Chapter 15

115 7 1
                                        


❀❀
❀❀❀
❀❀

❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃

❀❀
❀❀❀
❀❀












Tepat seminggu Sarawasti kembali ke keraton Majapahit hari demi hari di istana tidak pernah benar-benar sepi, bahkan ketika pagi masih menyimpan embun.

Namun, ada yang berbeda sejak kehadiran Dyah Laras Anggraeni—wanita berparas teduh dengan gerak langkah yang halus dan pandangan mata yang seakan menyimpan cerita panjang.

Tak ada yang tahu dari mana asal persisnya. Kabarnya ia datang dari wilayah timur, membawa nama keluarga kecil ningrat yang hampir tak pernah terdengar. Tapi keahliannya dalam tembang klasik dan tari daerah membuatnya cepat diterima di lingkungan rumah dalam istana.

Setiap pagi, Dyah Laras Anggaraeni(mulai dari sini aku mau makai nama ini tapi waktu pas bareng hayam wuruk dan kawan2 aku makai nama Saraswati) akan memulai harinya di taman belakang, tempat para putri bangsawan biasa berlatih menari. Di situlah dia membimbing anak-anak muda istana menari dengan anggun. Gerak tubuhnya ringan, seperti angin. Tapi bukan itu yang membuat semua mata terpaku padanya. Melainkan cara ia mengajarkan—dengan lembut, tidak menggurui, dan penuh kesabaran.

Para pelayan pun diam-diam mulai menyukainya. Ia tak pernah bersikap sombong. Seringkali, ia malah ikut membantu menggulung tikar, merapikan kain, atau menyapa para juru masak dengan senyum tulus. Bagi sebagian orang, kehadiran Dyah Laras menjadi semacam kesejukan. Sebuah misteri yang menenangkan.

Namun tentu saja, di istana, tak ada yang benar-benar bisa menyembunyikan segalanya.

✧༺🍵༻✧
T

epat di siang bolong Saraswati mendapatkan panggilan dari paduka sori hanya untuk melakukan ritual ngerumpi ala ibu-ibu arisan.

"Nyimas Dyah Laras," panggil Paduka Sori dari balik tirai tipis saat melihat wanita itu tengah melintasi halaman.

Saraswati segera membungkuk sopan. “Paduka memanggil hamba?”

"Masuklah. Aku ingin minum teh bersamamu.”

Itu bukan permintaan. Tapi juga bukan perintah yang kaku. Sudah beberapa kali Paduka Sori mengundang Dyah Laras untuk minum teh atau menyaksikan lukisan matahari sore dari serambi belakang. Dan setiap pertemuan itu, entah mengapa, selalu meninggalkan rasa ganjil dalam dada Saraswati.

Paduka Sori mengisi dua cangkir dengan gerakan tangannya yang anggun namun juga terlihat tegas.

“Aku heran, Nyimas... mengapa wanita sehebat seperti dirimu ini belum mempunyai keinginan untuk menikah hingga sekarang?” tanpa adanya hujan badai petir menyambar Sudewi memberikan sebuah pertanyaan random secara tiba-tiba.

Saraswati terdiam sesaat, lalu menjawab, “Hamba... telah mencintai seseorang. Tapi dunia tak selalu memberi tempat bagi cinta tersebut untuk tumbuh berkembang dengan bebas.”

Paduka Sori menatapnya lama. Lalu ia tersenyum samar.

“Cinta yang tumbuh di tanah terlarang kadang justru yang paling abadi.”

Kalimat itu menghantam jantung Saraswati seperti panah yang diam-diam telah lama ditarik. Tapi ia hanya tersenyum kecil untuk menutupi kegugupannya.

Dan pada akhirnya obrolan random lainnya mereka berdua bahas hingga tak terasa matahari mau tutup mata.

"Sungguh menyenangkan berbicara denganmu,Nyimas Dyah Laras." ujar Sudewi yang sangat senang karna mendapatkan teman ngobrol.

"Suatu kehormatan bagi hamba apabila paduka prameswari senang akan kehadiran hamba ini." balas Saraswati tidak lupa dengan senyum bisnisnya.

𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆  [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang