❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃
❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
Suasana balairung dalam istana masih sepi ketika Saraswati—atau Dyah Laras Anggraeni, seperti yang dikenalnya sekarang—bertemu dengan Paduka Sori di pelataran taman dalam.
"Nimas, bunga kenanga ini tampak semakin mekar kalau kau yang rawat," ucap Paduka Sori sambil tersenyum, menggenggam cawan teh.
Saraswati tersenyum tipis, lalu menunduk pelan. "Paduka terlalu memuji. Ini hanya hasil alam yang tumbuh karena ketelatenan para abdi taman yang merawatnya dengan sepenuh hati mereka."
Keduanya duduk di bawah pendopo kecil, angin pagi menyapu lembut helai rambut mereka. Percakapan mereka tidak hanya berisi basa-basi. Perlahan, kedekatan tumbuh. Ada rasa nyaman yang tidak dibuat-buat di antara kedua perempuan itu—walaupun status Saraswati hanya seorang anak angkat yg dibawa langsung oleh Hayam wuruk semua anggota kerajaan tetap menyayangi Saraswati sepenuh hati karena bagi mereka Saraswati adalah cahaya yg dikirimkan oleh Sang Hyang widhi untuk majapahit karena itu semuanya merawat dan menerima Saraswati seperti keluarga kandung sendiri begitu pun untuk para sepupu Hayam wuruk anak dari bibinya itu Nyimas Indudewi dan Sri sudewi juga sangat menyayangi Saraswati dengan penuh ketulusan tak heran kalau kedekatan sudewi dan Saraswati bisa sedekat ini walaupun Saraswati dalam mode penyamarannya.
Paduka Sori melirik sekilas Saraswati, mencoba menakar dengan bijak kehadiran Dyah Laras. Meski banyak selir yang datang dan pergi silih berganti, tapi baru kali ini dirinya merasakan kehadiran seseorang yang tidak membawa beban persaingan kepadanya, melainkan sebuah ketulusan.
"Kau tidak seperti mereka yang lainnya... Seperti tak tertarik dengan kekuasaan atau posisi."
Saraswati tersenyum kecil. "Karena saya tak mencarinya, Paduka. Yang saya cari... hanya tempat untuk merasa hidup kembali."
Dan di pagi itu bermacam obrolan random masih berlanjut hingga waktu tak ditentukan.
oke biarkanmereka ngegibah kita lanjut ke scene lainnya(눈‸눈).
⋇⋆✦⋆⋇
Hari ini istana Majapahit bergemuruh menyambut kedatangan Sri Tribhuwana Wijayatunggadewi dan suaminya, Bhre Tumapel—Prabu Cakradhara. Bersama mereka, turut hadir putri mereka Dyah Nertaja, seorang gadis cerdas dan penuh wibawa.
Saraswati yang sedang berada di sisi taman mendadak berhenti melangkah ketika dari kejauhan melihat siluet sang ibunda—wanita yang selama ini hanya hadir dalam kenangan samarnya.
Namun ia tidak maju. Identitasnya masih harus tersembunyi.
"Ibunda, Ayahanda, Nyunda Nertaja..." bisiknya dalam hati, menahan gejolak perasaannya.
Di ruang balairung istana dalam, Hayam Wuruk menyambut kehadiran kedua orang tuanya berserta adik perempuannya itu. Suasana dalam ruangan tersebut tampak begitu hangat, namun percakapan formal segera menyusul.
"Kami dengar Majapahit semakin makmur, putraku," ujar Bhre Tumapel. "Namun kami juga mendengar bisik-bisik tentang seorang wanita baru yang menarik perhatian banyak bangsawan."
Hayam Wuruk tidak langsung menanggapi. Ia tahu, pembicaraan tentang Saraswati telah mulai menembus lapisan luar keraton.
Dyah Nertaja yang ikut dalam pertemuan, hanya menyimak tanpa banyak bicara. Dan pembicaraan orang tua dengan kakangnya itu berlanjut hingga sore hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆 [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]
Fiksi SejarahTahu ndak dek? Rasanya terlempar ke zaman nenek moyang? Jangan ya dek~~~ Perjalanan waktu yg dialami oleh seorang gadis yang tengah berlibur di kota kelahirannya yang penuh akan sejarah. Namun, karna rasa penasaran yg tinggi akan mitos yg berenda...
![𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆 [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]](https://img.wattpad.com/cover/368954316-64-k462211.jpg)