Chapter 18

82 6 0
                                        

Kisah ini adalah karya fiksi yang terinspirasi oleh peristiwa sejarah nama, karakter, dan lokasi yang disebutkan dalam  cerita adalah hasil imajinasi penulis dan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan individu atau kejadian nyata. Jadi diharapkan reader-san enjoy untuk membaca karya fiksi ini.


❀❀
❀❀❀
❀❀

❃.✮:▹Happy reading◃:✮.❃

❀❀
❀❀❀
❀❀




Hari ini, Tribhuwana Tunggadewi yang tengah bersantai di bilik pribadinya bersama Dyah Nertaja, ia melontarkan satu pertanyaan ringan yang ternyata menyimpan dalamnya kepekaan seorang ibu:

"Putriku Nertaja, kemarin saat kau melewati taman, kau berjumpa dengan siapa saja, Nak?"

"Ananda ada bertemu dengan seorang wanita, Ibunda. Dia mengenalkan dirinya sebagai Dyah Laras Anggraeni seorang bangsawan kecil dari negri sebrang yang di boyong oleh kangmas prabu untuk dijadikan seorang seniman istana. Bagi ananda yang bercakap sebentar dengannya Dyah Laras ini orangnya... hangat dan bersahaja. Tidak seperti kebanyakan selir istana lainnya,Ibunda. Dan entah kenapa Dyah Laras mengingatkan ku akan sosok rayi Saraswati,Ibunda." Jelas panjang lebar Dyah Nertaja dengan pandangan penuh kehilangan sosok rayinya itu.

Tribhuwana diam sesaat, lalu memejamkan mata. Nama itu menggetarkan hatinya, seolah angin ada masa lalu menyapa samar.

"Laras..." bisiknya. "Mungkin cuma kebetulan saja,Putriku. Jangan bersedih apakah kau ingin rayimu yang dialam sana ikut bersedih?" Ujar Tribhuwana Tunggadewi sambil mengelus lembut surai hitam putrinya itu.

"Tidak,Ibunda. Ananda hanya merindukan rayi Saraswati."

"Kalau begitu maka doakan dia, Putriku."

"Sendiko dawuh, ibunda. Pasti akan Ananda lakukan." jawab Dyah Nertaja dengan binar dimatanya.

Tribhuwana Tunggadewi tersenyum lembut dan melanjutkan kegiatan memanjakan putrinya ini. Walaupun, usia putri sudah layak untuk menjalankan sebuah pernikahan tapi bagi ia dan suaminya putrinya tetaplah gadis kecil kesayangan mereka begitu pun dengan putri angkat mereka yang telah lama tiada.

'Entah apa yang Sang Hyang Widhi rencanakan... semoga takdir ini membawa keberkahan' Batin Tribhuwana Tunggadewi.

---

Di lain sisi hubungan Paduka Sori dan Saraswati tumbuh semakin erat. Keduanya sering terlihat bersama, membicarakan soal taman, seni, hingga filsafat Jawa. Paduka Sori, yang sebelumnya dikenal cukup selektif terhadap para wanita istana, justru tampak terbuka kepada Dyah Laras.

Di salah satu percakapan, Paduka Sori berkata, "Andai aku mengenalmu lebih awal, mungkin banyak hal bisa berubah,nyimas."

Saraswati hanya tersenyum. "Setiap hal terjadi pada waktunya, Paduka."

"Jangan panggil aku Paduka terus. Bukankah kita sudah seperti saudara?"

Saraswati tertunduk, dadanya terasa sesak. "Maaf Paduka sori, bukan maksud menolak keinginan jenengan tapi derajat dan kasta hamba tidak bisa disejajarkan jadi mohon ampun biarkan hamba untuk seperti ini untuk menjaga keharmonisan istana."

Sri Sudewi terdiam ia pun menghela nafas akan dinding tipis yang Dyah Laras bangun. Padahal selama ini dia mengira hubungan diantara mereka berdua telah maju tapi ternyata kebalikannya. Dirinya tak bisa merobohkan dinding yang tak kasap mata yang sengaja dibangun oleh Saraswati.

𝕰𝖓𝖎𝖌𝖒𝖆  [𝚃𝚊𝚖𝚊𝚝]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang