Side story 2 End

202 8 2
                                        

Kisah ini adalah karya fiksi yang terinspirasi oleh peristiwa sejarah nama, karakter, dan lokasi yang disebutkan dalam cerita adalah hasil imajinasi penulis dan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan individu atau kejadian nyata. Jadi diharapkan reader-san enjoy untuk membaca karya fiksi ini.


❀❀
❀❀❀
❀❀

❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃

❀❀
❀❀❀
❀❀


  Pagi hari telah datang sang batara belum terlalu meninggi, kabut masih menari di antara jendela kamar. Saraswati bangun lebih cepat dari biasanya tapi tidak karena mimpi. Ntah kenapa belakangan ini perutnya terasa mual, lidahnya juga terasa pahit. Sudah tiga hari ini seperti itu.

Ia duduk di depan cermin, wajahnya pucat. Tapi ada yang aneh… bukan sakit. Lebih seperti… sebuah pertanda.

Saat Mahendra masuk dengan nampan berisi sarapan untuk dirinya, Saraswati langsung menutup mulut. karena merasa mual saat mencium aroma telur rebus sukses bikin perutnya jungkir balik.

"Dinda, kamu kenapa?" Mahendra mendekat, panik. "Ini baru telur rebus loh, belum aku bawakan rawon."

Saraswati menatapnya lama… lalu tersenyum pelan sambil berkata. "Aku berpikir… sebaiknya kita harus ke dokter kandungan, Kangmas."

Mahendra menatap bingung otaknya belum siap menyerap makna dari setiap kata-kata yang terucap dari bibir kesukaannya itu.

Saraswati tertawa pelan melihat tingkah konyol suaminya itu tapi ya pada akhirnya mereka akan pergi ke Rumah sakit ternama milik keluarga suaminya itu.

   Beberapa jam kemudian mereka pun telah berada di dalam ruangan dokter kandungan.

Dokter muda yang ramah menempelkan alat ke perut Saraswati, sambil tersenyum penuh arti. Layar monitor menunjukkan detak kecil—dua titik cahaya berdetak cepat, berdampingan.

Saraswati menutup mulut. Matanya basah. Mahendra membeku, tidak mengerti.

“Selamat, Bu. Pak… bukan cuma satu kantong janin saja, tapi langsung dua. Dengan kata lain selamat Anda akan mendapatkan anak kembar sekaligus.”

.

.

.

"HAH?!" Mahendra terkejut akan kabar tersebut yang membuatnya hampir jatuh dari kursi.

Dokter hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol dari atasannya ini. "Iya Pak, dua janin. Dan semuanya sehat."

Mahendra mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya. “Ya Tuhan... apakah engkau serius ya...? langsung memberikan hamba dua anugerah sekaligus.”

Saraswati tertawa, air matanya jatuh pelan. Mahendra menggenggam tangannya erat—lalu mencium kening istrinya dengan lama. “Terima kasih, Dinda… Karena kau sudah menjadi rumah buat calon anak kita berdua.”


Sungguh kebahagiaan yang amat manis inilah hadiah yang dijanjikan oleh sang Hyang widhi atas karma baik di masa lalu keduanya.

---

  Beberapa bulan telah berlalu selepas kabar kehamilan Saraswati diketahui. Seluruh keluarga besar sangat bahagia mendengar kabar tersebut bahkan dari kedua pihak dengan besar-besaran mengadakan pesta syukuran yang banyak mengundang partner bisnis dari kedua pihak keluarga besar Mahendra dan Saraswati.

𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆  [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang