Pemandangan langka. Seorang Rega tertawa terbahak-bahak mendengar lawakan salah satu siswa pelatihan. Laki-laki duduk lesehan bersama yang lainnya.
Fania dan Zuhroh memandangi pria itu dari kejauhan. Bergidik. Mereka yakin sekali, salah satu saraf otak laki-laki itu terputus.
"Gila, Fan. Si Mayor kayaknya lupa jadi dirinya sendiri deh. Atau sifat dinginnya lupa dia bawa." celetuk Zuhroh, bulu kuduknya sampai berdiri melihat Rega tertawa cerah sekali.
Fania balas tak kalah heran. "Lo yakin itu Rega yang kita kenal?"
"Aku juga nggak yakin."
Fania terlonjak. Kaget betulan ketika Hamdan tiba-tiba telah berdiri di sisinya. Mengangguk-angguk sembari turut memandangi Rega.
"Nyambung aja lo kayak kabel!"
Hamdan terkikik geli. "Galak banget pagi-pagi. Senyum dulu coba."
Fania mendengus. Zuhroh berdecak, mencoba mengusir Hamdan. "Sana lo, Hamdan. Lo tuh nggak diajak."
"Kok kau begitu, Cebong?" Hamdan menunjukkan wajah memelas. "Aku kan juga sedang terkaget-kaget melihat kawanku yang biasa datar itu jadi cekikikan tidak wajar."
Fania yang telah kepo berat langsung saja menembak pertanyaan. "Dia kenapa tuh?"
Hamdan diam sejenak. Lalu memutuskan untuk menggeleng usai menghembuskan nafas.
"Hamdan!" Rega memanggil, alisnya naik satu menyadari keberadaan yang lainnya. "Sedang apa di sana? Ke sini!" Dia tersenyum.
Hamdan membeku. Wajahnya pucat betulan. Tangannya menoel lengan Fania. "Coba pukul saya." katanya.
Tetapi baik Fania atau Zuhroh turut terserang kasus yang sama. Kaget setengah mati! Seorang Rega mau repot-repot tersenyum?!
"Hamdan, gue yakin temen lo lagi kerasukan." komentar Zuhroh, bukannya terpesona dia malah ngeri banget!
Senyumnya nakutin!
Hamdan mengangguk-angguk. "Lo berdua jangan deket-deket Rega saat ini, ya." pesannya.
Kondisi ini... Dulu sepertinya pernah terjadi. Hamdan meneguk ludah. Ini kacau. Hamdan memijat batang hidungnya, lalu memutuskan untuk menyusul kawannya itu.
"Mayor Rega. Saya ingin bicara." Hamdan berkata dengan formal di hadapan para prajurit.
Rega sejujurnya enggan berdiri, tapi dia tahu apa yang hendak dibicarakan Hamdan. Sepasang alis Rega menyatu saat Hamdan mengajaknya keluar dari Markas, menaiki bukit sedikit lalu keluar jalur menuju hutan belantara.
Merasa sudah aman dan pas. Hamdan berhenti melangkah, berbalik menatap Rega lekat. "Keluarkan."
Rega tak menyahut. Wajahnya mulai berubah, seperti biasanya. Tidak berekspresi. Nyaris mengerikan saat ini.
"Lampiaskan padaku."
Tatapan mata Rega pelan-pelan menjadi setajam elang. Tangannya terkepal. "Apa maksudmu, Hamdan?"
Hamdan menyeringai. "Kau pikir aku tidak tahu? Keluarkan saja semuanya perasaanmu!" Dia menepuk-nepuk dadanya. "Aku lah satu-satunya orang yang bisa mengimbangimu!"
Rega mendengus. Tetapi bara api di matanya meletup-letup. "Jangan menyesal."
"Bayar aku dengan cerita." balas Hamdan.
Rega tidak menjawab lagi, dia sudah maju, menyerang Hamdan yang telah di posisi siap, mantap membuat kuda-kuda, menyambut pukulan keras Rega.
"Bangsat." desis Rega.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di bawah Pintu Pengabdian
EspiritualFania membenci Ayah nya karena tidak pernah ada untuknya, tetapi selalu berdiri paling depan untuk merah putih. Sedangkan Zuhroh tidak bersahabat dengan pekerjaan Papanya yang merupakan abdi negara, Zuhroh terlukai karena dari situ lah awal mula kes...
