Sebuah Cerita dan Peringatan

186 10 0
                                        


❀❀
❀❀❀
❀❀

❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃

❀❀
❀❀❀
❀❀

  Suara hewan malam menjadi sebuah alunan yang merdu di keheningan malam yang sandu ini.

Sang Batara telah lama tenggelam ke ufuk barat dan digantikan oleh sang Candra yang mengantikan tugasnya.

Di sebuah kamar penginapan terbaringlah tubuh Saraswati yang masih setia menutup mata indahnya sama sekali belum menunjukan tanda-tanda untuk sadar dari pingsannya.

Raras masih sedikit sesunggukan saat melihat kondisi lemah ibundanya yang terbaring tak sadarkan diri. Sedangkan Respati hanya terdiam menatap kosong situasi sekarang.

Sungguh andaikan dia tak meninggalkan terlalu lama ibundanya pasti tidak akan mengalami hal seperti ini.

Di lain sisi Hayam wuruk menatap nanar kondisi orang yang dia anggap sebagai rayi kesayangannya itu.

"Ehem..." Deham Hayam wuruk memecah keheningan dalam ruangan tersebut.

Respati dan Raras menatap tajam ke arah sumber suara.

"Maaf atas ketidaksopanan saya tapi-" Hayam wuruk sengaja menjeda perkataannya "Ada yang ingin saya tanyakan dengan kalian berdua jadi bisakah kita bicara sebentar?" Lanjut Hayam wuruk sambil memberikan kode untuk Respati dan Raras untuk keluar dari bilik yang Saraswati tempati.

"Hah... Baiklah." Jawab Respati dan mulai beranjak mengikuti Hayam wuruk untuk keluar dari ruangan bilik menuju ke ruang tengah penginapan yang dia sewa.

Raras pun lekas mengikuti langkah kakangnya karena dia tahu kakangnya lagi menahan emosinya dia tidak mau kalau sampai kakangnya itu ngereog ke ayahandanya bisa gawat kalau ketahuan ibundanya.

Tak membutuhkan waktu yang banyak mereka berempat dengan tambahan sosok mahapatih Gajahmada yang setia mengawal disamping Hayam wuruk akhirnya telah berkumpul di ruangan tengah penginapan.

Hayam wuruk menatap sepasang remaja dihadapannya yang ntah kenapa dia merasa perasaan dejavu dengan keduanya.

"Maaf, mungkin ini terkesan lancang tapi bisakah kalian menjelaskan siapa sebenarnya, kalian?" Tanya Hayam wuruk membuka awal pembicaraan.

Raras menatap waspada kearah kakangnya yang tengah menahan luapan emosinya itu.

Sungguh, semua kejadian hari ini diluar kendalinya andai dia tidak pergi pasti kejadian ini tidak akan terjadi tapi nasi sudah jadi bubur mau menyesal pun semuanya juga sia-sia.

"Siapa kami bukan urusan anda, kisanak." Dengan tenang Raras menjawab pertanyaan dari Hayam wuruk bukan maksud jadi anak durhaka tapi dia harus tetap dalam rencana yang telah tersusun daripada dia mendapatkan hukuman daei kakangnya.

Sungguh ogah kalau sampai dirinya mendapatkan hukuman militer dari kakangnya yang nyeremin ntu.

"Diamlah, Rayi." Kata Respati memperingati agar Raras tidak gegabah dalam mengambil tindakan

"Hmph" Dengus Raras kesal akan peringatan kakang kulkasnya.

"Hah... Maafkan ketidaksopanan rayi saya, kisanak." Sebelum melanjutkan perkataannya Respati meminta maaf kepada Hayam wuruk selepas itu ia pun melanjutkan perkataannya "untuk pertanyaan anda tadi akan saya jawab tapi saya berharap apapun yang anda dengar nanti saya memohon kepada anda sekalian untuk menjaga rahasia kebenaran nantinya." Imbuh Respati.

Hayam wuruk terdiam sesaat lalu menatap ke dalam mata remaja dihadapannya itu.

"Baiklah, saya setuju akan syaratmu, anak muda." Ucap Hayam wuruk.

𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆  [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang