mengangguk-angguk sambil bersandar kebelakang sofa dengan kaki yang menyilang. "Jadi sekarang tujuan lo buat muncul lagi dihadapan Ghina kenapa?" tanya Sastra.
"Keren juga usaha lo ya, padahal Rumah Ghina ini sudah di batasi biar lo nggak bisa masuk lagi." Sastra terkekeh sambil menggerakkan kaki kirinya yang berada di atas kaki kanan. "Kuat juga lo rupanya, nggak heran lo disebut Raja." Sambung Sastra menatap Braga dengan senyuman miring.
KAMU SEDANG MEMBACA
Uji Nyali
ParanormaleEntahlah bingung, antara menyesal atau tidak karena sudah menerima itu. Karena Ghina merasa hidupnya semakin aneh sejak menerima ajakan collab tersebut.
