❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃
❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
Mentari pagi baru saja menembus celah-celah pepohonan di hutan barat daya istana Majapahit. Disaat itu juga terdapat kereta kecil yang berhenti tepat di depan sebuah pintu gerbang lama hampir tak terlihat karena tertutup ilalang dan semak.
Di dalam kereta itu, duduk seorang wanita muda yang berbalut kebaya keemasan dengan selendang panjang berwarna coklat tanah. Wajahnya teduh, namun sorot matanya penuh akan perhitungan. Dialah Dyah Laras Anggraeni—atau yang sesungguhnya, Saraswati, yang tengah dalam mode penyamarannya dengan tujuan kembali ke tempat yang pernah ia tinggalkan beberapa tahun silam.
Disisi samping duduklah putri angkatnya, Raras, yang tampak tenang, namun telapak tangannya tak bisa menyembunyikan sedikit kegelisahannya.
"Semua akan baik-baik saja, Ibunda," bisiknya lembut.
Saraswati hanya mengangguk kecil. Ia menoleh ke arah luar jendela, melihat sosok Mahapatih Gajah Mada dan Respati yang tengah berbincang dengan penjaga gerbang.
Beberapa detik kemudian, salah satu penjaga itu memberi isyarat. Gerbang tua itu terbuka perlahan... nyaris tak mengeluarkan suara, seolah menyambut kembali kehadiran seseorang yang seharusnya tak pernah pergi.
Kereta kencana itu secara perlahan bergerak maju, memasuki lorong sunyi yang mengarah langsung ke area belakang dalam kompleks istana—tempat yang dulu pernah menjadi rumah Saraswati, sebelum segalanya menjadi berubah.
✧༺👑༻✧
Di dalam balairung sebuah puri megah tempat istirahat para wanita kerajaan, Paduka Sori, permaisuri utama Hayam Wuruk, tengah menerima laporan dari pelayan utamanya.
"Yang Mulia, tamu dari negeri seberang telah tiba. Namanya Dyah Laras Anggraeni. Ia membawa persembahan kesenian dan... tampaknya memiliki latar keluarga ningrat."
Sri Sudewi—atau yang kini bergelar Paduka Sori—menoleh perlahan. Matanya teduh. Tak ada sorot iri, tak ada kilat cemburu. Hanya rasa penasaran yang ia simpan dalam.
“Bawa dia untuk menemuiku. Aku ingin melihat sendiri siapa wanita yang mampu membuat gusti Prabu tampak begitu... hidup sejak kemarin.” Ujar Paduka sori yang penasaran akan kedatangan seorang wanita yang di undang langsung oleh suaminya itu.
✧༺🌸༻✧
Saraswati, dalam identitas barunya sebagai Dyah Laras Anggraeni, melangkah perlahan ke ruang pertemuan. Di belakangnya, Raras mendampingi dengan sikap tenang dan penuh hormat.
Di ruangan itu telah menunggu seorang wanita berpakaian kebaya anggun berwarna biru langit, berhias ukiran bunga melati di pinggirannya. Itulah Paduka Sori, permaisuri utama Raja Majapahit—Sri Sudewi.
Paduka Sori memandang tamunya dari kejauhan, dengan tatapan penuh ketenangan namun tajam. Sekilas ia sempat mengernyit... ada sesuatu dari wanita ini yang terasa familiar, namun belum bisa ia jangkau.
“Dyah Laras Anggraeni?” tanyanya singkat namun sopan.
Saraswati menundukkan tubuh sedikit. “Benar, Paduka. Hamba datang membawa seni dan hormat bagi istana Majapahit.”
Paduka Sori mempersilakan duduk. Ia menatap dalam-dalam, lalu berkata, “Seni? Apa yang menjadi keahlianmu, nyimas Dyah Laras?”
“Hamba pandai merangkai cerita dan meronce sebuah tarian,” jawab Saraswati lembut. “Juga melukis kisah dalam bentuk tembang.”
Paduka Sori tersenyum kecil. “Menarik sekali. Di istana ini, seni bukan hanya untuk hiburan... tapi juga bagian dari jiwa kerajaan.”
Ia menyandarkan sedikit tubuhnya, lalu melanjutkan, “Raja sendiri tampaknya sangat memperhatikan kedatanganmu. Apakah kau dan beliau pernah bertemu sebelumnya?”
Saraswati menahan nafas sejenak. Tapi ia tidak goyah.
“Hamba hanya pernah melihat beliau dari jauh. Mungkin karena itu... hamba merasa terhormat atas sambutan yang hamba terima.”
Paduka Sori mengangguk. Ia belum menaruh curiga, namun rasa penasarannya tetap tumbuh perlahan. Perempuan ini—Laras Anggraeni—terlalu tenang. Terlalu... akrab dengan suasana istana.
Namun sebagai permaisuri, ia tahu kapan harus bertanya... dan kapan harus menunggu.
✧༺👑༻✧
Di ruangan pribadi milik raja besar Majapahit terdapat tempat perundingan kecil biasa digelar oleh Hayam Wuruk, mahapatih Gajah Mada, dan si kembar Respati & Raras yang tengah berkumpul bersama Saraswati. Raras telah kembali mengenakan pakaian tugasnya sebagai pengawal perempuan rahasia kerajaan.
Hayam Wuruk menatap semua orang yang hadir, lalu berbicara dalam nada pelan.
“Langkah pertama berjalan dengan baik. identitas Dyah Laras Anggraeni sudah diterima dengan wajar di antara para penghuni istana. Namun langkah berikutnya akan lebih sulit.”
Mahapatih Gajah Mada mengangguk. “Betul, gusti prabu. Beberapa penasihat senior pasti akan mempertanyakan asal-usul Dyah Laras jika beliau terlalu sering muncul di hadapan raja.”
Respati, dengan sikap tegapnya, ikut bicara, “Kami siap berjaga dari balik bayang, Ayahanda. Tak akan kubiarkan siapa pun mencurigai Ibunda.”
Saraswati tersenyum kecil. “Aku tidak ingin menjadi gangguan di dalam istana ini. Biarkan aku cukup sebagai seniman. Jika nanti waktunya tiba, biarlah kebenaran terungkap... dengan cara yang tidak menyakiti siapa pun.”
Hayam Wuruk memandang orang yang dia cintainya itu dengan penuh kebanggaan. “Aku tidak akan membiarkanmu hanya jadi bayangan, rayi. Tapi kau benar... untuk sekarang, kita harus sabar. Segalanya harus perlahan, namun pasti.”
Mahapatih Gajah Mada pun berkata mantap, “Maka kita mulai. Hamba akan mulai meyusun jadwal agar Dyah Laras tampil dalam perjamuan seni kerajaan tujuh hari lagi. Dari sana... kita perkuat posisinya.”
Semua di ruangan itu mengangguk. Maka rencana berjalan. Perlahan. Diam-diam. Namun dengan langkah pasti untuk mengembalikan Saraswati ke tempat yang layak ia duduki.
❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
‧͙⁺˚*・༓☾ Bersambung☽༓・*˚⁺‧͙
❀
❀❀
❀❀❀
❀❀
❀
KAMU SEDANG MEMBACA
𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆 [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]
Historical FictionTahu ndak dek? Rasanya terlempar ke zaman nenek moyang? Jangan ya dek~~~ Perjalanan waktu yg dialami oleh seorang gadis yang tengah berlibur di kota kelahirannya yang penuh akan sejarah. Namun, karna rasa penasaran yg tinggi akan mitos yg berenda...
![𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆 [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]](https://img.wattpad.com/cover/368954316-64-k462211.jpg)