❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃
❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
Tepat seminggu Sarawasti kembali ke keraton Majapahit hari demi hari di istana tidak pernah benar-benar sepi, bahkan ketika pagi masih menyimpan embun.
Namun, ada yang berbeda sejak kehadiran Dyah Laras Anggraeni—wanita berparas teduh dengan gerak langkah yang halus dan pandangan mata yang seakan menyimpan cerita panjang.
Tak ada yang tahu dari mana asal persisnya. Kabarnya ia datang dari wilayah timur, membawa nama keluarga kecil ningrat yang hampir tak pernah terdengar. Tapi keahliannya dalam tembang klasik dan tari daerah membuatnya cepat diterima di lingkungan rumah dalam istana.
Setiap pagi, Dyah Laras Anggaraeni(mulai dari sini aku mau makai nama ini tapi waktu pas bareng hayam wuruk dan kawan2 aku makai nama Saraswati) akan memulai harinya di taman belakang, tempat para putri bangsawan biasa berlatih menari. Di situlah dia membimbing anak-anak muda istana menari dengan anggun. Gerak tubuhnya ringan, seperti angin. Tapi bukan itu yang membuat semua mata terpaku padanya. Melainkan cara ia mengajarkan—dengan lembut, tidak menggurui, dan penuh kesabaran.
Para pelayan pun diam-diam mulai menyukainya. Ia tak pernah bersikap sombong. Seringkali, ia malah ikut membantu menggulung tikar, merapikan kain, atau menyapa para juru masak dengan senyum tulus. Bagi sebagian orang, kehadiran Dyah Laras menjadi semacam kesejukan. Sebuah misteri yang menenangkan.
Namun tentu saja, di istana, tak ada yang benar-benar bisa menyembunyikan segalanya.
✧༺🍵༻✧
Tepat di siang bolong Saraswati mendapatkan panggilan dari paduka sori hanya untuk melakukan ritual ngerumpi ala ibu-ibu arisan.
"Nyimas Dyah Laras," panggil Paduka Sori dari balik tirai tipis saat melihat wanita itu tengah melintasi halaman.
Saraswati segera membungkuk sopan. “Paduka memanggil hamba?”
"Masuklah. Aku ingin minum teh bersamamu.”
Itu bukan permintaan. Tapi juga bukan perintah yang kaku. Sudah beberapa kali Paduka Sori mengundang Dyah Laras untuk minum teh atau menyaksikan lukisan matahari sore dari serambi belakang. Dan setiap pertemuan itu, entah mengapa, selalu meninggalkan rasa ganjil dalam dada Saraswati.
Paduka Sori mengisi dua cangkir dengan gerakan tangannya yang anggun namun juga terlihat tegas.
“Aku heran, Nyimas... mengapa wanita sehebat seperti dirimu ini belum mempunyai keinginan untuk menikah hingga sekarang?” tanpa adanya hujan badai petir menyambar Sudewi memberikan sebuah pertanyaan random secara tiba-tiba.
Saraswati terdiam sesaat, lalu menjawab, “Hamba... telah mencintai seseorang. Tapi dunia tak selalu memberi tempat bagi cinta tersebut untuk tumbuh berkembang dengan bebas.”
Paduka Sori menatapnya lama. Lalu ia tersenyum samar.
“Cinta yang tumbuh di tanah terlarang kadang justru yang paling abadi.”
Kalimat itu menghantam jantung Saraswati seperti panah yang diam-diam telah lama ditarik. Tapi ia hanya tersenyum kecil untuk menutupi kegugupannya.
Dan pada akhirnya obrolan random lainnya mereka berdua bahas hingga tak terasa matahari mau tutup mata.
"Sungguh menyenangkan berbicara denganmu,Nyimas Dyah Laras." ujar Sudewi yang sangat senang karna mendapatkan teman ngobrol.
"Suatu kehormatan bagi hamba apabila paduka prameswari senang akan kehadiran hamba ini." balas Saraswati tidak lupa dengan senyum bisnisnya.
Sudewi tersenyum tipis melihat kesopanan santunan dari wanita yang dibawa oleh suaminya ini. ntah kenapa Sudewi merasakan rasa nyaman seperti saat dia bersama dengan adik sepupunya yang tak lain tak bukan adalah Saraswati tapi takdir berkata lain diusia yang masih muda adik sepupunya itu harus kehilangan nyawanya.
"Terimakasih untuk hari ini, Nyimas. Dan alangkah baiknya kau kembali dan beristirahat."
"Sama-sama, Gusti Prameswari. kalau begitu hamba izin undur diri."
"silakan,"
Dengan begitu Saraswati meninggalkan bangunan pribadi Sudewi dan kembali ke biliknya sendiri.
Sudewi menatap kepergian Saraswati dengan pandangan menerawang seolah-olah memikirkan mungkin kalau rayi sepupunya masih hidup bisa jadi sekarang dia seusia dengan Saraswati.
"Rayi Saraswati nyunda sangat merindukan mu... apakah kau disana juga merindukan nyundamu ini?" guman Sudewi yang menatap hampa hamparan langit sore yang indah.
✧༺🌓༻✧
Malam hari pun telah tiba bulan purnama dan bintang-bintang tengah menghiasi langit yang indah. Di sebuah ruangan remang tempat Hayam Wuruk biasa beristirahat, Raja Majapahit itu tengah terduduk sendiri, memandangi ukiran kayu di dinding. Lalu sesaat kemudian terdengar pintu yang diketuk secara perlahan, ia tahu siapa yang datang ke bilik pribadi nya.
"Masuklah, rayi..."
mendengar perintah dari dalam Saraswati pun melangkahkan kakinya untuk memasukin bilik pribadi rakanya itu dirinya datang dalam balutan kebaya putih gading sungguh menawan dan semakin menambah kecantikannya. Langkahnya terasa ringan, namun tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
“Kau terlihat seperti dulu... saat pertama kali kulihat di tengah hutan, Rayi.” ucap Hayam lirih.
Saraswati duduk di hadapannya, tak menjawab. Hanya angin malam yang menjawab, membawa harum bunga melati yang bermekaran dari kebun luar.
“Apakah... kau bahagia berada di sini, walau bukan sebagai dirimu yang sesungguhnya?”
Saraswati menunduk. “Saras tidak menginginkan tahta,Raka. Tidak ingin sebuah kedudukan atau apapun. Yang Saras inginkan... hanya ingin dekat dengan raka prabu dan keluarga kerajaan yang lainnya itu lebih dari cukup.”
Mendengar jawaban dari rayinya itu Hayam wuruk lekas menggenggam tangan rayinya lalu berkata. “Dan kau akan tetap di sini. Walau dunia tak tahu siapa engkau sesungguhnya, tapi aku tahu. Itu sudah cukup untukku, Rayi.”
Selepas mengatakan itu Hayam wuruk membawa Sarawasti ke dalam pelukan hangatnya dan melanjutkan merajut cinta diantara keduanya. Kalian tidak usah risau karena mereka berdua susah resmi menikah pas perjalanan di chapter sebelumnya gue mager bikin scenenya wehehehhe<( ̄︶ ̄)>.
✧༺🗣️༻✧
Kesokan paginya di salah satu ruang pertemuan keputren para selir raja tengah berkumpul walaupun hanya ada beberapa selir, dan hubungan mereka sejauh ini terjaga dengan baik, bukan berarti segalanya berjalan mulus.
Salah satu selir termuda—Nyimas Rengganis wanita dari keluarga pejabat yang berambisi—mulai melirik kehadiran Dyah Laras dengan tatapan curiga.
“Kukira ia hanya penari biasa,” katanya pada salah satu pelayan, “tapi raja memperhatikannya lebih dari semestinya.”
“Apa Paduka Sori tahu?”
“Jika pun tahu, ia terlalu tenang untuk menunjukkannya. Tapi kita lihat saja... seberapa lama wanita asing itu bisa bertahan di tengah api yang tersembunyi.”
—
Sementara itu, Saraswati, Respati, dan Raras mulai lebih waspada. Mereka tahu meskipun rencana awal berjalan baik, tak semua orang menyambut kedatangan Dyah Laras dengan senyum ramah. Beberapa hanya menunggu waktu untuk menggali lebih dalam...
Di istana, setiap langkah adalah permainan. Dan Saraswati telah kembali ke medan yang dulu ia tinggalkan... kali ini bukan untuk merebut, tapi untuk berdamai dengan masa lalu.
Di sekelilingnya, politik, rasa, dan rahasia perlahan menari...
Tapi satu yang pasti: ia tidak sendiri.
Selama Hayam Wuruk, Mahapatih Gajah Mada, dan kedua anak angkatnya berdiri di belakangnya—Saraswati tidak akan pernah sendiri.
❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
‧͙⁺˚*・༓☾ Bersambung☽༓・*˚⁺‧͙
❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
KAMU SEDANG MEMBACA
𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆 [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]
Fiksi SejarahTahu ndak dek? Rasanya terlempar ke zaman nenek moyang? Jangan ya dek~~~ Perjalanan waktu yg dialami oleh seorang gadis yang tengah berlibur di kota kelahirannya yang penuh akan sejarah. Namun, karna rasa penasaran yg tinggi akan mitos yg berenda...
![𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆 [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]](https://img.wattpad.com/cover/368954316-64-k462211.jpg)