Chapter 19

78 5 0
                                        

Kisah ini adalah karya fiksi yang terinspirasi oleh peristiwa sejarah nama, karakter, dan lokasi yang disebutkan dalam  cerita adalah hasil imajinasi penulis dan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan individu atau kejadian nyata. Jadi diharapkan reader-san enjoy untuk membaca karya fiksi ini.


❀❀
❀❀❀
❀❀

❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃

❀❀
❀❀❀
❀❀



   Di antara selir-selir yang menghiasi istana Majapahit, selir Rengganis dikenal sebagai sosok yang cantik, lihai, dan penuh pesona. Ia adalah satu-satunya selir yang memiliki seorang anak dari Hayam wuruk dia jugalah selir yang paling lama berada di sisi Hayam Wuruk sebelum hadirnya para wanita baru — termasuk Dyah Laras yang kini perlahan mencuri atensi sang Raja... dan yang lebih mencemaskan, perhatian dari Paduka Sori juga.

"Paduka sori tak akan mengabaikan hal ini selamanya," bisik Rengganis kepada dirinya sendiri saat berdiri di teras biliknya, memandang taman istana tempat Saraswati kerap duduk membaca. "Wanita itu datang entah dari mana... namun kini semua mata tertuju padanya." ujar nya sambil meremas kipas ditangannya

---

Selir Rengganis mulai mengatur langkah. Ia tidak sebodoh itu untuk menyerang secara langsung tanpa rencana yang matang. Justru, ia lebih suka bermain dalam bayangan. Ia memanggil salah satu dayang pribadinya yang paling setia, Arum.

"Aku ingin kau mendekati salah satu pelayan pribadi Dyah Laras. Namanya Ningrum. Cari tahu apa pun tentang wanita itu... dari asalnya, hingga apakah dia punya kelemahan."

"Sendiko dawuh, Gusti ayu."

Dalam hitungan hari, Selir Rengganis mulai mengumpulkan potongan-potongan informasi. Ia tahu bahwa Dyah Laras tinggal di bilik yang disiapkan khusus, sering dikunjungi oleh kedua anak angkatnya itu, dan tampaknya memiliki akses khusus pada dapur kerajaan serta taman pribadi.

"Diperlakuan seperti seorang bangsawan... padahal gelarnya saja tak jelas," geramnya.

---

Untuk mengawali rencana jahatnya selir Rengganis memutuskan untuk bertindak. Ia merancang rencana licik mengirimkan sebuah minyak rambut beraroma bunga kenanga sebagai hadiah dari ‘pengagum rahasia’. Minyak itu sudah dicampur dengan ramuan yang menyebabkan pusing dan lemah tubuh secara perlaha.ntidak mematikan, tetapi cukup membuat seseorang tak berdaya. Ya itulah awal yang bagus untuk memperingati saingannya itu.

"Biarkan dia tampak sakit... dan lihat siapa yang benar-benar peduli padanya," gumam selir Rengganis dingin.

Namun sesaat kemudian rencana yang dia susun tidak berjalan semulus dengan yang dia pikirkan.

Salah satu anak angkat Saraswati yaitu Respati, tanpa sengaja mencium aroma minyak itu ketika sedang berkunjung ke bilik ibundanya, ia langsung merasa aneh.

"Kenapa aroma minyak rambut ini tercium tajam seperti ini? Bukan seperti minyak kenanga biasa," ujarnya sambil mengernyit.

Raras mencium juga. "Sepertinya... ada sesuatu yang tidak beres, Raka."

Akhirnya, mereka sepakat menyerahkan minyak itu ke pengawal pribadi Saraswati — dan laporan itu pun langsung sampai ke telinga Gadjah Mada.

---

Di barak militer Mahapatih Gadjah Mada menerima botol kecil itu dia mengamatinya dengan saksama. Ia membawa minyak tersebut ke juru tabib istana yang ahli dalam racikan wewangian.

"Hmm... Ada serbuk dari akar nisa dan bunga manis karsana. Ini racikan kuno, digunakan dalam perang gerilya... untuk melumpuhkan lawan sebelum bertarung," jelas sang tabib.

kedua mata Mahapatih Gadjah Mada menyipit tajam lalu berkata. "Ada yang sengaja ingin mencelakai nyimas Dyah Laras."

Dengan begitu Mahapatih Gadjah Mada mendatangi junjungannya dan menjelaskan apa yang tengah terjadi.

---

Di tengah malam Hayam wuruk didatangin oleh Mahapatih kepercayaan dia dengan seksama mendengarkan keterangan kejadian yang menimpa rayinya itu. Sungguh dia tak menyangka hal yang dia takutkan menjadi kenyataan.

Sebagai raja Majapahit Hayam wuruk tidak bisa langsung mengumumkan kemarahannya. Ia tahu, bila ia salah langkah, maka peristiwa ini bisa saja memunculkan ketegangan diantara para selir dan bahkan membahayakan posisi Sudewi sebagai Ratu.

Namun, ia akan tetap memerintahkan pengamanan ekstra untuk Saraswati.

Dan malam itu, diam-diam ia datang ke bilik Saraswati.

"Rayi, ada orang yang tak senang melihatmu di sini," bisiknya sembari menggenggam jemari wanita itu.

Saraswati menatapnya tenang. "Aku tidak datang untuk mencuri apa pun, Raka. Aku hanya ingin... pulang."

Hayam wuruk menghela nafas berat sambil berusaha menenangkan rayi yang dia cintai itu. (oh iya episode awal2 kan Saraswati udah melakukan ritual darah tuh secara kgk langsung jdi saudara kandung nya hayam sama Nertaja kn? tpi semenjak balek ke masa depan raga yg dulu dia rasukin dah tiada udah dikremasikan jdi bisa dibilang Saraswati sekarang  ntu menggunakan raga aslinya sendri  yang tak punya ikatan darah sedikit sama keluarga kerajaan jadi dia bisa berhubungan asmara sama hayam)

---

Gagal dengan rencana lewat minyak rambut, Selir Rengganis tidak berhenti begitu saja. Dengan pongahnya dia mulai menyebarkan bisik-bisik halus di antara para dayang, menyebarkan rumor buruk bahwa Dyah Laras mungkin berasal dari kalangan istana yang sengaja disembunyikan.

"Siapa tahu dia sebenarnya anak bangsawan yang jatuh miskin? Atau mungkin selir lama yang dulu diusir?"

Bisik-bisik itu sampai ke telinga Bhre Wengker — yang justru semakin tertarik untuk menyelidiki lebih dalam.

---

Sementara itu, Sudewi justru merasa makin terikat secara emosional dengan Laras. Ia bahkan pernah berkata:

"Kadang aku merasa seperti mengenalmu sejak dulu. Seperti... kau adalah bagian dari keluargaku."

Saraswati hanya bisa tersenyum getir.

Dan di luar dinding istana, badai mulai mengumpul. Intrik, kecemburuan, dan masa lalu yang belum tuntas — semuanya sedang menuju titik ledaknya.

Namun satu hal pasti...

Dyah Saraswati tak akan lari lagi. Kini, ia akan berdiri — tak hanya sebagai Laras yang sederhana, tapi sebagai perempuan yang menolak dikalahkan oleh masa lalu dan tipu daya.


❀❀
❀❀❀
❀❀

‧͙⁺˚*・༓☾ Bersambung☽༓・*˚⁺‧͙

❀❀
❀❀❀
❀❀

𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆  [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang