Epilog

190 5 0
                                        

Kisah ini adalah karya fiksi yang terinspirasi oleh peristiwa sejarah nama, karakter, dan lokasi yang disebutkan dalam cerita adalah hasil imajinasi penulis dan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan individu atau kejadian nyata. Jadi diharapkan reader-san enjoy untuk membaca karya fiksi ini.


❀❀
❀❀❀
❀❀

❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃

❀❀
❀❀❀
❀❀



  Hening. Senja perlahan menggantikan siang. Langit Majapahit berwarna jingga keemasan, menyapu taman belakang istana yang dipenuhi harum bunga cempaka dan kenanga yang dulu ditaman langsung oleh Dyah Saraswati.

Air di kolam teratai memantulkan bayangan seorang wanita yang tengah duduk bersimpuh di pelataran batu, mendekap anak perempuannya yang masih berusia 5 tahun dalam pangkuannya.

Paduka Sori, yang kini menyandang gelar Ibu Permaisuri, tampak berbeda dari sosok kuat yang dikenal rakyat. Matanya teduh, senyumannya dalam, namun sarat makna. Di hadapannya duduk seorang gadis kecil, mengenakan selendang ungu muda, dengan mata bundar penuh rasa ingin tahu Dyah Kusumawardhani.

"Ibunda, kenapa setiap pagi Ibu selalu datang ke taman ini?"

"Karena di sinilah... semua yang berharga pernah ada."

"Semua yang berharga itu seperti apa, Ibunda?"

Paduka Sori terdiam sejenak, matanya menerawang ke air kolam, ke tempat sebatang pohon cempaka tumbuh megah. Kemudian ia menarik napas panjang... dan memulai kisah yang telah ia simpan dalam diam selama bertahun-tahun.

"Dulu sekali, sebelum kau lahir,putriku. Ada seorang wanita yang bukan dari istana, tapi seluruh istana pernah ia jaga dengan hidupnya..."

Dan begitu kisah itu mengalir... seolah-olah waktu berputar kembali.

Paduka sori pun mulai menceritakan sosok siapa sesungguhnya Saraswati - seorang perempuan dengan keberanian lebih besar dari tubuhnya, dan cinta yang lebih luas dari takhta. Tentang perjuangannya melindungi istana di malam paling gelap, saat darah dan bayangan mengancam warisan Majapahit.

Paduka sori menggambarkan bagaimana sosok Saraswati berdiri sendirian di depan pintu paviliun, menyambut tombak kematian demi menjaga kehidupan yang ada di dalam - kehidupan sang bayi yang kini duduk di hadapannya.

"Dia bukan hanya seorang penjaga, dia adalah cahaya. Dia bukan ibu kandungmu... tapi dia menyelamatkanmu seperti anaknya sendiri."

Kusumawardhani menyandarkan kepala kecilnya di dada ibunya. Hening.

"Apa dia sakit, Ibu?"Tanya Kusumawardhani

"Tidak,Putriku. Dia... sudah pergi. Tapi tidak pernah benar-benar hilang dalam ingatan semua orang."

---

Waktu berlalu dalam kisah yang diceritakan dengan lirih. Tentang Respati dan Raras - anak-anak yang dibesarkan dalam cinta, dan kini menjadi penjaga Majapahit. Tentang Hayam Wuruk, sang Raja Agung, yang kehilangan cinta namun tak pernah berhenti mencintai sosok belahan jiwanya yang lama tiada. Tentang Saraswati, bukan hanya sebagai perempuan, tapi sebagai jiwa yang menjahit luka-luka kerajaan dengan kasih sayang, bukan dengan belah pedang.

"Bahkan Ayahmu, Prabu Hayam Wuruk... tidak pernah benar-benar pulih dari luka kepergian belahan jiwanya. Namun, dia belajar bahwa cinta tak perlu memiliki... cukup untuk diwariskan."

Dan di bawah bayang-bayang pepohonan yang tumbuh dari tanah berlumur darah dan airmata, Paduka Sori memeluk anaknya lebih erat lagi.

"Ibunda ingin kamu tahu,nak... Majapahit tidak dibangun hanya oleh pedang, tapi oleh perempuan-perempuan hebat seperti dia dan penerus terdahulu."


Angin berhembus lembut. Kelopak kenanga jatuh ke pangkuan Kusumawardhani. Paduka Sori tersenyum, meski ada genangan air mata di pelupuk matanya.

"Kalau kau besar nanti, dan duduk di singgasana, jangan lupa namanya. Karena Majapahit yang akan kau pimpin... adalah rumah yang dia bangun dengan darahnya."

Sang gadis kecil mengangguk, menatap kolam tempat bunga teratai mengambang tenang.

"Kalau ananda boleh tahu siapakah nama pahlawan wanita itu, Ibunda?"

Paduka Sori memejamkan mata sejenak, lalu menjawab:

"Namanya... Dyah Saraswati Laras Anggraeni. Dan di mana pun cinta dan keberanian hidup... di sanalah dia tinggal."


Di kejauhan, lonceng kuil berdentang pelan. Langit telah berubah ungu tua. Matahari tenggelam, tapi cahaya di taman itu tetap bersinar - tidak dari matahari, tapi dari kenangan dan cinta yang diwariskan.

Saraswati tidak mati. Ia hidup di cerita. Di darah para pewaris. Di napas Majapahit.

Dan sang putri kecil... tersenyum. Tangannya menggenggam bunga kenanga yang jatuh.

"Aku akan jadi seperti dia, Ibunda."

Paduka Sori menatap langit yang mulai berbintang.

"Tidak, anakku. Kau tak perlu menjadi seperti dia cukup jadilah dirimu sendiri. Tapi hatimu akan selalu menyimpan jejaknya."

Tirai ditutup.

- Tamat, tapi tak pernah selesai. -

𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆  [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang