Chapter 16

100 7 2
                                        

Kisah ini adalah karya fiksi yang terinspirasi oleh peristiwa sejarah nama, karakter, dan lokasi yang disebutkan dalam  cerita adalah hasil imajinasi penulis dan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan individu atau kejadian nyata. Jadi diharapkan reader-san enjoy untuk membaca karya fiksi ini.









❀❀
❀❀❀
❀❀

❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃

❀❀
❀❀❀
❀❀













  Beberapa Hari Kemudian di balai agung keraton bhre wengker terdapat pertemuan kecil antara pemimpin wengker dengan telik sandi kepercayaannya yang tengah melaporkan tentang kedatangan seorang wanita yang mungkin saja mengancam masa depan tahta putrinya.

"Perempuan itu bukan dari keluarga ningrat mana pun yang pernah tercatat dalam daftar resmi trah istana, gusti." ujar seorang abdi kepada Raden Kudamerta.

Raden Kudamerta, Bhre Wengker, memutar cincin di jarinya sambil menatap keluar jendela. Pandangannya tajam, namun wajahnya tetap tenang.

“Tak ada nama Dyah Laras Anggraeni dalam catatan kadipaten,” lanjut abdinya. “Namun orang-orang mulai membicarakannya. Wanita itu cepat mendapat tempat di dalam keraton. ini terlalu cepat.”

Raden Kudamerta mengangguk pelan. “Seorang wanita tak dikenal, namun tiba-tiba begitu dekat dengan sang Prabu? Kau tahu apa yang itu berarti bagi anakku?”

Abdinya membungkuk. “Mohon petunjuk gusti.”

“Cari tahu siapa dia. Siapa yang membawanya ke istana, dari mana ia berasal, dan siapa yang melindunginya. Lakukan secara halus. Kita tak sedang berperang. Ini tentang kehormatan!” ujar Raden Kudamerta terhadap abdi setianya itu.

"Sendiko dawuh, gusti." selepas itu telik sandi itu pergi meninggalkan ruangan tersebut dan pergi kembali ke dalam istana untuk mencari tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan identitas perempuan yang junjungannya perintahkan.

Raden Kudamerta mengertakkan giginya menahan amarah yang tengah meluap-luap. sungguh dia tak habis pikir kenapa menantunya itu membawa perempuan yang asal-usulnya tidak jelas.

"Aku tidak boleh membiarkan ini lebih lama lagi. Tahta Majapahit harus jatuh ke darah keturunan putriku tidak ke wanita lain." dengan begitu Raden Kudamerta tengah mempersiapkan segala rencana untuk mempertahankan tahta putrinya itu.

✧༺🌸༻✧

  Di dalam taman istana sendiri Saraswati tengah asyik menyiram anggrek di sisi timur taman. Saraswati tidak sendirian di taman tersebut tetapi dia juga ditemanin oleh putri angkatnya yaitu Raras yang menemaninya, sambil membawa keranjang berisi dedaunan segar untuk kelinci peliharaan istana.

“Ibunda ada seseorang yang memperhatikan kita,” bisik Raras perlahan, matanya tak lepas dari salah satu abdi laki-laki yang seolah sedang menyapu halaman, namun pandangannya terus melirik ke arah mereka.

Saraswati menoleh sekilas, lalu mengembalikan pandangannya kearah bunga-bunganya.

“Semakin lama aku di sini, semakin banyak mata yang menilai. Ini sudah kukira sejak awal. Tapi kita harus tetap tenang putriku.”

“apakah ibunda tak takut?” tanya Raras penasaran akan ketenangan ibundanya.

“Sama sekali tidak, putriku. Karena ibunda mempunyai kalian. Dan... raka Prabu yang selalu ada di sisi, ibunda.” ujar Sarawasti dengan senyumnya yang perlahan mengembang, mengingat Hayam Wuruk yang setiap malam masih menyempatkan diri menemuinya, meski hanya sebentar.

𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆  [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang